Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Nelayan Temukan Ikan Purba Coelacanth di Pulau Siladen Sulut

Nelayan Temukan Ikan Purba Coelacanth di Pulau Siladen Sulut
Seorang nelayan menemukan ikan Coelacanth di perairan Pulau Siladen, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat (26/6/2026). Dok. International Coelacanth Research and Museum
Intinya Sih
  • Nelayan di Pulau Siladen menemukan ikan purba Coelacanth dalam kondisi mati.

  • Tim peneliti Unsrat akan melakukan pemeriksaan endoskopis hingga CT scan.

  • Ikan Coelacanth spesies Latimeria menadoensis hanya ditemukan di perairan Indonesia bagian tengah dan timur.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Manado, IDN Times - Seorang nelayan bernama Soni Pontoh menemukan ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di Pulau Siladen, Kawasan Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara, pada Jumat, 26 Juni 2026. Ikan tersebut ditemukan Soni saat sedang melaut.

Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Catur Marbawa, membenarkan hal tersebut. "Sayangnya ditemukan sudah dalam keadaan mati," ujarnya, Selasa (30/6/2026).

Ikan yang lebih dikenal dengan sebutan raja laut ini kemudian diserahkan ke Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi (FPIK Unsrat) untuk diteliti lebih lanjut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penyebab ikan yang hidupnya di kedalaman ini bisa muncul ke permukaan.

1. Pemeriksaan endoskopis hingga CT scan

Ikan Coelacanth berukuran besar disimpan dalam kotak pendingin berisi es di tepi pantai Pulau Siladen, Sulawesi Utara.
Seorang nelayan menemukan ikan Coelacanth di perairan Pulau Siladen, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat (26/6/2026). Dok. International Coelacanth Research and Museum

Catur berharap dari hasil penelitian nanti, penyebab kemunculan ikan Coelacanth di perairan dangkal dan kematiannya bisa dicegah. Ia berharap ikan dengan status sangat dilindungi ini bisa tetap lestari di alam.

Kepala International Coelacanth Research Center and Museum Unsrat, Prof Ir Kawilarang WA Masengi MSc PhD, menyebut bahwa pihaknya hari ini baru mengadakan rapat untuk memeriksa penyebab ikan tersebut mati. Mereka akan menggunakan berbagai alat endoskopis hingga CT scan untuk memeriksa isi tubuh ikan tersebut.

"Masih akan kami cek penyebabnya, apakah memang ikan ini salah makan atau seperti apa," tutur Kawilarang.

2. Dugaan penyebab ikan ini muncul dalam keadaan mati

Seorang nelayan di atas perahu menyentuh ikan Coelacanth besar di perairan biru Pulau Siladen, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Seorang nelayan menemukan ikan Coelacanth di perairan Pulau Siladen, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat (26/6/2026). Dok. International Coelacanth Research and Museum

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, Kawilarang menyebut berbagai penyebab bisa membuat ikan ini muncul di permukaan. Pada tahun 2018, ikan ini juga ditemukan di Sulut dalam keadaan mati.

Setelah diteliti, ikan tersebut mati dan muncul ke permukaan karena makan plastik. "Ada juga yang ditemukan di Gorontalo tahun lalu, itu dia sedang hamil sehingga timbul ke permukaan," sambung Kawilarang.

Usai diteliti, Unsrat masih akan menunggu arahan dari Pemprov Sulut terkait lokasi penyimpanan ikan ini. "Apakah nanti akan ditaruh di museum atau tetap di Unsrat mengikuti arahan nanti," jelas Kawilarang.

3. Hanya ada di Indonesia tengah dan timur

Seekor ikan Coelacanth berwarna cokelat keabu-abuan terlihat mati tersangkut pada kail pancing di perairan Pulau Siladen, Sulawesi Utara.
Ikan Coelacanth ditemukan mati tersangkut kail pancing nelayan di Pulau Siladen, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat (26/6/2026). Dok. International Coelacanth Research and Museum

Ikan coelacanth ini hanya bisa ditemukan di negara-negara Samudera Hindia Barat, Afrika, dan Indonesia. Khusus spesies Latimeria menadoensis hanya ada di Indonesia.

Di bagian tengah ada di Sulut dan Gorontalo, sedangkan di bagian timur ikan ini mendiami perairan Maluku Utara hingga Papua. "Paling jauh yang kami temukan itu di Biak dan Raja Ampat, Papua," tambahnya.

Sedangkan spesies lain, yaitu Latimeria Chalumnae dapat ditemukan di Afrika, Komoro, hingga Madagaskar. Dalam daftar merah International Union for Conservation of Natue (IUCN), Latimeria menadoensis berstatus Vulnerable atau Rentan.

Sedangkan dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) Latimeria menadoensis masuk kategori Appendix I.

Share Article
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris

Latest News Sulawesi Selatan

See More