Makassar, IDN Times - Di lorong sempit Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, matahari harus bersusah payah menyentuh tanah. Rumah-rumah berdesakan saling bersandar seolah berbagi napas di atas lahan seluas 0,6 kilometer persegi yang disesaki lebih dari enam ribu jiwa. Di kawasan pesisir utara kota ini, aroma anyir hasil laut bercampur dengan ancaman pasang rob yang kerap menyusup ke lantai rumah warga.
Namun di balik kerentanan ekologis dan tata ruang yang sesak itu, ada bahaya lain yang mengintai dalam diam. Di Pattingalloang, aib adalah beban yang bisa membunuh.
Sebut saja namanya Fitri. Usianya baru 15 tahun dan ia adalah seorang penyandang disabilitas intelektual. Suatu hari pada tahun 2023, keputusasaan hampir menelan anak malang itu ketika ia diketahui hamil. Janin di rahimnya bukan buah dari asmara, melainkan jejak keji dari kekerasan seksual. Keluarganya kalut. Dihimpit rasa malu dan ketidaktahuan yang pekat, sekelumit niat muncul di kepala mereka untuk mengakhiri saja hidup Fitri. Anak yang sebelumnya kerap dieksploitasi sekadar untuk memancing iba demi kepingan rupiah itu, berada di tubir maut di rumahnya sendiri.
Di titik nadir itulah Nuraeni melangkah masuk.
"Saya bilang ke mereka, orang normal saja bisa hamil tanpa menikah, apalagi anak yang tidak memahami apa yang terjadi," tutur Nuraeni mengenang masa-masa genting itu. Suaranya memendam gurat perlawanan yang telah ia rawat bertahun-tahun.
Nuraeni bukanlah pejabat berwenang dengan lencana di dada. Ia adalah seorang perempuan pesisir pemrakarsa Shelter Puanmakari, kependekan dari Perempuan Mandiri dan Anak Percaya Diri. Di tangannya, sebuah rumah aman dibangun dari ketiadaan lalu mewujud menjadi posko aduan, ruang konseling, sekaligus barikade pertama yang menahan laju kekerasan.
Kasus Fitri nyatanya hanyalah puncak gunung es dari realitas pahit di Makassar. Sepanjang tahun 2025 saja, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat ada 134 kasus kekerasan seksual terhadap anak.
Bagi Nuraeni, angka laporan yang terus naik ini memiliki dua sisi. "Semakin banyak laporan yang masuk, berarti semakin banyak pula masyarakat yang sadar dan berani melapor ketika mengalami kekerasan," ujarnya. Keberanian itu mulai tumbuh karena kini mereka tahu ada tempat yang aman untuk mengadu.
Sebagai seseorang yang sudah puluhan tahun menyelami karut-marut sosial di Ujung Tanah, Nuraeni memegang satu tesis kuat bahwa kekerasan sering kali bermuara dari dapur yang tidak mengepul.
"Bagi kami, kekerasan sering kali bersumber dari kondisi ekonomi yang tidak sehat," jelasnya. "Jika masalahnya karena faktor ekonomi, misalnya penyebab KDRT akibat tekanan finansial, kami berupaya memberi solusi."
