Update Gempa Sigi M 6,7: BMKG Catat 582 Gempa Susulan, 25 Dirasakan

- BMKG mencatat total 582 gempa susulan pasca-gempa M 6,7 di Sigi, dengan magnitudo terbesar M 5,2 dan hanya 25 kejadian yang dirasakan masyarakat.
- Frekuensi gempa susulan menunjukkan tren menurun signifikan sejak puncak aktivitas pada 15 Juni 2026, dari puluhan kejadian per tiga jam menjadi hanya belasan pada 17 Juni.
- Pusat gempa susulan terkonsentrasi di sepanjang Sesar Palolo dan Sausu, berdekatan dengan jalur aktif Sesar Palu Koro, sementara BMKG mengimbau warga tetap waspada dan mengikuti informasi resmi.
Makassar, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan intensif pasca-gempa bumi utama berkekuatan Magnitudo (M) 6,7 yang mengguncang wilayah Sigi, Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026). Hingga Rabu (17/6/2026) sore, wilayah tersebut masih terus diguncang oleh rentetan gempa susulan (aftershock).
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada menyikapi aktivitas kegempaan yang masih berlangsung ini. Berikut adalah update terbaru data gempa susulan di Sigi.
1. Terdapat 582 kali gempa susulan, magnitudo terbesar M 5,2

Berdasarkan data pemutakhiran terbaru pada tanggal 17 Juni 2026 pukul 15.30 WIB, jumlah gempa susulan di wilayah Sigi sudah mencapai ratusan kali dengan kekuatan yang bervariasi. Sebagian besar gempa tersebut tergolong gempa dangkal (kedalaman kurang dari 60 km).
"Total gempabumi susulan mencapai 582 kejadian. Magnitudo terbesar tercatat di angka 5,2 dan magnitudo terkecil 1,3," kutip laporan resmi dari Pusat Gempabumi Regional IV BMKG, Rabu (17/6/2026).
Pusat Gempabumi Regional IV juga mencatat bahwa dari 582 kejadian tersebut, hanya ada 1 gempa susulan yang kekuatannya di atas M 5,0. Meski jumlahnya banyak, tidak semua gempa dirasakan oleh warga. Tercatat hanya ada 25 gempa susulan yang guncangannya dirasakan (felt earthquakes).
2. Frekuensi gempa per tiga jam menunjukkan tren penurunan

Meskipun total gempa susulan sangat banyak, grafik yang dirilis BMKG menunjukkan adanya harapan baik. Jika melihat frekuensi kejadian per 3 jam, aktivitas gempa perlahan mulai meluruh atau menurun.
Puncak aktivitas gempa susulan terpadat terjadi pada periode 15 Juni 2026 sore hari (pukul 16.27 - 19.27 WIB) dengan total 84 kejadian. Gelombang gempa yang tinggi juga sempat terjadi pada 16 Juni dini hari (pukul 22.27 - 01.27 WIB) dengan 80 kejadian.
Namun, memasuki tanggal 17 Juni 2026, grafiknya terus menurun signifikan. Pada blok waktu pemantauan terakhir (pukul 13.27 - 16.27 WIB), frekuensi gempa susulan turun drastis menjadi 19 kejadian saja dalam rentang waktu tiga jam tersebut.
3. Sebaran gempa terkonsentrasi di Sesar Palolo dan Sausu

Melihat peta sebaran gempabumi susulan yang diterbitkan Pusat Gempabumi Regional IV, pusat-pusat gempa (episentrum) yang ditandai dengan titik merah tampak membentuk klaster yang sangat padat di daratan Sulawesi Tengah.
Gempa utama M 6,7 (ditandai bintang kuning) memicu aktivitas di jalur-jalur sesar sekitarnya. Titik-titik gempa susulan tersebut terlihat sangat terkonsentrasi memanjang mengikuti garis Sesar Palolo dan merambat ke arah Sesar Sausu. Selain itu, sebaran gempa ini juga berada dalam radius yang berdekatan dengan patahan aktif utama di wilayah tersebut, yakni Sesar Palu Koro.
BMKG terus mengimbau masyarakat agar menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Pastikan informasi yang didapat selalu bersumber dari kanal resmi BMKG, dan jangan mudah percaya dengan hoaks atau isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.




![[BREAKING] Kejati Sulsel Geledah Kantor Disdik soal Dugaan Korupsi Smart Library](https://image.idntimes.com/post/20260617/upload_a5b83f58efba52215d7944f6d280377c_ac56fa83-c2f2-4d90-90c1-8afb48df5f26_watermarked_idntimes-1.jpeg)












