Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Antre BBM Berjam-jam, Pengendara Tetap Bertahan Meski SPBU Tutup
Pengendara mengantre untuk mendapatkan BBM di SPBU Jalan Pettarani, Makassar, Sabtu (12/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Antrean BBM masih terjadi di sejumlah SPBU Makassar; pengendara tetap menunggu berjam-jam meski stok kosong dan belum ada kepastian layanan pengisian dibuka kembali.
  • Pengemudi ojol Syam bisa mengantre hingga dua kali sehari untuk Pertalite, sementara waktu kerja tersita dan ia kadang mencari BBM di Pertamini saat SPBU kehabisan stok.
  • Pengendara lain membatasi perjalanan karena stok dan antrean juga bermasalah di Pertamini; mereka berharap pemerintah menghadirkan solusi atas kesulitan memperoleh BBM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) masih terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kondisi ini membuat pengendara harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM hingga membatasi perjalanan ketika stok mulai menipis.

Pantauan IDN Times di SPBU Jalan Pettarani, Makassar, Sabtu (12/9/2026), terlihat pengendara mengantre meski SPBU tengah tutup karena stok sedang kosong. Sebagian pengendara memilih tetap bertahan di barisan sambil menunggu pengisian kembali dibuka.

Salah satunya Syam (57), pengemudi ojek online (ojol) yang ditemui saat mengantre. Dia mengatakan tidak ada kepastian waktu pengisian kembali dibuka sehingga pengendara hanya bisa menunggu.

"Tidak ada info kapan dibuka, jadi menunggu saja," kata Syam saat ditanya apakah ada informasi mengenai waktu SPBU kembali melayani pengisian BBM.

Menurutnya, pengendara hanya bisa menunggu karena tidak ada kepastian kapan pengisian kembali dibuka. Jika tak kunjung dibuka, maka mereka akhirnya memilih membubarkan diri.

"Mau tidak mau bubar sendiri," katanya sembari tertawa. 

1. Antre BBM hingga dua kali sehari

Pengendara mengantre untuk mendapatkan BBM di SPBU Jalan Pettarani, Makassar, Sabtu (12/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Syam mengatakan antrean BBM saat ini menjadi bagian dari rutinitasnya sebagai pengemudi ojol. Dalam sehari, dia bisa kembali mengantre hingga dua kali, tergantung waktu dan rute perjalanan.

"Tadu pagi antre jam 9 sampai jam 10. Sekarang antre lagi karena bensin sudah habis dipakai seharian," katanya. 

Syam menggunakan Pertalite untuk menunjang aktivitasnya sebagai pengemudi Gojek. Dalam sekali pengisian, dia biasanya membeli sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.

Dia juga mengaku tetap pernah mengantre di SPBU Pertamina lainnya ketika membutuhkan BBM. Namun, jika tidak mendapatkan BBM, dia terpaksa mencari penjual BBM di pinggir jalan.

"Mampir di jalan, di Pertamini begitu," katanya.

Bagi pengemudi ojol seperti Syam, kepastian mendapatkan BBM sangat berkaitan dengan aktivitas mencari penghasilan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja harus tersita untuk mengantre atau mencari lokasi lain yang masih memiliki stok.

2. Pengendara mulai batasi perjalanan

Pengendara mengantre untuk mendapatkan BBM di SPBU Jalan Pettarani, Makassar, Sabtu (12/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Kondisi antrean juga dirasakan Adit (29), karyawan swasta. Dia mengaku biasanya tidak mau menghabiskan waktu terlalu lama untuk mengantre di SPBU.

"Paling lama antri 1 jam tapi itu yang mode sedikit, kalau mode banyak nda mau antri. Lebih pilih Pertamini," kata Adit.

Namun, pilihan tersebut kini ikut menghadapi persoalan serupa. Menurutnya, sejumlah Pertamini juga mengalami kekosongan stok dan antrean panjang.

"Tapi Pertamini sekarang juga banyak yang kosong. Kalau pun ada tetap antri panjang," katanya. 

Adit merupakan pengguna Pertamax. Dia mengatakan kondisi stok BBM membuatnya harus menghemat penggunaan kendaraan, terutama ketika tidak ada keperluan mendesak.

"Kalau Pertamini kosong terpaksa dihemat saja perjalanan. Maksudnya tidak usah pergi ke tempat lain selain tempat kerja," katanya.

Bahkan, ketika indikator BBM kendaraan sudah hampir habis, Adit memilih menunda rencana bepergian. Dia khawatir kesulitan mendapatkan BBM jika tetap memaksakan diri keluar.

"Kalau sekarat bensin terpaksa diundur niatnya untuk tidak pergi-pergi karena takut tidak dapat bensin," katanya. 

Dia pun memilih mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak benar-benar diperlukan. "Kalau tidak ada mendesak tidak usah keluar," katanya.

3. Pengendara harap ada solusi

Pengendara mengantre untuk mendapatkan BBM di SPBU Jalan Pettarani, Makassar, Sabtu (12/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Syam berharap pemerintah segera mencari solusi untuk mengatasi persoalan antrean BBM. Menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya terus membebani masyarakat.

"Ya pemerintah harusnya cari solusi bagaimana baiknya untuk masyarakat. Apa yang baik untuk masyarakat ya, kita rakyat ini cuma mengikuti saja," katanya. 

Di sisi lain, Adit mengaku kecewa dengan narasi pemerintah yang dinilainya hanya banyak bicara tanpa ada hasil nyata. Menurutnya, masyarakat masih harus menghadapi antrean dan kesulitan mendapatkan BBM meski pemerintah telah menyampaikan berbagai upaya penanganan.

"Kita sebenarnya sudah muak dengan narasi pemerintah yang hanya bisa bicara tanpa ada hasil. Katanya stok BBM aman, kalau memang aman, mana mungkin orang antre begini," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article