STIKES Panrita Husada Bulukumba Latih 25 Kader Cegah Stunting

- STIKES Panrita Husada Bulukumba menggandeng 25 kader kesehatan dari lima dusun di Desa Benteng Gantarang melalui Program SAHABAT PANRITA.
- Pelatihan mencakup persiapan laktasi, pijat oksitosin, serta pijat bayi dan balita, disertai penerapan SOP dan media edukasi di lima posyandu.
- Setelah pelatihan, kader akan mendampingi ibu dan anak di wilayah masing-masing, lalu menjalani monitoring, evaluasi, dan post-test.
Makassar, IDN Times - STIKES Panrita Husada Bulukumba menggandeng 25 kader kesehatan dari lima dusun di Desa Benteng Gantarang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk SAHABAT PANRITA (Sentuhan Asuhan Holistik Aktif Berbasis Terapi Komplementer sebagai Pendamping Kesehatan Reproduksi Ibu dan Tumbuh Kembang Anak).
Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, ini melibatkan tim dosen dan mahasiswa STIKES Panrita Husada Bulukumba, dengan tujuan memperkuat peran kader dalam mendampingi kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak melalui edukasi berbasis asuhan komplementer.
1. Lahir dari data stunting dan rendahnya cakupan ASI eksklusif di Bulukumba

STIKES Panrita Husada menyerahkan modul pelatihan bagi ibu-ibu di Desa Benteng Gantarang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Minggu (16/8/2026)/Dok. Istimewa Program ini digagas sebagai respons atas masih terbatasnya akses sebagian masyarakat terhadap layanan kesehatan ibu dan anak, serta belum optimalnya kapasitas kader dalam memberikan pendampingan berbasis asuhan komplementer.
Hasil identifikasi awal tim pelaksana menemukan tujuh bayi yang belum mendapatkan ASI eksklusif dan 15 anak yang mengalami stunting sepanjang 2025. Temuan ini yang mendorong pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif yang mudah dijangkau serta berkelanjutan di tingkat keluarga.
Ketua tim pelaksana, Ely Kurniati, menjelaskan kader memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dan berkesinambungan dengan ibu serta keluarga di wilayah kerjanya masing-masing.
"Melalui SAHABAT PANRITA, kader merupakan perpanjangan tangan tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat sehingga kami ingin memperkuat keterampilan kader agar mampu memberikan edukasi dan pendampingan dasar secara aman. Dari Kader, untuk Ibu dan Anak, Menuju Desa Sehat dan Mandiri," ujar Ely.
2. Pelatihan digelar dua hari, dari perawatan payudara hingga pijat bayi

STIKES Panrita Husada menggelar pelatihan pijat bayi bagi ibu-ibu di Desa Benteng Gantarang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Sabtu (15/8/2026)/Dok. Istimewa Sebagai solusi, tim pelaksana melatih 25 kader aktif pada 15-16 Agustus 2026. Materi pelatihan mencakup perawatan payudara pada ibu hamil sebagai persiapan laktasi, pijat oksitosin bagi ibu nifas untuk melancarkan produksi ASI, serta pijat bayi dan balita untuk menstimulasi tumbuh kembang anak.
Program ini telah menghasilkan dan mulai menerapkan Paket Teknologi Sosial SAHABAT PANRITA, yaitu SOP yang terpasang di lima posyandu, sarana praktik berupa karpet, oil, baskom kecil, dan handuk untuk kader serta sebagian sasaran, modul dan media edukasi berupa leaflet untuk sasaran, hingga logbook khusus untuk kader. Capaian sementara menunjukkan peningkatan pengetahuan kader dari rata-rata 45,75 menjadi 62,33, sementara keterampilan kader naik dari 43,20 menjadi 67.
3. Kader akan mendampingi ibu dan anak langsung di lapangan

STIKES Panrita Husada menggelar sosialisasi pelaksanaan program SAHABAT PANRITA di Desa Benteng Gantarang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (7/8/2026)/Dok. Istimewa Tahap selanjutnya adalah pendampingan ibu dan anak oleh kader di wilayah masing-masing, dilanjutkan dengan monitoring, evaluasi, dan penguatan keberlanjutan program. Tim pelaksana juga akan menggelar post-test untuk mengevaluasi pengetahuan dan keterampilan kader pascapendampingan.
Melalui Program SAHABAT PANRITA, STIKES Panrita Husada Bulukumba tidak hanya meningkatkan kapasitas kader, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi kesehatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Ke depan, program ini diharapkan mendorong posyandu berkembang sebagai pusat edukasi, pendampingan, dan deteksi dini, sekaligus mendukung terwujudnya keluarga serta desa yang sehat dan mandiri.
SAHABAT PANRITA menunjukkan bahwa inovasi kesehatan masyarakat tidak selalu memerlukan teknologi yang rumit. Kader terlatih, panduan yang mudah digunakan, pencatatan yang teratur, dan kolaborasi lintas pihak dapat menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kesehatan ibu, bayi, dan anak, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya tujuan kehidupan sehat dan sejahtera.



















