HMI Tutup Jalan di Makassar, Kritik MBG hingga Harga BBM

- Sejumlah mahasiswa HMI UIN Alauddin Makassar menutup jalan di pertigaan Sultan Alauddin–AP Pettarani sebagai bentuk protes terhadap kebijakan rezim Prabowo–Gibran.
- Massa aksi menuntut evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum tepat sasaran dalam upaya menekan angka stunting.
- HMI Cagora juga menyoroti kenaikan harga BBM non-subsidi serta isu internal kampus, termasuk keamanan dan pencabutan Surat Edaran Nomor 3652.
Makassar, IDN Times - Sekitar sepuluh mahasiswa UIN Alauddin dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiah dan Keguruan Cabang Gowa Raya (Cagora) menggelar aksi unjuk rasa dengan cara menutup pertigaan Jalan Sultan Alauddin - AP Pettarani, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (22/6/2026).
Aksi tutup jalan yang mereka lakukan sebagai bentuk protes terhadap rezim Prabowo - Gibran. Beberapa isu yang menjadi tuntutan massa mulai dari sektor pendidikan, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
1. Mahasiswa bentangkan spanduk "Reformasi Jilid 2"

Pantauan di lokasi, massa memblokade ruas jalan menggunakan truk kontainer sambil membakar ban bekas. Massa juga terlihat membentangkan spanduk bertuliskan "Reformasi Jilid 2".
Jenderal Lapangan Aksi, Maulana Aksan (21) mengatakan aksi yang dilakukan sebagai kritik terhadap berbagai kebijakan yang dinilai belum berpihak pada masyarakat. Salah satunya terkait kenaikan harga BBM non-subsidi yang dikhawatirkan berdampak lebih luas ke depannya.
"Kami melihat ada banyak persoalan hari ini, mulai dari harga BBM yang terus naik hingga sektor pendidikan yang dinilai tidak lagi menjadi prioritas," kata Maulana saat ditemui di sela aksi, Senin (22/6/2026).
2. Minta evaluasi program MBG

Selain itu, HMI juga menyoroti pelaksanaan program MBG. Mereka menilai program tersebut perlu dievaluasi karena dinilai belum berjalan sesuai tujuan awal untuk menekan angka stunting.
Maulana menegaskan pihaknya tidak meminta program MBG dihentikan secara permanen. Namun, pemerintah diminta melakukan evaluasi menyeluruh agar pelaksanaannya lebih tepat sasaran.
"Kami tidak meminta program ini dibubarkan, tetapi dievaluasi dan diperbaiki kembali agar sesuai dengan tujuan awalnya," ujar Kabid PTKP HMI Komisariat Tarbiah dan Keguruan Cagora tersebut.
3. HMI Cagora juga soroti internal kampus

Terkait kenaikan harga BBM non-subsidi, HMI menilai kebijakan tersebut tetap berpotensi membebani masyarakat. Mereka juga khawatir kenaikan tersebut dapat berdampak pada harga BBM subsidi di masa mendatang sehingga perlu mendapat perhatian sejak dini.
"Kami juga khawatir kenaikan harga BBM non-subsidi dapat menjadi awal dari kenaikan BBM subsidi di kemudian hari. Karena itu, kami memilih menyuarakan persoalan ini sejak sekarang sebagai bentuk pencegahan agar dampaknya tidak semakin meluas kepada masyarakat," tandasnya.
Tak hanya isu nasional, HMI Komisariat Tarbiah dan Keguruan Cagora juga menyoriti internal kampus UIN Alauddin Makassar, seperti keamanan kampus, hingga pencabutan Surat Edaran Nomor 3652.



















