Lukisan Cap Tangan Muna Sabet Guinness World Record Seni Cadas Tertua

- Lukisan cap tangan di Leang Metanduno, Pulau Muna, dinobatkan Guinness World Records sebagai seni cadas non-figuratif tertua di dunia dengan usia minimum 67.800 tahun.
- Penelitian BRIN bersama universitas Australia membuktikan lukisan ini menjadi bukti awal manusia modern mampu menyeberangi laut menuju Sahul sekitar 70.000 tahun lalu.
- Lukisan memiliki ciri khas unik berupa bentuk jari menyerupai cakar yang mencerminkan ekspresi simbolik dan spiritualitas awal manusia purba di Sulawesi.
Makassar, IDN Times - Indonesia mengukuhkan diri sebagai tempat studi sejarah awal manusia. Lukisan purba berupa cap tangan (stencil hand) yang ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, resmi dinobatkan sebagai seni cadas non-figuratif tertua di dunia oleh badan pencatat rekor dunia, Guinness World Records.
Upacara penyerahan sertifikat rekor dunia ini berlangsung khidmat di Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, pada Minggu (17/5/2026) pekan lalu. May Macmillan, selaku Official Adjudicator dari Guinness World Records, menyerahkan langsung penghargaan prestisius tersebut kepada Adhi Agus Oktaviana, peneliti dari Pusat Riset Arkeometri BRIN yang menjadi kontributor utama riset ini.
"Sangat menyenangkan bagi saya berada di Jakarta, di BRIN, untuk mengumumkan pengakuan resmi atas rekor yang sangat spesial dan bersejarah ini," ujar May Macmillan dalam sambutannya.
1. Berusia 67.800 kahun, kalahkan rekor yang sebelumnya dipegang lukisan prasejarah di Leang Karampuang, Maros

Lukisan dinding gua yang terletak di Leang Metanduno, Pulau Muna, ini berhasil memecahkan rekor dunia setelah terbukti secara ilmiah memiliki usia minimum 67.800 tahun. Angka fantastis ini otomatis menggeser rekor seni gua tertua di dunia sebelumnya yang dipegang oleh situs cap tangan di Leang Karampuang, Geopark Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang dipublikasikan pada Juli 2024.
Untuk mengungkap usianya, tim peneliti gabungan dari BRIN bersama Griffith University dan Southern Cross University (Australia) menerapkan teknologi mutakhir. Mereka menggunakan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua tersebut.
2. Bukti otentik manusia modern (Homo sapiens) sudah mampu menyeberang laut 70.000 tahun lalu

Kepala Pusat Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi, menjelaskan bahwa analisis langsung pada lapisan kalsit ini berfungsi sebagai arsip mikrostratigrafi alami. Hasil analisis laboratorium menunjukkan umur 71.600 ± 3.800 tahun, yang memberikan batas usia minimum kokoh sebesar 67.800 tahun bagi aktivitas simbolik manusia purba di sana. Hasil riset luar biasa ini pun telah diterbitkan di jurnal ilmiah internasional bergengsi, Nature, pada 21 Januari 2026 lalu.
Penemuan di Leang Metanduno tersebut tidak sekadar tentang rekor angka, tetapi juga mengubah peta sejarah migrasi manusia modern (Homo sapiens). Keberadaan lukisan ini menjadi bukti langsung paling awal bahwa manusia purba telah melakukan penjelajahan laut secara sengaja di jalur migrasi utara menuju daratan Sahul (Australia-Papua) sejak hampir 70.000 tahun yang lalu.
"Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu," ungkap Adhi Agus Oktaviana dalam siaran pers pada 22 Januari 2026. Fakta ini menegaskan bahwa wilayah Wallacea bukan sekadar jalur perlintasan kosong, melainkan ruang hidup utama bagi populasi manusia modern awal.
3. Lukisan di Leang Metanduno memiliki ciri unik satu-satunya di dunia berupa "Jari Cakar"

Selain faktor usia, seni cadas di Pulau Muna ini mengundang decak kagum para arkeolog dunia karena memiliki karakteristik visual yang sangat unik. Prof. Adam Brumm dari Griffith University membeberkan bahwa cap tangan di Leang Metanduno memiliki modifikasi bentuk jari yang sengaja dipersempit menyerupai cakar (narrow finger).
Bentuk estetika ini mencerminkan ekspresi simbolik yang sangat matang pada masanya. Para ahli menilai bentuk "jari cakar" ini melambangkan hubungan spiritual yang sangat erat antara identitas manusia dan dunia hewan, sebuah konsep spiritualitas awal yang mulai tumbuh di daratan Sulawesi puluhan ribu tahun silam.

















