Badan Geologi Petakan Zona Rawan Likuefaksi usai Gempa M6,7 di Sulteng

- Gempa M6,7 di Sigi, Sulawesi Tengah, terjadi pada kedalaman 10 km dan memicu lebih dari 150 gempa susulan akibat kondisi geologi kompleks serta dominasi tanah lunak.
- Badan Geologi memetakan wilayah rawan likuefaksi di Sulteng seperti Sigi, Palu, Parigi Moutong, dan Poso untuk dasar mitigasi serta penataan ruang daerah terdampak.
- Gempa menyebabkan kerusakan infrastruktur, retakan tanah, penurunan lahan, hingga surutnya air laut di Teluk Palu; masyarakat diminta tetap waspada terhadap gempa susulan.
Makassar, IDN Times - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap kondisi geologi yang kompleks dan dominasi tanah lunak memperparah dampak gempa bumi magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada 16 Juni 2026. Gempa itu disebut berkaitan erat dengan aktivitas tektonik di kawasan Graben Palolo.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan gempa tersebut tergolong dangkal dengan kedalaman hanya 10 kilometer. Hingga 18 Juni 2026, pihaknya mencatat telah terjadi lebih dari 150 gempa susulan dengan kekuatan antara magnitudo 2,5 hingga 5,1.
“Gempa bumi utama yang diikuti banyaknya gempa susulan menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam,” kata Lana dalam rekaman konferensi pers daring, yang dikutip, Senin (22/6/2026).
1. Episenter dekat permukiman, tanah lunak perkuat guncangan

Lana menjelaskan pusat gempa berada di darat, sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, tepatnya di koordinat 1,04 derajat lintang selatan dan 120,23 derajat bujur timur. Lokasi episenter yang dekat dengan permukiman menjadi salah satu faktor yang memperbesar dampak kerusakan.
Selain itu, wilayah terdampak memiliki klasifikasi tanah yang beragam, mulai dari kelas C (tanah sangat padat dan batuan lunak), kelas D (tanah sedang), hingga kelas E (tanah lunak). Tanah lunak dinilai memperkuat getaran sehingga meningkatkan risiko kerusakan bangunan.
“Kedekatan episenter dengan permukiman dan kondisi tanah yang lunak mengamplifikasi efek guncangan,” ujar Lana.
2. Badan Geologi petakan wilayah rawan likuefaksi

Berdasarkan hasil pemetaan, Badan Geologi menyebut sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah berpotensi mengalami likuefaksi pascagempa. Wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, dan sebagian Kabupaten Poso.
Selain itu, kawasan dengan tingkat kerawanan gempa tinggi juga meliputi Dolo, Gumbasa, Marawola, Tanambulava, Palu Barat, Palu Selatan, dan Palu Utara. Wilayah-wilayah tersebut berada pada kategori kerawanan menengah hingga tinggi berdasarkan peta kebencanaan Badan Geologi.
Lana menegaskan peta kerawanan tersebut bukan prediksi kapan gempa terjadi, melainkan gambaran tingkat potensi bahaya apabila gempa kembali terjadi di kawasan tersebut. Ia meminta pemerintah daerah menjadikan peta ini sebagai dasar mitigasi dan penataan ruang.
3. Retakan tanah hingga surutnya air laut jadi perhatian

Gempa M6,7 ini menyebabkan kerusakan rumah warga, kantor, jalan, hingga jembatan. Selain itu, tim di lapangan menemukan retakan tanah, penurunan lahan (land subsidence), serta longsoran di beberapa titik terdampak.
Fenomena lain yang menjadi perhatian adalah surutnya air laut di Teluk Palu sesaat setelah gempa terjadi. Badan Geologi menduga kondisi itu dipicu penurunan lahan di wilayah pesisir akibat guncangan kuat, meski kajian lebih lanjut masih dilakukan.
Untuk itu, Badan Geologi mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap gempa susulan, tidak mudah percaya informasi yang tidak jelas sumbernya, serta menghindari area tebing yang berpotensi longsor. Bangunan di kawasan rawan gempa juga diminta dirancang sesuai standar bangunan tahan gempa.


















