Kurva epidemi COVID-19 Provinsi Sulawesi Selatan. Humas Pemprov Sulsel
Ahli Epidemiologi sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Ridwan Amiruddin, menjelaskan bahwa kurva epidemiologi merupakan suatu kurva yang mengambarkan tentang tumbuh kembangnya sebuah epidemi atau pandemik. Kurva dikembangkan berdasarkan konsep pengembangan penyakit, konsep ini menggambarkan terpaparnya seseorang sampai munculnya gejala. Ridwan mengaku, sejak 22 Maret sampai 4 Juni, timnya sudah membangun kurvanya dan telah ditemukan bentuk kurva pandemik COVID-19 untuk Sulsel.
Hal yang menarik dari kurva ini, kata Ridwan, setiap intervensi yang diberikan secara masif itu mampu memberikan daya tekan terhadap pertumbuhan kasus. Intervensi secara masif antara lain, adalah Work From Home, PSBB tahap satu dan dua Makassar, PSBB Gowa, Duta COVID-19, intensive tracing dan penambahan laboratorium.
"Memang dengan pertambahan 7 lab itu, itu menambah dan memberikan daya, kelihatannya pada penambahan jumlah kasus. Tetapi pada satu sisi ini menekan penularan," sebutnya.
Ridwan menyebutkan, dampak realnya adalah pada tanggal 23 Maret Sulsel memiliki Ro (Reproduksi) kasus dari 2,8 sampai 4. Pertumbuhan kasus sejak 19 Maret dengan Ro sebesar 3,8 dengan berbagai intevensi, itu pelan-pelan menurun sesuai dengan intervensi yang diberikan kemudian per 6 Juni sudah berada pada angka 0,9. Artinya, Sulsel secara perlahan mulai on the track pada interval intervensi yang diberikan. Dengan intervensi yang diberikan tersebut, diharapkan dalam 2-3 pekan ini mampu mengontrol pertambahan kasus.
"Dengan demikian Sulsel ini bisa masuk ke dalam New Normal. Jadi bulan Juni ini meskipun secara kasus harian kelihatan ada fluktuasi jumlah kasus. Tetapi, secara kontinyu dari grafik ini menunjukan kestabilan angka di kisaran satu dan dibawah satu," jelasnya.