Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

PSGS: Fenomena Gempa Kembar Venezuela, Indonesia Punya Potensi Serupa

PSGS: Fenomena Gempa Kembar Venezuela, Indonesia Punya Potensi Serupa
Direktur Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) Dr. Ardy Arsyad. (IDN Times/Aan Pranata)
Intinya Sih
  • Venezuela diguncang dua gempa besar berkekuatan Mw 7,2 dan 7,5 hanya berselang 39 detik, menciptakan fenomena langka bernama earthquake doublet dengan durasi guncangan sangat panjang.
  • PSGS menilai guncangan beruntun meningkatkan risiko keruntuhan bangunan karena struktur yang sudah melemah akibat gempa pertama harus menahan beban tambahan dari gempa kedua.
  • Indonesia dinilai berpotensi mengalami skenario serupa karena berada di zona tektonik aktif, sehingga perlu pembaruan standar ketahanan gempa agar mampu menghadapi skenario multi-gempa ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Makassar, IDN Times - Fenomena gempa kembar yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 menjadi perhatian kalangan ahli kebumian. Peristiwa dua gempa besar yang terjadi hanya dalam selang waktu 39 detik dinilai sebagai kejadian langka yang dapat memberi pelajaran penting bagi negara rawan gempa seperti Indonesia.

Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) menilai peristiwa ini menunjukkan adanya skenario ekstrem yang belum banyak diperhitungkan dalam sistem mitigasi maupun standar desain bangunan tahan gempa. Direktur PSGS, Ardy Arsyad, mengatakan fenomena ini perlu menjadi perhatian serius.

1. Gempa Mw 7,2 dan 7,5 terjadi hanya selang 39 detik

Gempa Venezuela
Potret reruntuhan bangunan di La Guaira, Venezuela. (U.S. Marines 24MEU by Gunnery Sgt. Kevin Rivas, Public domain, via Wikimedia Commons)

Ardy menjelaskan, pada 24 Juni 2026 Venezuela diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,2 yang kemudian disusul gempa magnitudo 7,5 hanya 39 detik setelahnya. Dua gempa itu menghasilkan durasi guncangan yang sangat panjang dan berpotensi memicu kerusakan lebih besar dibanding satu gempa besar tunggal.

“Peristiwa ini dikenal sebagai earthquake doublet atau gempa kembar, yaitu dua gempa besar yang terjadi hampir bersamaan pada segmen sesar yang sama atau sangat berdekatan,” kata Ardy dalam keterangannya.

Menurut dia, episenter kedua gempa hanya berjarak sekitar 6–7 kilometer. Gempa magnitudo 7,5 itu bukan sekadar gempa susulan (aftershock), melainkan pelepasan energi besar kedua yang terjadi hampir bersamaan.

Ardy menyebut para ahli masih meneliti apakah dua gempa tersebut merupakan dua rupture yang berbeda atau dua pulse dari satu rupture besar yang sama.

2. Risiko keruntuhan bangunan meningkat akibat guncangan beruntun

Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Esti Suryani)
Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Esti Suryani)

Dari perspektif rekayasa struktur, Ardy menilai skenario seperti ini sangat berbahaya bagi bangunan. Saat bangunan sudah mengalami deformasi akibat guncangan pertama, elemen struktur bisa mulai retak, kehilangan kekakuan, hingga mengalami kerusakan lokal.

Sebelum bangunan sempat meredam getaran atau kembali stabil, datang guncangan kedua yang lebih kuat. Kondisi itu membuat struktur yang kapasitasnya sudah berkurang harus menahan beban tambahan.

“Akibatnya, kapasitas struktur yang telah berkurang menerima beban gempa tambahan, sehingga risiko keruntuhan meningkat secara signifikan,” ujarnya.

PSGS menjelaskan gempa tersebut diperkirakan terjadi pada sistem Sesar Oca–Ancón, dekat percabangannya dengan Sesar Boconó, yang merupakan batas antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan.

Berdasarkan estimasi, gempa magnitudo 7,5 menghasilkan rupture sepanjang 100 hingga 200 kilometer dengan rata-rata slip sekitar 2 sampai 5 meter. Energi yang dilepaskan diperkirakan setara 2,7 megaton TNT atau sekitar 180 kali energi bom Hiroshima.

3. Indonesia dinilai punya potensi skenario gempa serupa

Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Sukma Shakti)

Ardy mengatakan Indonesia juga berada di lingkungan tektonik aktif dengan sumber gempa dari zona subduksi, sesar geser aktif, dan patahan bersegmen. Karena itu, skenario earthquake doublet bukan hal yang mustahil terjadi di Tanah Air.

Beberapa sistem sesar aktif seperti Sesar Palu–Koro, Sesar Sumatra, dan zona subduksi Sunda dinilai memiliki karakteristik rupture bersegmen yang memungkinkan pelepasan energi secara berurutan.

Menurut Ardy, kondisi ini membuka ruang penelitian baru terkait perilaku bangunan terhadap multiple strong ground motions, terutama di wilayah dekat sumber gempa.

Ia menilai standar ketahanan gempa Indonesia melalui SNI 1726:2019 saat ini masih berbasis pada satu kejadian gempa rencana (single design earthquake). Padahal, fenomena gempa kembar menunjukkan adanya skenario pembebanan ekstrem yang belum banyak dikaji.

“Fenomena seperti earthquake doublet, multi-segment rupture, dan near-fault ground motion perlu menjadi bagian dari agenda penelitian nasional agar standar perencanaan, teknologi konstruksi, dan sistem mitigasi kita semakin tangguh dalam menghadapi gempa-gempa besar di masa mendatang,” kata Ardy.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata

Latest News Sulawesi Selatan

See More