Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemilu 2024: Millennial dan Gen Z Butuh Program Progresif Capres

Pemilu 2024: Millennial dan Gen Z Butuh Program Progresif Capres
Tiga capres yang berlaga di pemilu 2024. (IDN Times/Aditya Pratama)
Share Article

Makassar, IDN Times - Daftar pemilih tetap (DPT) pada Pemilu 2024 mencapai 204.807.222 pemilih, berdasarkan penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Dua kelompok generasi, yaitu millennial dan generasi  Z (Gen Z), mendominasi jumlah tersebut. Jumlah pemilih dari dua kelompok itu lebih dari 113 juta pemilih, atau sebanyak 56,45% dari total keseluruhan pemilih untuk Pemilu 2024.

Suara pemilih dari millennial dan Gen Z, menjadi rebutan para bakal calon presiden-calon wakil presiden (bacapres-bacawapres). Berbagai cara dilakukan demi menarik perhatian hingga dukungan dari kelompok generasi muda.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Ali Armunanto, mengatakan seharusnya tiga capres-cawapres di Pilpres 2024 nanti, sudah memikirkan bagaimana cara meyakinkan anak muda untuk memilih mereka melalui program-program yang tepat.

"Kita tahu bahwa generasi milenial punya taste atau punya selera tersendiri terhadap model kepemimpinan kedepan, dan punya style dari kepemimpinan itu," kata Ali kepada IDN Times, Jumat (27/10/2023).

Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, kemudian Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, telah resmi mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI sebagai bakal capres-cawapres untuk Pilpres 2024 

Dari tiga kandidat itu, menurut Andi Ali, semuanya telah menyampaikan gagasan dan program besar pada bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Namun, itu saja tidak cukup, sosialisasi program tersebut melalui strategi marketing politik harus dilakukan secara tepat.

"Misalnya, kita lihat Prabowo yang paling tua dan wakilnya paling muda, lalu Ganjar dan Mahfud, kemudian Anis dan Cak Imin. Tetapi itu semua tergantung branding dan marketing politiknya dari masing-masing calon ini, seperti apa pemasaran visi-misi dan program-programnya," kata Andi Ali.

Kebutuhan yang diminta anak muda kepada bacapres dan bacawapres

Ilustrasi anak muda (IDN Times/Aryodamar)
Ilustrasi anak muda (IDN Times/Aryodamar)

Visi-misi hingga program kerja yang ditawarkan kandidat Pilpres 2024, harus menarik simpati dan ketertarikan anak muda. Ketua BEM Universitas Sumatera Utara (USU), Aziz Syahputra, mengatakan para kandidat belum ada yang bisa menafsirkan dengan tepat apa saja kebutuhan anak muda saat ini.

“Yang kami pandang di sini adalah bagaimana orang-orang yang terlibat dalam pemilihan atau orang-orang yang terlibat langsung sebagai bacapres atau bacawapres dapat memahami dan mengerti apa kebutuhan anak muda jaman sekarang,” katanya.

Kebutuhan yang dimaksud Aziz ada tiga sektor seperti pendidikan, kesehatan dan juga lapangan pekerjaan bagi generasi millennial dan Gen Z.

Menurut pegiat petani millennial Lampung, Dwinan Rahmandi, generasi muda tidak butuh banyak janji yang muluk-muluk dari bakal capres-cawapres. "Mereka tidak butuh banyak teori dan janji. Jadi lebih bagaimana bisa melakukan hal bermanfaat bagi lingkungan dan juga kelompok usai mereka, seperti kegiatan positif dengan tidak banyak membahas soal politik," ujarnya kepada IDN Times, Sabtu (28/10/2023).

Kandidat bakal capres-cawapres pilihan anak muda

https://www.idntimes.com/news/indonesia/muhammad-ilman-nafian-2/survei-smrc-anies-keok-bila-prabowo-dan-ganjar-maju-jadi-capres
https://www.idntimes.com/news/indonesia/muhammad-ilman-nafian-2/survei-smrc-anies-keok-bila-prabowo-dan-ganjar-maju-jadi-capres

Sekretaris DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Nusa Tenggara Barat (NTB), Edy Kurniawansyah, mengatakan tiga pasangan bakal capres dan cawapres tersebut sama-sama bagus. Mereka disebut merupakan paket yang komplet dan saling mengisi.

