Ada Makeup Corner di Asrama Haji Makassar, Tempat Jemaah Haji Berdandan

- Asrama Haji Sudiang Makassar kini menyediakan makeup corner bagi jemaah perempuan yang ingin merapikan diri sebelum pulang ke kampung halaman setelah menunaikan ibadah haji.
- Inisiatif ini muncul dari kebutuhan jemaah yang ingin tampil rapi dan cantik saat bertemu keluarga, dengan layanan rias sederhana tanpa mengganti pakaian resmi asrama.
- Layanan ini melayani berbagai usia dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sulawesi Selatan, di mana jemaah perempuan berhias dengan busana bling-bling namun tetap diimbau menjaga aurat.
Makassar, IDN Times - Setiap tahun, jemaah haji asal Sulawesi Selatan memang selalu menarik perhatian publik. Betapa tidak, mereka, utamanya jemaah perempuan, selalu tampil mencolok dengan pakaian bling-bling yang disebut Mispa berwarna cerah mencolok lengkap dengan perhiasan emasnya.
Di Asrama Haji Sudiang, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Makassar menyediakan fasilitas makeup corner. Letaknya berada di Aula Arafah tempat penyambutan jemaah haji yang baru tiba dari Tanah Suci.
Fasilitas ini tentu dimanfaatkan oleh jemaah perempuan yang hendak merapikan penampilan sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke kampung halaman. Di sini, mereka dapat berganti pakaian dan berhias sebelum bertemu keluarga.
1. Berawal dari kebutuhan jemaah

Ketua PPIH Debarkasi Makassar, Ikbal Ismail, mengatakan fasilitas tersebut bukan program baru yang dirancang secara khusus. Layanan itu lahir dari inisiatif petugas asrama setelah melihat kebutuhan jemaah dari tahun ke tahun.
"Itu sih kebutuhan jemaah, tetapi beberapa tahun ini jemaah haji makeup sendiri dan inisiatif teman-teman asrama haji membuat itu," kata Ikbal di Asrama Haji Sudiang Makassar, Jumat (5/6/2026).
Menurut Ikbal, banyak jemaah, khususnya perempuan, ingin memperbaiki penampilan sebelum bertemu kembali dengan keluarga setelah menunaikan ibadah haji. Kondisi tersebut mendorong petugas menyediakan ruang khusus yang dapat dimanfaatkan jemaah.
2. Membantu jemaah tampil lebih rapi

Ikbal menilai kepulangan dari Tanah Suci merupakan momen yang sangat dinantikan oleh jemaah maupun keluarga. Karena itu, sebagian jemaah ingin tampil lebih rapi saat kembali berkumpul dengan kerabat di kampung halaman.
"Agar jemaah haji bisa lebih cantik pada saat bertemu dengan keluarganya nantinya," katanya.
Ikbal mengatakan sebagian jemaah memilih berganti pakaian setelah meninggalkan Asrama Haji Makassar. Jemaah asal Sidrap, misalnya, mendapat kesempatan berganti pakaian saat singgah di Barru.
"Kalau tadi Kloter 5 asal Gowa mungkin karena mereka pikir sudah tidak ada waktu lagi, jadi mereka sudah ada ganti pakaian bling-bling di bandara, malah ada juga pakaian di pesawat," katanya.
3. Layani jemaah dari berbagai usia

Salah satu penata rias di makeup corner, Ria, mengatakan layanan tersebut cukup sering dimanfaatkan oleh jemaah yang baru tiba dari Arab Saudi. Tim perias hanya membantu proses rias wajah, sementara pakaian telah disiapkan sendiri oleh masing-masing jemaah.
"Sering. Make upnya saja. Pakaiannya mereka sendiri. Kita bantu pakai songkoknya atau mispa," kata Ria.
Menurutnya, jemaah yang menggunakan layanan tersebut berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari usia muda hingga lanjut usia. "Ada juga nenek-nenek," katanya.
Ria mengatakan setiap jemaah biasanya memiliki permintaan berbeda terkait hasil riasan yang diinginkan. Tim perias menyesuaikan kebutuhan tersebut dengan usia dan karakter wajah masing-masing jemaah.
"Ada (request). Misalnya ada yang mau natural, kita sesuaikan dengan usianya juga," katanya.
3. Bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat

Lebih lanjut, Ikbal mengatakan fenomena jemaah berhias saat pulang haji sudah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan. Karena itu, PPIH tidak mempermasalahkan penggunaan fasilitas tersebut selama tetap dilakukan secara wajar.
Ikbal mengatakan jemaah haji sebenarnya diwajibkan mengenakan pakaian batik yang ditentukan saat tiba di Tanah Air. Namun, sebagian jemaah, terutama perempuan, telah membawa busana berhias sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci sebagai bagian dari tradisi yang masih dijaga.
Meski demikian, dia tetap mengingatkan jemaah perempuan agar memperhatikan ketentuan berpakaian. Jemaah juga diminta menjaga aurat saat mengenakan busana yang akan digunakan untuk pulang ke daerah masing-masing.
"Kami tidak melarang untuk menggunakan pakaian bling-bling tersebut tetapi ibu-ibu pulang haji kami harapkan tetap menutup auratnya, terutama lehernya," kata Ikbal.

















