Sesi Board of Peace, di World Economic Forum (WEF) 2026, dibuka oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (IDN Times/Uni Lubis)
Kajian tersebut juga menyoroti eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dinilai memiliki dampak ekonomi global yang signifikan.
Perang regional dapat mengganggu transportasi udara internasional, pasokan energi, hingga memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut berpotensi berdampak langsung pada Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Jika harga minyak meningkat, pemerintah berpotensi menghadapi tekanan inflasi, kenaikan biaya logistik, hingga beban subsidi energi yang lebih besar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain substansi kebijakan, akademisi HI Unhas juga menyoroti proses pengambilan keputusan terkait keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional tersebut.
Menurut mereka, keputusan strategis dalam kebijakan luar negeri seharusnya tidak diambil secara sempit atau bersifat ad hoc. Proses tersebut dinilai perlu melibatkan institusi terkait secara lebih luas, termasuk menempatkan Kementerian Luar Negeri sebagai aktor utama dalam perumusan kebijakan luar negeri.
Akademisi juga menilai langkah menarik Indonesia dari BoP tidak bertentangan dengan posisi Presiden Prabowo. Sebab sebelumnya presiden disebut telah membuka kemungkinan bagi Indonesia untuk keluar dari forum tersebut jika tidak membawa manfaat bagi Palestina dan tidak sejalan dengan kepentingan nasional.
“Keluarnya Indonesia dari BoP dapat menjadi penegasan kembali komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif serta dukungan terhadap solusi dua negara bagi Palestina,” demikian kesimpulan dalam kajian tersebut.