Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

112 Karhutla Terjadi di Sulsel Sepanjang 2026, 1.562 Hektare Terdampak

Kota Makassar
112 Karhutla Terjadi di Sulsel Sepanjang 2026, 1.562 Hektare Terdampak
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
  • Sepanjang Januari-Agustus 2026, Sulawesi Selatan mencatat 112 kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada sekitar 1.562,67 hektare, dengan peningkatan kejadian pada Juli-Agustus.
  • Enrekang mencatat luasan terdampak terbesar, sekitar 1.044,55 hektare dari 10 kejadian; sementara Parepare memiliki kejadian terbanyak, 25 kasus, disusul Pinrang 18 kasus.
  • Kemarau dan suhu meningkat membuat lahan kering rentan terbakar. Penanganan melibatkan lintas sektor melalui pemantauan, patroli, posko, sosialisasi, serta imbauan menghindari pembakaran dan pembuangan puntung rokok.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Data pemerintah mencatat sebanyak 112 kejadian karhutla dengan total luasan hutan dan lahan terdampak sekitar 1.562,67 hektare, berdasarkan penjumlahan luasan yang tercatat dalam data kejadian.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, karhutla terjadi di sejumlah kabupaten/kota. Kejadian meningkat terutama pada periode Juli hingga Agustus 2026 saat kondisi kemarau membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar.

  1. 1. Enrekang catat luasan karhutla terbesar

    Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
    Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

    Kabupaten Enrekang menjadi wilayah dengan luasan hutan dan lahan terdampak terbesar dalam data tersebut. Tercatat 10 kejadian karhutla dengan luasan mencapai sekitar 1.044,55 hektare.

    Selain Enrekang, Tana Toraja mencatat 11 kejadian dengan luasan terdampak 126 hektare. Barru mencatat 5 kejadian dengan luasan 315 hektare, sedangkan Pinrang mencatat 18 kejadian dengan luasan 54,5 hektare.

    Wilayah lain yang turut mencatat kejadian karhutla di antaranya Parepare 25 kejadian, Gowa 5 kejadian, Toraja Utara 5 kejadian, Takalar 5 kejadian, dan Sidrap 5 kejadian. Sementara Luwu 5 kejadian, Luwu Timur 4 kejadian, Luwu Utara 1 kejadian, Palopo 10 kejadian, Bone 1 kejadian, dan Bantaeng 2 kejadian.

  2. 2. Kemarau bikin lahan mudah terbakar

    Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
    Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

    Kepala BPBD Sulsel, Amson Padolo, mengatakan kondisi kemarau ekstrem meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. BMKG sebelumnya juga telah memberikan peringatan terkait peningkatan suhu udara.

    "Memang kemarin sudah ada peringatan dari BMKG terkait peningkatan suhu udara jadi sangat rawan kebakaran hutan dan lahan," kata Amson.

    Menurutnya, kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi pembakaran terbuka. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api.

    "Jangan bakar sampah sembarangan apalagi di daerah-daerah yang kering," jelasnya.

    Amson juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang benda yang masih memiliki bara api secara sembarangan. Salah satunya puntung rokok yang dapat menjadi sumber api dan memicu kebakaran di lahan kering.

    "Puntung rokok juga biasa jadi sumber kebakaran, jangan dibuang sembarangan," katanya.

  3. 3. Penanganan melibatkan lintas sektor

    Ilustrasi karhutla (Dok: istimewa)
    Ilustrasi karhutla (Dok: istimewa)

    Penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, BPBD, Damkar, TNI-Polri, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga masyarakat dan kelompok tani. Pemerintah juga memantau dan mendata luasan lahan yang terdampak sekaligus mengantisipasi munculnya kembali titik api.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sulsel, Kasman, mengatakan kondisi kekeringan membuat hampir seluruh wilayah Sulsel perlu meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, lahan yang kering lebih rentan mengalami kebakaran.

    "Kalau masalah rawan, sebenarnya tergantung kondisi wilayah dan cuacanya. Saat ini hampir semua wilayah di Sulsel mengalami kekeringan, sehingga serasah dan semak yang kering sangat rentan terbakar," katanya.

    Kasman mengimbau masyarakat menghindari pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, api dari lahan warga dapat merembet ke kawasan hutan maupun permukiman.

    Penanganan dan pencegahan karhutla juga diperkuat melalui patroli dan sosialisasi. Koordinasi lintas sektor turut diperkuat di sejumlah wilayah yang rawan terjadi kebakaran.

    "Ada posko, jadi setiap kabupaten ada posko. Kemarin juga dari kepolisian, dari Polda juga sudah melakukan apel kesiap-siagaan untuk karhutla," kata Kasman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More