Persiapan Haji 2026 di Sulsel Belum Terdampak Konflik Timur Tengah

- Persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026 di Sulawesi Selatan berjalan normal tanpa dampak dari konflik Timur Tengah, meski pemerintah tetap memantau situasi geopolitik kawasan tersebut.
- Penerbangan langsung dari Makassar ke Arab Saudi membuat pelaksanaan umrah asal Sulsel relatif aman karena tidak melewati wilayah udara terdampak konflik.
- Beberapa jemaah yang menggunakan penerbangan transit sempat terdampak perubahan rute, sementara sekitar 358 jemaah Sulsel masih berada di Tanah Suci namun terus dipulangkan bertahap.
Makassar, IDN Times - Persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026 di Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga kini masih berjalan normal. Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulsel memastikan konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah belum berdampak pada tahapan persiapan haji.
Kepala Kanwil Kemenhaj Sulsel, Ikbal Ismail, mengatakan proses persiapan masih berlangsung seperti biasa. Meski begitu, situasi geopolitik di kawasan tersebut tetap menjadi perhatian pemerintah.
"Untuk pelaksanaan haji alhamdulillah sampai sekarang belum berdampak ya terkait dengan perang antara Timur Tengah dan Amerika dan Israel," kata Ikbal, Sabtu (7/3/2026).
Menurut Ikbal, tahapan yang berjalan saat ini masih berkaitan dengan proses administrasi dan kesiapan layanan bagi jemaah. Hingga kini tidak ada perubahan rencana terkait penyelenggaraan haji bagi jemaah asal Sulsel.
1. Umrah dari Sulsel relatif aman karena penerbangan langsung

Selain haji, pelaksanaan ibadah umrah dari Sulsel juga dinilai belum mengalami dampak signifikan dari konflik tersebut. Hal ini karena sebagian besar jemaah menggunakan penerbangan langsung dari Makassar menuju Arab Saudi.
"Ada pun terkait masalah umrah, begitu pun belum ada dampak dari peperangan ini karena rata-rata jemaah umrah kita, Sulawesi Selatan, ambil pesawat direct. Langsung dari Makassar langsung jedah atau Madinah," kata Ikbal.
Penerbangan langsung dari Makassar menuju Arab Saudi dinilai relatif aman. Pasalnya, rute tersebut tidak melewati wilayah udara yang terdampak konflik.
2. Kendala lebih banyak pada penerbangan transit

Ikbal menjelaskan persoalan lebih banyak dialami jemaah yang menggunakan penerbangan tidak langsung atau transit di negara lain. Sejumlah penerbangan transit biasanya melewati negara di kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Qatar.
"Yang jadi persoalan jemaah kita yang ambil pesawat indirect, yang transit di Dubai, di Qatar," katanya.
Perubahan rute penerbangan sempat terjadi di wilayah tersebut. Penyesuaian jadwal ini mau tidak mau memengaruhi perjalanan sebagian jemaah.
3. 358 jemaah Sulsel sempat masih di Tanah Suci

Kanwil Kemenhaj Sulsel juga mencatat ratusan jemaah asal Sulsel masih berada di Arab Saudi dalam beberapa waktu terakhir. Data yang dihimpun menunjukkan sempat ada sekitar 358 jemaah yang masih menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Menurut Ikbal, jumlah tersebut kemungkinan sudah berkurang. Hal ini karena proses pemulangan jemaah berlangsung setiap hari.
"Kemarin yang kami data masih ada 358 dan kami pikir sudah berkurang karena beberapa hari kemarin ada yang 2.000 per hari pulang jemaah kita dan kami yakin jamaah kita yang indirect itu ya sebagian sudah pada pulang juga," katanya.

















