Kemlu Gunakan Kuliner sebagai Instrumen Diplomasi Lewat IGS 2026

- Kementerian Luar Negeri menggelar Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 untuk memperkenalkan potensi daerah Indonesia ke dunia lewat diplomasi kuliner sebagai instrumen soft power.
- Program IGS mendukung inisiatif nasional seperti Indonesia Spice Up the World dan Rasa Rempah Indonesia, yang menonjolkan kuliner serta rempah sebagai identitas budaya Nusantara.
- Makassar ditunjuk menjadi tuan rumah seri ke-6 IGS setelah sebelumnya kegiatan serupa digelar di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Makassar, IDN Times - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) kembali menggelar Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS). Kegiatan ini merupakan upaya untuk memperkenalkan potensi daerah Indonesia kepada dunia internasional melalui pendekatan kuliner.
Program yang diluncurkan sejak Desember 2023 itu memanfaatkan gastronomi sebagai instrumen soft power diplomacy. Instrumen tersebut digunakan untuk membuka peluang kerja sama di bidang perdagangan, investasi, pariwisata, hingga sektor strategis lainnya.
"Melalui kuliner sebagai sebuah instrumen yang kami nilai sangat efektif untuk mendekatkan negara-negara sahabat kepada Indonesia," kata Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Ani Nigeriawati, dalam konferensi pers di Hotel The Rinra Makassar, Senin (22/6/2026).
1. Kuliner jadi instrumen soft power diplomacy

Ani menegaskan bahwa pendekatan kuliner merupakan bagian dari soft power diplomacy. Pendekatan tersebut juga berperan dalam mendukung program-program nasional.
"Program nasional yang mungkin juga rekan-rekan media sudah tahu, Indonesia Spice Up the World dan juga ada program Rasa Rempah Indonesia," katanya.
Indonesia Spice Up the World adalah program pemerintah untuk memperluas kehadiran restoran Indonesia di luar negeri. Sementara Rasa Rempah Indonesia merupakan program lanjutan yang fokus pada promosi rempah-rempah sebagai identitas utama kuliner Nusantara.
2. Tidak hanya makanan tapi juga narasi budaya

Ani menyebut IGS tidak hanya berfokus pada makanan. Program tersebut juga menekankan nilai budaya dan identitas yang terkandung di dalam setiap sajian kuliner.
"Konstituen internasional, kalangan diplomatik, masyarakat asing itu bisa tidak hanya menikmati kuliner Indonesia, tetapi yang terpenting adalah narasi di balik itu dan juga identitas yang dibawa," kata Ani.
3. Makassar jadi tuan rumah seri ke-6 IGS

Lebih lanjut, Ani menjelaskan bahwa IGS telah digelar di beberapa daerah sebelumnya. Makassar kemudian ditunjuk sebagai tuan rumah untuk seri ke-6 kegiatan tersebut.
"Jadi sebelumnya kami juga sudah pernah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan tahun lalu dengan Nusa Tenggara Barat dan kali ini satu kebanggaan kita bisa bekerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar," katanya.


















