[KLASIK] Piala Liga Kembali, Memori Makassar Utama Jawara Edisi 1986
![[KLASIK] Piala Liga Kembali, Memori Makassar Utama Jawara Edisi 1986](https://image.idntimes.com/post/20250424/460821731-2284584051874600-1881088136233521545-n-5842d6e549f3c7b72e71e1c0d5f41109-59d5535f542391c5ed3828ff701b65fc.jpg)
- PSSI dan I.League resmi mengumumkan kembalinya turnamen Piala Liga untuk musim 2026/2027, menghadirkan kembali ajang yang pernah populer di era Galatama.
- Makassar Utama menjadi sorotan karena kenangan manis saat menjuarai Piala Liga 1986, setelah tampil mengejutkan dengan mengalahkan tim-tim kuat Galatama.
- Dengan kombinasi pemain muda dan senior serta strategi pelatih Saleh Bahang, Makassar Utama sukses menundukkan Niac Mitra 1-0 di final dan membawa pulang trofi bersejarah.
Makassar, IDN Times - Operator kompetisi I.League resmi merilis kalender sepak bola nasional untuk musim 2026/2027 pada Kamis (21/5/2026) lain. Selain menetapkan jadwal Super League dan Championship yang dimulai pada September mendatang, gebrakan paling menarik perhatian adalah keputusan PSSI dan I.League untuk kembali menggulirkan turnamen League Cup (Piala Liga) yang akan berjalan bersamaan dengan liga.
Dilansir dari situs resmi I.League, League Cup ini dirancang untuk memperbanyak ruang klub berkompetisi. Namun, bagi publik sepak bola Sulawesi Selatan (Sulsel), kembalinya kompetisi ini memutar kembali memori 40 tahun silam. Sebelum era modern saat ini, klub lain asal Kota Daeng, Makassar Utama, sudah lebih dulu menjuarai Piala Liga edisi kedua pada tahun 1986.
1. Menjadi kuda hitam sebab bisa mengalahkan tim-tim kuat Galatama di fase penyisihan grup

Turnamen Piala Liga pada dekade 1980-an menggunakan format setengah kompetisi dan dilanjutkan fase gugur. Peserta Piala Liga adalah para tim peserta kompetisi Galatama, liga yang berstatus semi-profesional. Sebanyak 9 tim terbagi menjadi 2 grup, yakni Wilayah Barat (5 tim) dan Wilayah Timur (4 tim). Di edisi 1986, Makassar Utama tergabung di Wilayah Timur yang berlangsung di Stadion Gelora 10 November, Surabaya, pada akhir April 1986.
Dikepung tim-tim kuat Galatama, Makassar Utama justru tampil mengejutkan. Mereka membungkam tuan rumah Niac Mitra dengan skor 1-0 di laga pembuka, dan menekuk Perkesa 78 Sidoarjo dengan skor 2-1. Meski sempat kalah 2-3 dari Arseto Solo, Makassar Utama keluar sebagai juara Wilayah Timur dengan koleksi 6 poin dan berhak melaju ke babak semifinal di Jakarta bersama Niac Mitra sebagai runner-up.
2. Skuat Makassar Utama saat itu mengandalkan kombinasi para pemain muda dan senior

Kolektivitas permainan dan mentalitas petarung dari juru taktik Saleh Bahang membuat Makassar Utama menjadi tim kuda hitam di Piala Liga 1986. Padahal, saat itu mereka harus bersaing dengan klub-klub bermodal besar di era Galatama. Skuat mereka waktu itu berisi kombinasi pemain muda dan senior. Ada bek Franky Weno, gelandang Benny Titamena, penyerang Mustari Ato, Donny Pattinasarany, Ruslan Kasim, Karman Kamaluddin dan Burhanuddin di bawah mistar gawang.
Masuk babak semifinal yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (dulu Senayan), Jakarta, pada 30 April 1986, taji klub bentukan pengusaha Jusuf Kalla tersebut tidak terbendung. Di bawah racikan strategi pelatih legendaris Saleh Bahang dan kepemimpinan sang kapten tim, Sumirlan, Makassar Utama sukses menggilas Semen Padang dengan skor telak 3-1 untuk menyegel tiket final.
3. Mengalahkan Niac Mitra dengan skor 1-0 di partai final yang berlangsung di Jakarta pada 1 Mei 1986
Laga puncak yang berlangsung pada 1 Mei 1986 jadi klimaks yang manis bagi sejarah sepak bola Sulsel. Makassar Utama kembali bertemu dengan raksasa Jawa Timur, Niac Mitra, yang lolos ke final usai menang adu penalti melawan tim asal Palembang yakni Krama Yudha Tiga Berlian.
Bermain di hadapan ribuan penonton yang memadati Senayan, Sumirlan dan kawan-kawan tampil disiplin dan tak gentar dengan nama besar lawan. Makassar Utama akhirnya keluar sebagai juara Piala Liga 1986 setelah menekuk Niac Mitra dengan skor tipis 1-0. Satu-satunya gol dalam laga tersebut dicetak oleh Ruslan Kasim pada menit ke-51.
Gelar tersebut tempatkan Makassar Utama di dalam daftar elite peraih trofi Piala Liga, yang kemudian berganti nama menjadi Piala Galatama. Bersanding dengan mereka ada Arseto Solo (1985), Krama Yudha Tiga Berlian yang mendominasi edisi berikutnya (1987-1989), Semen Padang (1992), serta tim asal Denpasar yakni Gelora Dewata (1993).
















