Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
81 Calon Pembimbing Haji Ikuti Sertifikasi di Makassar, Karakter Jadi Bekal
Sebanyak 81 calon pembimbing ibadah haji dan umrah dari 12 provinsi mengikuti sertifikasi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Darsil Yahya)
  • Sebanyak 81 calon pembimbing haji dan umrah dari 12 provinsi mengikuti sertifikasi Kemenhaj RI di Makassar, bekerja sama dengan FDK UIN Alauddin Makassar.
  • Pelatihan menekankan penguasaan teknis ibadah sekaligus karakter, ketenangan, kesabaran, dan komunikasi agar pembimbing profesional mendampingi jamaah menghadapi berbagai persoalan.
  • UIN Alauddin menegaskan sertifikasi tidak sekadar pemberian dokumen; peserta harus mampu memberi rasa aman kepada jamaah dan siap menjalankan tugas di lapangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Sebanyak 81 calon pembimbing ibadah haji dan umrah dari 12 provinsi mengikuti sertifikasi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka dibekali kemampuan teknis hingga penguatan karakter agar mampu mendampingi jamaah secara profesional.

Sertifikasi pembimbing ibadah haji dan umrah yang digelar Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia itu berlangsung di Wisma Shafa, Asrama Haji Embarkasi Makassar, Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Jumat malam (4/9/2026). Kegiatan tersebut terlaksana melalui kerja sama Kemenhaj RI dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar.

Dalam kegiatan tersebut, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, hadir dalam pembukaan bersama Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulsel, Ikbal Ismail. Sementara Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.

1. Pembimbing haji tak cukup kuasai teknis ibadah

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, berbicara pada kegiatan sertifikasi calon pembimbing haji di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Darsil Yahya)

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, menilai kemampuan teknis bukan satu-satunya modal yang harus dimiliki seorang pembimbing haji. Pembimbing juga harus mempunyai kepribadian kuat karena berhadapan langsung dengan jamaah dalam situasi yang membutuhkan ketenangan, kesabaran, serta kemampuan komunikasi.

Hamdan menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut. Ia membawakan materi mengenai psikologi kepribadian pembimbing haji.

"Saya membawakan langsung mengenai psikologi kepribadian pembimbing haji. Ini penting karena masalah profilnya, masalah kapasitas, dan masalah jati dirinya pembimbing," kata Hamdan kepada wartawan.

Menurutnya, karakter menjadi salah satu faktor penting untuk membentuk pembimbing yang profesional. Sebab, pembimbing nantinya tidak hanya bertugas menjelaskan tata cara ibadah, tetapi juga mendampingi jamaah menghadapi berbagai persoalan selama menjalankan ibadah.

"Supaya tidak menjadi pembimbing yang amatiran, tetapi pembimbing profesional dengan karakter kuat yang dimiliki," tegasnya.

Hamdan menambahkan, kebutuhan terhadap pembimbing berkualitas semakin penting, khususnya bagi jamaah dari kawasan Indonesia Timur.

2. UIN Alauddin sudah berkali-kali gelar pelatihan pembimbing

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, berbicara pada kegiatan sertifikasi calon pembimbing haji di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Darsil Yahya)

UIN Alauddin Makassar, kata Hamdan, selama ini aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah dalam pelaksanaan pelatihan pembimbing haji dan umrah. Menurutnya, pelatihan tersebut harus mampu menghasilkan pembimbing yang tidak hanya memiliki sertifikat, tetapi juga benar-benar siap menjalankan tugas di lapangan.

"Kalau hasil dari pembimbingan ini tidak lantas mewujudkan pembimbing yang memiliki kepribadian kuat dan profesional tadi, berarti kita tidak sukses," ujarnya.

Ia menyebut penguatan kepribadian menjadi salah satu esensi dalam proses sertifikasi. Pembimbing harus memiliki fondasi karakter yang kuat sebelum dipercaya mendampingi jamaah.

"Inilah sebenarnya salah satu esensi dari pelatihan sertifikasi pembimbing haji," jelasnya.

3. Diikuti 81 peserta dari 12 provinsi

Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulsel, Ikbal Ismail berbicara pada kegiatan sertifikasi calon pembimbing haji di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Darsil Yahya)

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof. Abd. Rasyid Masri, mengatakan kerja sama pelatihan pembimbing haji dengan pemerintah sudah berlangsung cukup lama.

Untuk pelatihan yang sebelumnya digelar bersama Kementerian Agama, kegiatan serupa telah berlangsung sekitar 11 hingga 12 kali. Sementara kerja sama dengan Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) kini memasuki angkatan keempat.

"Kalau dihitung, sudah 16 kali," kata Rasyid.

Menurutnya, pengalaman panjang tersebut menjadi modal dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan sertifikasi pembimbing haji dan umrah. Namun, ia menegaskan sertifikasi tidak boleh hanya berorientasi pada pemberian dokumen kepada peserta.

"Target kita sebenarnya bukan bagaimana saudara-saudara kita itu mendapat sertifikat secara formalitas saja," imbuhnya.

Pembimbing, lanjut Rasyid, harus mampu memberikan rasa aman dan tenang kepada jamaah sekaligus memiliki kompetensi untuk menghadapi berbagai persoalan yang muncul selama proses ibadah.

Tahun ini, jumlah peserta mencapai 81 orang. Angka tersebut melebihi estimasi awal panitia yang hanya memproyeksikan sekitar 70 peserta.

"Ini alhamdulillah tembus 80, tepatnya 81 orang. Yang tadinya estimasi kita hanya 70-an, karena mungkin spirit dan animo mereka tinggi, bertambah menjadi 81 orang," sebutnya.

Para peserta berasal dari 12 provinsi, di antaranya Papua, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Jawa Timur, dan sejumlah daerah lainnya.

Rasyid mengatakan jumlah daerah asal peserta tahun ini sebenarnya masih lebih sedikit dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pada pelatihan terdahulu, peserta bahkan datang dari sejumlah wilayah Kalimantan hingga Nusa Tenggara.

"Tapi ini agak kurang sih, dulu itu luar biasa sampai beberapa daerah di Kalimantan juga ada, bahkan dulu ada dari NTT," ungkapnya.

Ia menduga minimnya peserta dari Nusa Tenggara Timur berkaitan dengan kondisi gempa yang baru terjadi di wilayah tersebut. Meski begitu, Rasyid berharap seluruh rangkaian sertifikasi berjalan lancar dan mampu mencetak pembimbing haji yang benar-benar profesional.

"Mudah-mudahan ini berjalan dengan bagus. Untuk menjadi pembimbing haji yang profesional, harus melewati pintu pelatihan sertifikasi pembimbing haji."

Curated For You

Editorial Team

Related Article