"Karena ada kombinasi antara anak muda dan orang tua. Kalau kita lihat Pak Ganjar dia masih muda tapi Pak Mahfud sudah generasi tua. Kalau pak Anies dan Cak Imin sama-sama muda. Kemudian pak Prabowo mewakili generasi tua dan Gibran mewakili generasi muda," kata Edy saat berbincang dengan IDN Times di Mataram, Sabtu (28/10/2023).

Bagus Setiawan (23), pemuda asal Banjarmasin, berpendapat bahwa semua pasangan bakal capres dan cawapres sudah menunjukkan upaya menggaet suara anak muda. Tiga pasangan kandidat sejauh ini dilihatnya telah menyosialisasikan program yang sesuai kehendak anak muda. Seperti Anies Baswedan yang telah meluncurkan platform bernama "Bawa Ide" di mana anak muda dari penjuru Nusantara dikumpulkan dan diberikan ruang berbagi gagasan.

Selanjutnya Ganjar dengan "Lapak Ganjar" mendorong mode marketing baru, yang sangat membantu ekonomi kreatif yang dikelola anak muda.

Dan yang terakhir Prabowo dengan terobosan kemudahan bagi anak muda untuk ikut terlibat dalam menjaga pertahanan bangsa dan negara dan pendampingnya, Gibran Rakabuming Raka sebagai salah satu pemimpin muda di Indonesia yang memberi corak tersendiri.

"Saya lihat semua kandidat Presiden dan wakil presiden sudah menunjukkan selera para pemuda. Pak Anies, Ganjar dan Prabowo," kata Wakil Koordinator Wilayah Forum Demokrasi Millennials Kalimantan Selatan itu.

Anak muda dan kematangan politik

instagram.com/Gibran_rakabuming
instagram.com/Gibran_rakabuming

Bakal capres dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), Prabowo Subianto menggandeng putra sulung Presiden Joko 'Jokowi' Widodo, Gibran Rakabuming Raka sebagai bakal cawapres.

Setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal batas usia minimum 40 tahun untuk capres - cawapres tidak jadi kendala bagi Gibran. Karena ada frasa tambahan berpengalaman sebagai kepala daerah. Gibran sendiri saat ini menjabat Wali Kota Solo.

Melihat hal ini, mahasiswa di Surabaya sedari awal menduga putusan MK yang memperbolehkan orang berpengalaman menjadi kepala daerah maju sebagai capres dan cawapres meski belum berusia 40 tahun itu, sengaja didesain untuk memudahkan langkah bagi Gibran berkontestasi dalam Pemilu 2024. 

"Dugaan tersebut akhirnya terbukti secara nyata dengan adanya deklarasi dari Koalisi Indonesia Maju yang menjadikan Gibran sebagai Cawapres," ujar Ketua BEM Universitas Airlangga (Unair), Anang Jazuli kepada IDN Times, Senin (23/10/2023).

Padahal secara pengalaman, Anang menilai Gibran belum cukup matang. Karena baru menjabat sebagai Wali Kota Solo kurang dari tiga tahun. Ditambah lagi secara kecakapan juga disebut masih banyak figur yang lebih kompeten untuk maju sebagai cawapres pendamping Prabowo.

"Saya rasa secara kapasitas masih banyak tokoh yang lebih cakap dan berpengalaman di pemerintahan untuk menjadi pemimpin nasional," katanya.

Selain itu, Anang menyoroti proses majunya Gibran sebagai Cawapres terlalu instan dan cepat. Dia bahkan menyebut kalau hal ini erat kaitannya dengan memanfaatkan jabatan dan popularitas Jokowi yang saat ini masih menjadi Presiden aktif.

Namun, Andi Ali Armunanto mengungkap, bahwa tidak tepat bila Gibran disebut sebagai "anak bawang" hingga "generasi karbitan". Katanya, penyebutan itu datang dari tafsiran para kelompok atau generasi tua.

"Kita perlu tahu bahwa pola pengasuhan yang membentuk habitus (lingkungan) seorang itu beda saat ini, karena anak muda saat ini bisa mendapatkan pengetahuan dan juga informasi yang kira-kira orang zaman dulu tahun 80-an dan 90-an butuh bertahun-tahun untuk belajar politik," jelas Andi Ali.

