Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Fakta Tradisi Tudang Sipulung di Sulsel, Bukan Sekadar Berkumpul
Para pejabat di Distrik Bone, Sulawesi Selatan, antara tahun 1910 hingga 1930. (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)
  • Tudang sipulung adalah tradisi musyawarah masyarakat Bugis-Makassar yang diwariskan sejak abad ke-16 dan diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2016.
  • Tradisi ini menjadi forum demokrasi setara bagi semua lapisan masyarakat untuk mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, serta merencanakan kegiatan bersama secara mufakat.
  • Bagi petani, tudang sipulung berfungsi menentukan masa tanam dan menjaga ketahanan pangan, sekaligus melestarikan nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge dalam kehidupan sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan (Sulsel) dikenal memiliki nilai solidaritas yang sangat tinggi. Salah satu bukti nyatanya dapat dilihat dari tradisi tudang sipulung. Secara harfiah, tudang sipulung berarti 'duduk berkumpul untuk bermusyawarah.'

Tradisi sarat nilai gotong royong ini telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kemendikbudristek sejak tahun 2016, dengan nomor registrasi 201600409. Ingin tahu bagaimana tradisi ini menjadi dasar kedamaian warga Sulsel? Yuk, simak 3 fakta singkatnya berikut ini!

1. Menjadi ruang demokrasi dan musyawarah mufakat masyarakat Bugis

Para bangsawan Bone, Sulawesi Selatan, antara 1910-an hingga 1930-an. (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)

Dalam buku "Islam dan Budaya Lokal" (Penerbit Adab, 2021), tradisi ini sudah dilakukan oleh masyarakat Bugis-Makassar secara turun temurun. Menurut riwayat, tudang sipulung ini diperkenalkan oleh cendikiawan Kerajaan Sidenreng, yakni La Pagala, atau lebih dikenal masyarakat sebagai Nene' Mallomo, yang hidup pada abad ke-16.

Tudang sipulung sendiri berfungsi sebagai wadah pengambilan keputusan. Di sini, semua lapisan masyarakat, bangsawan hingga rakyat biasa, duduk bersama secara setara tanpa memandang kasta atau status sosial. Tradisi ini menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan pendapat, menyelesaikan konflik, hingga merencanakan kegiatan bersama. Semua persoalan diselesaikan dengan kepala dingin melalui prinsip musyawarah untuk mencapai mufakat.

2. Penentu masa tanam dan sistem ketahanan pangan para petani

Hamparan sawah siap panen yang berada di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. (Pratama.putra21, Hamparan sawah siap panen di Jeneponto, CC BY-SA 4.0)

Tudang sipulung tak selalu bersifat politik. Tradisi tersebut kerap digelar oleh para petani sebelum musim tanam dimulai. Kegiatan ini masih menjadi agenda wajib di beberapa daerah di Sulsel.

Dalam buku "Eksistensi Nilai-Nilai Lokal Pertanian" (Penerbit Uwais, 2023), tudang sipulung jelang musim tanam diikuti oleh para petani, tokoh adat, dan pemerintah setempat. Mereka berkumpul untuk menentukan jadwal turun sawah, varietas padi yang akan ditanam, hingga pengaturan sistem irigasi. Komunikasi dua arah ini kerap berhasil mencegah gagal panen dan menjaga ketahanan pangan daerah.

3. Sarana pelestarian nilai mulia "Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge"

Suasana perkampungan di Segeri, yang kini menjadi wilayah Kabupaten Pangkep, antara tahun 1900 dan 1919. (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Culture)

Tudang sipulung sendiri diakui bukan sekadar ruang diskusi formal, melainkan penerapan dari tiga pilar falsafah hidup masyarakat Sulsel. Mulau dari sipakatau (saling memanusiakan sebagai sesama manusia), sipakalebbi (saling menghargai dan menghormati perbedaan pendapat), dan sipakainge (saling mengingatkan demi kebaikan bersama).

Melalui tradisi duduk berkumpul ini, ketiga nilai luhur tersebut terus dijaga. Ini juga sebagai bentuk mewariskan tudang sipulung kepada generasi penerus agar ikatan kebersamaan (mabbulo sipeppa) warga tetap terjaga.

Nah, itulah 3 fakta menarik tentang tudang sipulung, Warisan Budaya Takbenda dari Sulsel. Ini jadi bukti bahwa musyawarah selalu menjadi solusi terbaik dalam menghadapi setiap tantangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article