Puluhan Siswa SD di Jeneponto Diduga Keracunan Menu MBG

- Sebanyak 25 siswa SDN 07 Rumbia Jeneponto alami gatal-gatal dan diduga keracunan setelah menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang berisi lauk ikan.
- Total 27 orang, termasuk dua guru, dilarikan ke Puskesmas Tompobulu dan RS Pratama Rumbia dengan gejala mulai dari gatal hebat hingga mual dan kejang-kejang.
- Pihak sekolah menduga lauk ikan layang goreng tepung jadi pemicu, sementara penyebab pastinya masih diselidiki melalui pemeriksaan laboratorium oleh tim gabungan.
Makassar, IDN Times - Puluhan siswa SD Negeri 07 Rumbia di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, dilaporkan mengalami gatal-gatal dan diduga keracunan atau reaksi alergi. Hal itu terjadi usai mereka mengonsumsi makanan dalam menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (23/4/2026).
Peristiwa ini viral di media sosial melalui sejumlah video yang memperlihatkan kondisi para siswa setelah menyantap makanan di sekolah. Dalam video yang beredar, tampak beberapa siswa menangis sambil menggaruk tubuh mereka.
1. Siswa mengalami gatal-gatal

Sejumlah anak terlihat mengalami bentol dan pembengkakan di bagian tubuh, lalu dievakuasi ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis. Diduga reaksi itu dipicu oleh lauk ikan yang dikonsumsi para siswa. “Gara-gara MBG, anak-anak alergi. Bengkak-bengkak semua, dibawa ke Puskesmas anak-anak,” kata seorang perempuan dalam video tersebut.
Ada juga video seorang siswi perempuan terlihat lemas digendong oleh seorang pria dengan kondisi tangan diinfus. Video lain memperlihatkan suasana di dalam Puskesmas. Sejumlah siswa tampak terbaring lemah di tempat tidur perawatan, sementara orang tua mereka terlihat cemas mendampingi di samping.
“Keracunan MBG anak-anak, gatal-gatal,” ujar seorang pria dalam rekaman itu.
2. Siswa dirawat di puskesmas dan rumah sakit

Kepala Sekolah SDN 07 Rumbia, Sitti Mulliati membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan ada sekitar 27 orang yang jadi korban terdiri dari 25 siswa dan dua guru yang turut mengonsumsi makanan sama. Dia menjelaskan, gejala awal mulai dirasakan oleh para siswa tak lama setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di lingkungan sekolah.
"27 yang dilarikan ke Puskesmas Tompobulu dan Rumah Sakit Pratama Rumbia karena keluhan gatal-gatal hebat di area bibir, pipi, gusi, telinganya, bahkan ke lengannya juga. Ada juga dua orang guru mengalami gatal pada gusi mulutnya dan satu orang sakit perut," kata Mulliati saat dikonfirmasi, Kamis (23/4/2026) malam.
Seluruh korban diberikan penanganan secara intensif dari tenaga medis karena kondisi kesehatan mereka beragam, sebab ada juga yang muntah hingga kejang-kejang.
"Ada enam orang di RS Pratama Rumbia dengan keluhan satu orang kejang-kejang, sakit perut, mual, sakit di ulu hati dan sesak napas, satu orang sakit perut dan mengeluhkan sering BAB, ada sakit ulu hati, empat orang siswa yang DI RS Pratama Keluhannya sama mual," tuturnya.
3. Diduga reaksi dari lauk ikan

Di antara korban yang dirawat di puskesmas, kondisinya korban mulai membaik setelah mendapatkan penanganan medis. Sudah ada beberapa yang dibolehkan pulang.
"Kini tersisa lima orang saja karena," bebernya.
Mulliati menduga siswa dan guru yang mengalami gatal dan mual usai mengomsumsi lauk ikan yang disajikan dalam menu MBG tersebut.
"Mereka yang parah adalah yang menyantap lauk dari ikan layang digoreng tepung. Sementara yang tidak terlalu parah hanya makan sedikit," ungkapnya.
Dia menyebutkan, total penerima manfaat program MBG di sekolah tersebut mencapai sekitar 100 orang. Mereka terdiri dari siswa, guru, dan kepala sekolah.
4. Penyebab pasti masih diselidiki

Kepala SPPG Kartika Jaya, Nurmalia Putri, yang menyuplai menu MBG untuk SDN 07 Rumbia, angkat bicara. Dia menyatakan pihaknya saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
“Menu lauk pauknya hari ini memang ikan. Saat ini masih dalam pemeriksaan laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pastinya,” ujar Nurmalia.
Ia menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan petugas gabungan untuk mengumpulkan sampel makanan yang diduga menjadi pemicu reaksi pada siswa. Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium, sementara pihak terkait terus melakukan penelusuran dan penanganan terhadap siswa yang terdampak.


















