ilustrasi pemilahan sampah (unsplash.com/Nareeta Martin)
Munafri menegaskan persoalan sampah Makassar tidak bisa diselesaikan hanya dengan kegiatan bersih-bersih maupun mengandalkan TPA. Pemerintah membutuhkan perubahan perilaku masyarakat agar sistem pengelolaan sampah berjalan lebih efektif.
Ia mengakui membangun kebiasaan memilah sampah bukan perkara mudah. Masyarakat selama bertahun-tahun terbiasa mencampurkan berbagai jenis sampah dalam satu wadah sehingga perubahan membutuhkan edukasi secara berkelanjutan.
"Banyak sekali yang skeptis karena kita merubah perilaku, merubah habit yang seperti itu. Ada yang mau stay dengan sistem yang lama, sementara kita harus mendorong bagaimana proses pemilahan ini bisa berjalan," jelasnya.
Munafri mengatakan pemerintah juga membutuhkan dukungan organisasi masyarakat, komunitas, dunia pendidikan hingga kelompok di tingkat kelurahan. Karena itu, ia mengajak KKDB ikut mendorong kebiasaan menjaga kebersihan dan memilah sampah dari lingkungan masing-masing.
"Lewat kesempatan ini, kami mengajak KKDB. Mari kita mulai aksi bersih-bersih lingkungan dan pilah sampah dari rumah untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari sampah," kata Munafri.
Ia menilai kolaborasi tersebut penting karena volume sampah yang masuk ke TPA tidak lagi bisa terus ditangani dengan pola lama. Penanganan dari sumber, menurutnya, menjadi bagian penting untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di hilir.
"Karena kondisi tidak memungkinkan lagi ada penumpukan sampah secara bersamaan ke TPA. Sehingga memang yang harus diselesaikan itu adalah di hilir," tuturnya.