Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hujan di Makassar usai Kemarau Panjang, BMKG: Masih Musim Transisi

Kota Makassar
Hujan di Makassar usai Kemarau Panjang, BMKG: Masih Musim Transisi
Ilustrasi petugas prakirawan cuaca di BMKG (IDN Times/Dok Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang)
Share Article

Makassar, IDN Times - Pada Selasa (24/10/2023) sore, Kota Makassar diguyur hujan yang cukup deras namun berlangsung singkat. Hujan ini pun disambut gembira oleh masyarakat setelah kemarau dan kekeringan selama berbulan-bulan.

Namun hujan yang terjadi kemarin belum tentu adalah penanda bahwa musim hujan tiba. Sehari setelahnya, cuaca kembali cerah dan panas seperti sebelumnya.

"Belum bisa dikatakan sebagai awal musim hujan. Soalnya memang kalau untuk analisis kami membutuhkan data masukan yang cukup banyak," kata Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Rifki Yudha, saat dihubungi IDN Times, Rabu (25/10/2023).

1. Belum jadi penanda masuknya musim hujan

Ilustrasi hujan (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi hujan (IDN Times/Sukma Shakti)

Rifki menjelaskan bahwa awal masuknya musim hujan ditandai dengan curah hujan lebih dari 50 mm selama satu dasarian atau 10 hari dan diikuti oleh dasarian berikutnya. Sedangkan hujan kemarin belum memenuhi kriteria tersebut sehingga belum dapat dikatakan sebagai awal musim hujan.

"Sekitar awal bulan Desember kami bisa menentukan pada periode November mana itu kita masuk musim hujan karena memang prakiraan awal musim hujannya di wilayah Makassar dan sekitarnya di pertengahan bulan November," kata Rifki.

2. Saat ini transisi dari musim kemarau ke musim hujan

Ilustrasi suasana hujan di perkotaan. (IDN Times/Besse Fadhilah)
Ilustrasi suasana hujan di perkotaan. (IDN Times/Besse Fadhilah)

Hujan yang terjadi kemarin disebabkan awan konvektif (cumulonimbus) yang tumbuh di atas wilayah Makassar dan sekitarnya. Awan tersebut dapat mengakibatkan hujan sedang disertai kilat/petir dan angin kencang secara tiba-tiba.

Fenomena hujan ini masih tergolong hal yang normal. Ini merupakan salah satu fenomena yang sering muncul saat musim peralihan atau transisi dari musim kemarau ke musim hujan.

"Tetap kami bilang seperti itu (hujan transisi). Berdasarkan analisis kami, memang saat ini telah memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan," kata Rifki.

3. El Nino diprediksi bertahan sampai Februari 2024

Ilustrasi - Ruang pengamatan cuaca BMKG (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Ilustrasi - Ruang pengamatan cuaca BMKG (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Untuk fenomena El Nino sendiri, BMKG memprediksinya kategori moderate akan bertahan pada Februari 2024 mendatang. Kemudian setelah Februari, maka El Nino akan semakin meluruh atau semakin berkurang intensitasnya.

"Fenomena El Nino berakhir seiring dengan musim hujan," kata Rifki.

Meski begitu, BMKG belum bisa memprediksi apakah tahun depan ada fenomena La Nina atau tidak seperti yang terjadi pada musim hujan tahun lalu. La Nina adalah kebalikan dari El Nino yang umumnya ditandai dengan peningkatan curah hujan bulanan.

"Kemungkinan bisa tapi nanti kita akan lihat terlebih dahulu bagaimana prediksi suhu muka laut di wilayah Pasifik untuk bisa memberikan statement apakah tahun 2024 itu ada fenomena La Nina atau tidak," kata Rifki.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More