Pengaruh modernisasi yang memungkinkan informasi dan pengetahuan diketahui dengan cepat, membuat setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar tentang politik dan kebijakan pemerintahan. Kesempatan untuk belajar dengan cepat tersebut, menurut Ali, membuat Gibran dan generasi muda Indonesia lainnya mampu memahami aspek-aspek politik yang kemungkinan setara dengan para tokoh politik yang disebut sebagai generasi senior.

Hoaks pada Pemilu 2024 dapat memicu anak muda golput

Ilustrasi hoaks (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi hoaks (IDN Times/Sukma Shakti)

Kesawa, yang merupakan mahasiswa Universitas Udayana (Unud) ini, merasa banyaknya informasi hoaks yang beredar di media sosial (medsos) dan melihat para kandidat yang kurang meyakinkan, membuatnya menjadi malas untuk memilih pada Pemilu 2024.

"Pertama tidak terlalu suka politik. Kedua, banyak sekali berita hoaks menyebar di media sosial, sementara saya tidak bisa mengecek satu per satu kebenarannya. Terlebih para kandidat kurang meyakinkan menurut saya.  Akhirnya jadi berpikir, kalau boleh tidak memilih bisa tidak ya?," katanya, Minggu (29/10/2023).

Meski terbesit keinginan untuk menjadi golput, tetapi Kesawa bisa saja memilih di Pemilu 2024 setelah melihat program kerja calon presiden dan wakil presiden yang ada saat ini.

"Jadi tunggu saja dekat-dekat pemilu, adakah program kerja para calon presiden dan calon wakil presiden ini menarik saya untuk memilih," ujarnya.

Pakar komunikasi Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta, Irwanto Hamid, menyebut, apatisme sebagian anak muda terhadap politik, merupakan fenomena yang marak terjadi di Indonesia. "Hal ini berdasarkan beberapa penelitian, memang menunjukkan sikap apatis generasi muda terhadap isu-isu politik," kata Irwanto.

Banyak alasan yang mendasari sikap apatisme politik anak muda, apalagi dalam proses kontestasi Pemilu yang memicu hadirnya informasi dan berita-berita palsu yang cenderung menyesatkan.

"Karena berhubungan dengan konten hoaks yang semakin tinggi mendekati musim politik 5 tahunan," kata mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu.

Irwanto menyarankan agar literasi media sosial diterapkan sebagai kunci untuk melawan hoaks. "Perlu melakukan cek dan ricek sebanyak mungkin agar tidak ikut terseret dalam gelembung hoaks," tambahnya.

Dalam konteks Pemilu 2024, menurut Irwanto, pengguna media sosial utamanya anak muda seharusnya punya kemampuan untuk melakukan filterisasi konten melalui tombol report bila menemukan konten hoaks. Generasi muda, kata dia, dapat menjadi bagian penting dalam proses demokrasi di media sosial.

"Ya caranya dengan melakukan report bila menemukan berita-berita hoax dan melakukan report akun-akun yang sering menyebar hoaks," ucap Irwanto.

Sementara siswa SMAN 1 Tabanan, Kukuh Aji Pengestu (17), memantapkan hati untuk tidak golput. Ia memanfaatkan kesempatan pertama ini untuk memilih presiden dan wakilnya pada Pemilu 2024.

"Sebab satu suara saja bisa menentukan nasib Indonesia ke depan," katanya.

Ia pun menetapkan kriteria pemimpinnya yang mampu menyenjahterakan masyarakat Indonesia lewat program-programnya.

"Tentunya siapa calon yang saya pilih adalah calon pemimpin yang memiliki program yang mampu menyejahterakan Indonesia," imbuh Pengestu.

Artikel ini ini merupakan liputan kolaborasi hyperlocal yang ditulis oleh; Dahrul Amri Lobubun, Indah Permatasari, Eko Agus Herianto, Ni Ketut Wira Sanjiwani, Muhammad Nasir, Tama Wiguna, Hamdani, Ardiansyah Fajar, dan Fariz Fardianto.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Tiyo Siap Potong Telinga Jika Terbukti Rekayasa Alat Pelacak di Mobil

16 Jun 2026, 23:29 WIBNews