"Biarlah kita turunkan Batara Guru
anak sulung kita ke permukaan bumi, Datu Palingéq,
untuk dipersiapkan menjadi raja di Boting Langiq,
yang selalu membimbing
sesamanya anak dewata di langit."
(Hal. 125 buku "La Galigo: Menurut Naskah NBG 188 Jilid 1", Yayasan Obor Indonesia, 2017)
Mengulik Proses Penciptaan Semesta Versi Bugis di Naskah I La Galigo

- Naskah I La Galigo dari Sulawesi Selatan menggambarkan kosmologi Bugis kuno dengan tiga lapisan semesta: Dunia Atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah yang saling terhubung.
- Batara Guru diutus oleh Patotoqe untuk memakmurkan Dunia Tengah dan menikahi We Nyiliq Timoq dari Dunia Bawah sebagai simbol penyatuan langit dan laut.
- Manusia berperan menjaga keseimbangan antara dunia atas dan bawah, sementara bissu menjadi penjaga spiritual agar harmoni antar penghuni semesta tetap terjaga.
Makassar, IDN Times - Pernah mendengar tentang epos sastra terpanjang di dunia? Bukan dari Yunani atau India, predikat tersebut justru dipegang oleh naskah asal Sulawesi Selatan (Sulsel), yakni I La Galigo.
Dengan lebih dari 300.000 larik puisi, naskah ini menceritakan banyak hal, termasuk bagaimana dunia ini bermula menurut kepercayaan Bugis kuno. Penasaran bagaimana proses penciptaan alam semesta versi mitologi Bugis? Simak 5 poin menariknya berikut ini!
1. Semesta terbagi menjadi tiga yakni Dunia Atas, Dunia Tengah dan Dunia Bawah

Dalam naskah I La Galigo, alam semesta tidak hanya satu melainkan terbagi menjadi tiga struktur besar yang saling terhubung dan menopang. Pertama yakni Boting Langiq (Dunia Atas), kediaman para dewa yang dipimpin oleh Patotoqe (Sang Penentu Nasib).
Lalu ada Ale Lino (Dunia Tengah) yakni bumi tempat manusia tinggal dan berpijak, yang awalnya kosong melompong. Di bawahnya adalah Buri Liu (Dunia Bawah), kerajaan bawah laut yang dikuasai oleh penguasa samudra.
2. Batara Guru diutus ke Dunia Tengah (Bumi) yang masih kosong melompong

Cerita bermula ketika Patotoqe di Dunia Atas berdiskusi dengan dewan dewa. Ia melihat Bumi (Ale Lino) masih sepi dan gelap. Patotoqe kemudian memutuskan untuk mengirim putra sulungnya, Batara Guru, turun ke Bumi untuk menjadi penguasa pertama. Tujuannya yakni memakmurkan dunia tersebut, sekaligus disiapkan menjadi penerus kekuasaan di Dunia Atas.
3. Anak penguasa Dunia Bawah, We Nyiliq Timoq, dipilih sebagai istri Batara Guru

Turunnya Batara Guru ke bumi bukanlah hal yang sederhana. Ia harus melalui ritual dan persiapan panjang sebelum dikirim oleh sang ayah dengan cara ditempatkan ke dalam batang bambu dan diturunkan ke Dunia Tengah. Di Bumi, ia tidak sendiri. Untuk menjadi pendamping hidupnya, dipilihlah We Nyiliq Timoq sang putri dari penguasa Dunia Bawah. Pernikahan mereka berdua melambangkan penyatuan antara elemen langit dan elemen air, yang menjadi cikal bakal kehidupan manusia di bumi.
Dengan gembira sekali Batara Guru berkata,
"Maukah gerangan, Paduka Adinda,
kuberikan harta yang banyak
sehingga agar berkenan berangkat ke Alé Luwuq.
Tak ada duamu, Paduka Adinda,
yang diturunkan untuknya istana kemilau
menjadi pemilik negeri di permukaan bumi."
(Hal. 159 buku "La Galigo: Menurut Naskah NBG 188 Jilid 1", Yayasan Obor Indonesia, 2017)
4. Manusia hidup di "titik temu" sebagai penjaga keseimbangan Dunia Atas dan Dunia Bawah

Dalam kosmologi Bugis, posisi manusia ternyata sangat krusial. Menurut naskah I La Galigo, manusia hidup di "titik temu" antara dunia langit dan dunia bawah laut. Tugas utamanya bukan hanya sekadar tinggal, melainkan menjadi penjaga harmoni agar kekuatan dari atas dan bawah tetap seimbang di bumi.
5. Bissu berperan menjaga tatanan penghuni langit, bumi dan bawah laut tetap harmonis

Bissu memiliki peran penting dalam kosmologi Bugis. Peran spiritual mereka yakni memastikan hubungan antara penghuni langit, bumi, dan bawah laut tetap harmonis. Tanpa restu dan ritual para bissu, tatanan dunia dianggap bisa goyah.
"Di Segeri (wilayah Pangkep), beberapa ritual yang dipimpin oleh bissu memiliki makna mendalam, baik sebagai proses spiritual maupun simbol hubungan masyarakat dengan leluhur dan dewa-dewa," jelas pemerhati naskah lontara, Andi Fahri Makkasau, tentang posisi bissu dalam buku Bunga Rampai Sejarah Pangkep (LovRinz Publishing, 2026).


















