Berkunjung ke Makassar, Kedubes Tiongkok Inspeksi Proyek PSEL

- Kedubes Tiongkok melalui Konselor Politik Zhen Wangda berkunjung ke Makassar untuk memperkuat kerja sama daerah dan meninjau potensi investasi, termasuk proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
- Proyek PSEL Makassar digadang sebagai bagian dari dorongan transformasi energi hijau dan pembangunan rendah karbon dalam kemitraan strategis antara Indonesia dan Tiongkok.
- Pemerintah Kota Makassar akan melakukan tender ulang proyek PSEL senilai Rp3 triliun setelah perubahan lokasi ke TPA Antang sesuai Perpres Nomor 109 Tahun 2025.
Makassar, IDN Times – Perwakilan Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia melakukan kunjungan ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan di tengah ketidakjelasan kelanjutan investasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kunjungan ini dipimpin Konselor Politik Kedubes Tiongkok, Zhen Wangda, bersama timnya.
Dalam kunjungan yang berlangsung pada Senin (20/4/2026) tersebut, PSEL menjadi salah satu agenda penting yang mendapat perhatian. Proyek ini sebelumnya direncanakan dibangun di Makassar dengan melibatkan perusahaan asal Tiongkok.
1. Kunjungan untuk inspeksi dan penjajakan kerja sama

Zhen Wangda mengaku senang bisa mengunjungi Sulawesi Selatan bersama timnya. Ia menyebut kunjungan ini sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia, khususnya di tingkat daerah.
“Saya sangat senang dapat berkunjung ke Provinsi Sulawesi Selatan. Saya dan tim saya semuanya baru pertama kali ke sini,” katanya.
Menurutnya, Sulsel memiliki posisi strategis sebagai pusat ekonomi dan budaya di Indonesia Timur. Berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, pertambangan, hingga industri makanan dinilai berkembang pesat dan menarik minat investasi.
“Budayanya yang sangat khas dan pemandangan alam yang luar biasa indah telah menarik banyak wisatawan. Ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar, adalah salah satu pusat utama terpenting di Indonesia Timur,” katanya.
Ia menjelaskan, dirinya ditugaskan oleh Kedubes Tiongkok untuk memimpin tim melakukan inspeksi ke Makassar. Tujuannya untuk meningkatkan saling pemahaman, memperkuat kerja sama daerah Tiongkok-Indonesia, serta mendorong integrasi industri unggulan.
“Pulau Sulawesi kaya akan sumber daya alam, dengan cadangan nikel yang melimpah, dan cukup banyak perusahaan Tiongkok yang berinvestasi dan membangun pabrik di sini,” jelasnya.
2. Proyek PSEL jadi bagian dorongan energi hijau

Dalam keterangannya, Zhen Wangda menyinggung rencana pembangunan PSEL di Makassar yang akan dikerjakan bersama perusahaan Tiongkok. Proyek ini disebut sebagai bagian dari upaya mendorong transformasi energi hijau dan pembangunan rendah karbon.
“Tiongkok dan Indonesia adalah tetangga bersahabat yang dipisahkan oleh lautan, keduanya sesama negara berkembang besar dan anggota penting Global South memiliki kepentingan bersama yang luas dan fondasi kerja sama yang kokoh,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kerja sama kedua negara terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Pendalaman kemitraan strategis dinilai tidak hanya berdampak bagi kedua negara, tetapi juga kawasan secara lebih luas.
“Pendalaman lebih lanjut Kemitraan Strategis Komprehensif antara kedua pihak tidak hanya memberikan manfaat bagi rakyat kedua negara, tetapi juga memiliki pengaruh penting bagi usaha kerja sama dan pembangunan kawasan dan dunia,” katanya.
Menurutnya, transformasi hijau dan rendah karbon menjadi fokus utama Tiongkok dalam kerja sama internasional. Hal ini termasuk melalui inisiatif pembangunan bersama Belt and Road Initiative yang mendorong pengembangan infrastruktur ramah lingkungan.
3. Tender proyek PSEL Makassar akan diulang

Kunjungan Kedubes Tiongkok ini terjadi di tengah rencana Pemerintah Kota Makassar untuk melakukan tender ulang proyek PSEL. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun tersebut sebelumnya dimenangkan oleh konsorsium PT Grand Puri Indonesia bersama PT Sarana Utama Synergi.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyebut tender ulang dilakukan setelah adanya perubahan lokasi proyek ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Antang. Selain itu, perubahan juga mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan.
"Jadi proses peralihan Perpres 135 ke 109 ada pengakhiran perjanjian dengan pemenang tender yang sebelumnya, lalu pemerintah kota menyiapkan lahan untuk proses pembangunan kurang lebih 7 hektare," ujar Appi di Rujab Gubernur Sulsel, Sabtu (4/4/2026).
Appi menilai TPA Antang menjadi lokasi paling rasional untuk pembangunan PSEL. Pasalnya, timbunan sampah yang ada di lokasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku utama.
"Kenapa harus di TPA Tamangapa? Karena 20 sampai 25 persen sampah yang ada di TPA masih bisa dipakai sebagai bahan baku untuk menambah kekurangan-kekurangan (pasokan ke PSEL)," katanya.


















