Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dapur Perlawanan Puanmakari, Memutus Rantai Kekerasan dari Meja Makan

Dapur Perlawanan Puanmakari, Memutus Rantai Kekerasan dari Meja Makan
Nuraeni, pendiri Shelter Puanmakari di Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. (IDN Times/Aan Pranata)
Intinya Sih
  • Nuraeni mendirikan Shelter Puanmakari di Pattingalloang, Makassar, sebagai rumah aman dan pusat pendampingan korban kekerasan berbasis komunitas yang lahir dari kepedulian terhadap kasus kekerasan seksual anak.
  • Melalui dapur kolektif dan kelompok wanita nelayan Fatimah Azzahrah, perempuan pesisir diberdayakan secara ekonomi dengan mengolah hasil laut untuk membiayai kegiatan pemulihan psikologis anak-anak korban kekerasan.
  • Dukungan CSR Pertamina memperkuat layanan Puanmakari hingga menjadi percontohan nasional, sementara perjuangan Nuraeni terus berlanjut menghadapi tantangan ekonomi dan sosial demi ruang aman bagi perempuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Makassar, IDN Times - Di lorong sempit Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, matahari harus bersusah payah menyentuh tanah. Rumah-rumah berdesakan saling bersandar seolah berbagi napas di atas lahan seluas 0,6 kilometer persegi yang disesaki lebih dari enam ribu jiwa. Di kawasan pesisir utara kota ini, aroma anyir hasil laut bercampur dengan ancaman pasang rob yang kerap menyusup ke lantai rumah warga.

Namun di balik kerentanan ekologis dan tata ruang yang sesak itu, ada bahaya lain yang mengintai dalam diam. Di Pattingalloang, aib adalah beban yang bisa membunuh.

Sebut saja namanya Fitri. Usianya baru 15 tahun dan ia adalah seorang penyandang disabilitas intelektual. Suatu hari pada tahun 2023, keputusasaan hampir menelan anak malang itu ketika ia diketahui hamil. Janin di rahimnya bukan buah dari asmara, melainkan jejak keji dari kekerasan seksual. Keluarganya kalut. Dihimpit rasa malu dan ketidaktahuan yang pekat, sekelumit niat muncul di kepala mereka untuk mengakhiri saja hidup Fitri. Anak yang sebelumnya kerap dieksploitasi sekadar untuk memancing iba demi kepingan rupiah itu, berada di tubir maut di rumahnya sendiri.

Di titik nadir itulah Nuraeni melangkah masuk.

"Saya bilang ke mereka, orang normal saja bisa hamil tanpa menikah, apalagi anak yang tidak memahami apa yang terjadi," tutur Nuraeni mengenang masa-masa genting itu. Suaranya memendam gurat perlawanan yang telah ia rawat bertahun-tahun.

Nuraeni bukanlah pejabat berwenang dengan lencana di dada. Ia adalah seorang perempuan pesisir pemrakarsa Shelter Puanmakari, kependekan dari Perempuan Mandiri dan Anak Percaya Diri. Di tangannya, sebuah rumah aman dibangun dari ketiadaan lalu mewujud menjadi posko aduan, ruang konseling, sekaligus barikade pertama yang menahan laju kekerasan.

Kasus Fitri nyatanya hanyalah puncak gunung es dari realitas pahit di Makassar. Sepanjang tahun 2025 saja, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat ada 134 kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Bagi Nuraeni, angka laporan yang terus naik ini memiliki dua sisi. "Semakin banyak laporan yang masuk, berarti semakin banyak pula masyarakat yang sadar dan berani melapor ketika mengalami kekerasan," ujarnya. Keberanian itu mulai tumbuh karena kini mereka tahu ada tempat yang aman untuk mengadu.

Sebagai seseorang yang sudah puluhan tahun menyelami karut-marut sosial di Ujung Tanah, Nuraeni memegang satu tesis kuat bahwa kekerasan sering kali bermuara dari dapur yang tidak mengepul.

"Bagi kami, kekerasan sering kali bersumber dari kondisi ekonomi yang tidak sehat," jelasnya. "Jika masalahnya karena faktor ekonomi, misalnya penyebab KDRT akibat tekanan finansial, kami berupaya memberi solusi."

Benteng terakhir perempuan Ujung Tanah

Shelter Puanmakari di Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. (IDN Times/Aan Pranata)
Shelter Puanmakari di Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. (IDN Times/Aan Pranata)

Solusi itu tidak datang dari proposal muluk, melainkan lahir dari dapur.

Jauh sebelum Puanmakari punya nama, Nuraeni lebih dulu menggerakkan Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Azzahrah. Ini bukan sekadar arisan ibu-ibu. Di sebuah dapur kolektif, tangan-tangan yang biasanya menanggung memar dan beban ganda domestik itu mulai terampil mengolah hasil tangkapan laut. Mereka meracik bakso ikan, nugget, otak-otak, hingga asinan cabai. Dapur itu mengubah keputusasaan menjadi benteng kemandirian ekonomi.

Kemandirian itu pula yang sempat membuat tim Australia Indonesia Muslim Exchange Program keheranan saat berkunjung ke sana.

