BPS Catat Daya Beli Petani Sulsel Menguat pada Juni 2026

- BPS Sulsel mencatat NTP gabungan Juni 2026 naik ke 118,80, menandakan daya beli petani menguat karena harga hasil produksi meningkat lebih tinggi dibanding biaya konsumsi dan produksi.
- Subsektor hortikultura jadi penopang utama dengan kenaikan NTP 4,57 persen, sementara subsektor tanaman pangan dan peternakan justru melemah akibat turunnya harga hasil ternak dan naiknya biaya produksi.
- Indeks harga yang dibayar petani naik 0,51 persen dipicu peningkatan biaya konsumsi rumah tangga serta produksi, terutama pada transportasi, makanan-minuman, dan barang modal.
Makassar, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan Sulawesi Selatan pada Juni 2026 berada di angka 118,80. Angka ini naik 0,42 persen dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar 118,30.
Kenaikan NTP ini menunjukkan adanya perbaikan daya beli petani di pedesaan. Sebab, NTP menjadi salah satu indikator untuk melihat kemampuan tukar hasil produksi pertanian terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan rumah tangga petani maupun biaya produksi.
Dalam Berita Resmi Statistik BPS Sulsel yang dirilis, Rabu (1/7/2026), BPS menjelaskan kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani. Indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,94 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik 0,51 persen.
Bagi petani, angka NTP di atas 100 berarti harga hasil produksi yang mereka jual masih lebih tinggi dibandingkan biaya konsumsi dan produksi yang mereka keluarkan. Semakin tinggi angkanya, semakin kuat daya beli petani.
Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Sulawesi Selatan juga mengalami kenaikan. Pada Juni 2026, NTUP tercatat sebesar 124,52 atau naik 0,55 persen dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 123,84.
1. Hortikultura jadi penopang utama kenaikan NTP

Dari lima subsektor pertanian yang dipantau BPS, subsektor hortikultura mencatat kenaikan tertinggi pada Juni 2026. NTP subsektor ini naik 4,57 persen dari 144,16 pada Mei menjadi 150,74 pada Juni.
Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani sebesar 5,05 persen, terutama pada kelompok sayur-sayuran yang naik 5,34 persen. Kelompok buah-buahan juga naik tipis 0,17 persen, meski tanaman obat-obatan turun 0,21 persen.
Selain hortikultura, subsektor tanaman perkebunan rakyat juga mengalami kenaikan NTP sebesar 2,21 persen menjadi 134,69. Subsektor perikanan ikut tumbuh 0,27 persen menjadi 121,21.
Secara rinci, NTP subsektor tanaman pangan tercatat sebesar 112,84, hortikultura 150,74, tanaman perkebunan rakyat 134,69, peternakan 106,28, dan perikanan 121,21. Data ini menunjukkan hortikultura masih menjadi subsektor dengan tingkat daya tukar tertinggi di Sulawesi Selatan.
2. Peternakan dan tanaman pangan justru melemah

Meski secara umum NTP Sulsel naik, tidak semua subsektor mengalami perbaikan. BPS mencatat subsektor tanaman pangan turun 0,20 persen dari 113,06 menjadi 112,84.
Penurunan ini terjadi karena kenaikan harga yang dibayar petani lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga yang diterima. Indeks harga yang diterima petani tanaman pangan hanya naik 0,32 persen, sementara indeks harga yang dibayar naik 0,52 persen.
Subsektor peternakan mengalami penurunan paling dalam. NTP subsektor ini turun 2,53 persen dari 109,04 pada Mei menjadi 106,28 pada Juni.
Turunnya NTP peternakan dipicu penurunan harga pada seluruh kelompok ternak, mulai dari ternak besar yang turun 2,20 persen, ternak kecil turun 0,59 persen, unggas turun 1,62 persen, hingga hasil ternak dan unggas yang turun 2,75 persen. Di sisi lain, biaya yang dibayar petani tetap naik 0,42 persen.
3. Biaya hidup dan produksi petani ikut naik

BPS juga mencatat indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik dari 125,08 pada Mei menjadi 125,73 pada Juni atau tumbuh 0,51 persen. Kenaikan ini dipengaruhi meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga petani sebesar 0,58 persen dan biaya produksi serta penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,38 persen.
Beberapa komponen pengeluaran rumah tangga yang mengalami kenaikan cukup tinggi antara lain transportasi yang naik 1,41 persen, makanan dan minuman sebesar 0,62 persen, serta rekreasi dan budaya sebesar 0,68 persen. Sementara pada sisi produksi, biaya transportasi dan komunikasi naik 1,35 persen, dan barang modal naik 0,76 persen.
Jika melihat tren sejak awal 2026, NTP Sulawesi Selatan menunjukkan pergerakan yang cenderung stabil dengan kecenderungan meningkat dalam dua bulan terakhir. Pada Februari 2026, NTP Sulsel tercatat di angka 116,86, kemudian naik menjadi 118,12 pada Maret, 115,52 pada April, 118,30 pada Mei, dan kembali naik menjadi 118,80 pada Juni.

















