Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Huntara Korban Gempa Sigi Mulai Dibangun, Tahap Awal 50 Unit

Huntara Korban Gempa Sigi Mulai Dibangun, Tahap Awal 50 Unit
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (rompi) mengecek tenda keluarga dan memberikan bantuan di Desa Komarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (19/6/2026). (Dok. BNPB)
Share Article

Makassar, IDN Times – Pemerintah terus mengupakan penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada 16 April 2026 lalu. Memasuki hari kedelapan masa tanggap darurat, pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak mulai dilakukan.

Peletakan batu pertama pembangunan huntara tahap pertama dilaksanakan di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki, Rabu (24/6/2026). Langkah ini menjadi bagian dari percepatan pemulihan bagi ribuan warga yang terdampak bencana.

1. BNPB mulai bangun 50 huntara tahap pertama

Kepala Pusat Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Konferensi Pers BNPB. (Dok/Youtube BNPB).
Kepala Pusat Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Konferensi Pers BNPB. (Dok/Youtube BNPB).

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan pembangunan huntara tahap awal dilakukan berdasarkan data penerima bantuan yang telah diverifikasi pemerintah daerah.

Menurut Abdul, Bupati Sigi telah menetapkan Surat Keputusan Berita Acara Nama dan Alamat (BNBA) untuk 50 unit rumah pada tahap pertama. Sementara itu, proses verifikasi untuk tahap selanjutnya masih terus berjalan.

“Pembangunan huntara tahap pertama tersebut menjadi langkah penting dalam percepatan pemulihan masyarakat terdampak,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).

Selain pembangunan hunian, pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BPBD, TNI, Polri, dan sejumlah unsur terkait juga mulai memperbaiki infrastruktur darurat, termasuk pemasangan bronjong serta jaringan air bersih di Kecamatan Nokilalaki.

2. BNPB waspadai potensi banjir bandang

 Tim gabungan melakukan pembukaan bendung alami yang terbentuk akibat gempabumi di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamaror
Tim gabungan melakukan pembukaan bendung alami yang terbentuk akibat gempabumi di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamarora, Selasa (23/6/2026). (Dok. BNPB)

Di tengah proses pemulihan, BNPB juga memberi perhatian serius terhadap potensi bencana susulan berupa banjir bandang. Hal itu berkaitan dengan terbentuknya bendung alami akibat longsoran material di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamarora.

Abdul Muhari menyebut tim gabungan kini melakukan pembukaan bendung alami menggunakan jet water untuk mengurai material kayu dan bebatuan yang menyumbat aliran sungai. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi risiko penumpukan air saat hujan deras.

“Masalah potensi banjir bandang, itu jangan dilupakan. Kalau kemudian hujan lalu air tertahan oleh material longsoran di atas, kemudian bisa terjadi banjir bandang nanti muncul korban baru,” ujar Abdul mengutip arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.

Ia menegaskan pembersihan material longsor akan terus dilakukan dengan dukungan operasional BNPB agar ancaman bencana susulan bisa diminimalkan.

3. Gempa susulan capai 1.349 kali, ribuan rumah rusak

Kerusakan rumah warga akibat gempabumi yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026). (BPBD Kabupaten Sigi)
Kerusakan rumah warga akibat gempabumi yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026). (BPBD Kabupaten Sigi)

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika hingga Selasa (23/6/2026) pukul 24.00 waktu setempat, tercatat sudah terjadi 1.349 gempa susulan sejak gempa utama pada 16 Juni 2026. Dari jumlah itu, 49 gempa dirasakan masyarakat dengan kekuatan terbesar magnitudo 5,3.

Abdul Muhari menjelaskan aktivitas gempa susulan kini menunjukkan tren penurunan. Namun, pemerintah daerah masih menetapkan status tanggap darurat hingga 30 Juni 2026.

Sementara itu, dampak sementara mencatat sebanyak 3.600 kepala keluarga atau 9.609 jiwa terdampak. Kerusakan meliputi 1.979 rumah rusak ringan, 277 rumah rusak sedang, dan 277 rumah rusak berat.

Selain rumah warga, gempa juga merusak 110 rumah ibadah, 19 gedung perkantoran, 35 sekolah, 10 puskesmas, dua rumah adat, dua jaringan air bersih, serta enam fasilitas umum lainnya. BNPB memastikan pendampingan akan terus dilakukan hingga masuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Pemprov Sulsel Dorong Jalan Barombong Masuk Usulan Inpres Jalan Daerah

27 Jun 2026, 22:10 WIBNews