"Dia tanya bagaimana kami bisa menjalankan semua ini tanpa dana tetap," kata Nuraeni sambil tersenyum tipis. "Saya bilang, modal utama kami berasal dari usaha kelompok wanita nelayan Fatimah Azzahrah."

Dari laba penjualan olahan ikan itulah Nuraeni membiayai detak jantung pergerakannya yang diberi nama Sekolah Anak Percaya Diri. Tempat ini bukanlah sekolah formal yang memaksa anak-anak mengejar nilai akademik.

"Di Shelter Puanmakari, kami berfokus pada pembentukan karakter dan kepercayaan diri anak-anak," papar Nuraeni.

Di bawah atap sekolah itu, puluhan anak diajak merakit kembali senyum mereka dengan belajar menari, membaca puisi, hingga bermain futsal. Tujuannya hanya satu, mengembalikan kepercayaan diri yang pernah dirampas oleh kekerasan.

Model unik yang mensubsidi pemulihan psikologis anak melalui ekonomi perempuan ini akhirnya menarik perhatian entitas raksasa. PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi turun tangan memberi dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Bantuan yang datang membuat layanan Puanmakari menjadi jauh lebih komprehensif, termasuk hadirnya tenaga psikolog profesional.

“Ya bantuannya berupa berbagai perlengkapan untuk mewadahi kegiatan, mulai dari kipas angin, kursi, pengeras suara, hingga bantuan penyusunan kurikulum untuk kegiatan belajar," urai Nuraeni.

Kolaborasi ini melahirkan gema yang jauh. Puanmakari didaulat menjadi percontohan nasional dalam hal pendampingan korban kekerasan berbasis komunitas. Program inovasi sosial ini pulalah yang turut mengantarkan Pertamina meraih ganjaran PROPER Emas secara berturut-turut pada 2023 dan 2024, disusul penghargaan Silver Award dalam ajang CSR and PDB Awards 2025.

Fanda Chrismianto selaku Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melihat pencapaian ini lebih dari sekadar deretan angka.

“Puanmakari adalah bukti bahwa keberhasilan bisnis bisa berjalan berdampingan dengan keberpihakan pada kemanusiaan. Kami akan terus mendukung lahirnya inovasi sosial lain yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, karena inilah esensi keberlanjutan yang sesungguhnya,” ujar Fanda.

Kemandirian ekonomi demi ruang aman para perempuan

Namun di lorong pesisir Pattingalloang, penghargaan di atas kertas bukanlah akhir dari cerita. Bagi Nuraeni, napas perjuangan masih sangat panjang dan penuh kerikil tajam. Tantangan terberat justru sering kali lahir dari dalam rumah keluarga korban itu sendiri.

"Kadang keluarga merasa tersinggung ketika kasus mereka ditangani," ungkap Nuraeni lirih.

Siklus kekerasan di pesisir ini terus berputar layaknya pasang surut air laut. "Sering kali setelah melapor mereka kembali ke rumah dan mencabut laporan."

Ketergantungan ekonomi sang istri kepada suami yang menjadi pelaku kekerasan rupanya masih menjadi rantai yang paling sulit diputus. Operasional rumah aman ini pun masih berjalan layaknya maraton di jalanan menanjak. Meski produk olahan ikan mereka mulai laku di lokapasar, uang yang didapat belum bisa menutupi semuanya.

"Barang kami memang laku, tapi hasilnya belum seimbang dengan kebutuhan operasional," keluhnya. Biaya visum korban yang tak murah, ongkos transportasi, hingga honor untuk psikolog resmi adalah kenyataan sehari-hari yang meremas isi kepala Nuraeni.

Meski langkah kakinya kadang terasa berat, Nuraeni dan para perempuan Puanmakari menolak untuk berhenti. Pelayanan mereka kini bahkan telah meluber menjangkau kelurahan tetangga. Validasi terbesarnya bukanlah piala, melainkan melihat anak-anak didiknya melangkah jauh meninggalkan kelamnya masa lalu.

"Hasilnya cukup terlihat di antara para binaan kami," katanya bangga.

Ia lalu merinci deretan nama yang menggetarkan hati. "Ada Risma, penyandang disabilitas sumbing, yang kini kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Ada Nita, anak dari keluarga yang sering berkonflik, diterima berkuliah di Universitas Negeri Makassar. Lalu Dinda, anak korban perceraian, yang kini berkuliah di Universitas Muslim Indonesia."

Matanya menerawang menatap lorong-lorong padat di luar sana.

"Mimpi kami," katanya pelan namun penuh keyakinan, "semua bentuk kekerasan itu bisa dicegah sejak dini."

Di wilayah pesisir Makassar, di antara jaring nelayan yang mengering dan ancaman banjir rob yang tak berkesudahan, Puanmakari terus berdiri. Mereka membuktikan satu hal mutlak bahwa kemandirian ekonomi adalah kunci paling kokoh untuk membuka pintu ruang aman bagi para perempuan.

Share Article
Editorial Team

Latest News Sulawesi Selatan

See More