Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BBPOM Butuh 5 Hari Uji Sampel MBG Diduga Penyebab Keracunan Siswa Toraja

Kota Makassar
BBPOM Butuh 5 Hari Uji Sampel MBG Diduga Penyebab Keracunan Siswa Toraja
Ilustrasi menu MBG di sekolah (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
  • BBPOM Makassar menguji sampel makanan dan muntahan siswa SMPN 1 serta SMPN 2 Makale.
  • Pengujian dengan parameter mikrobiologi memerlukan masa inkubasi sekitar 3-5 hari.
  • Sebanyak 161 siswa masih menjalani perawatan di tiga rumah sakit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar membutuhkan waktu sekitar 3-5 hari untuk menguji sampel makanan dan muntahan siswa SMPN 1 dan SMPN 2 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang diduga mengalami keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala BBPOM Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan, mengatakan sampel tersebut akan menjalani pengujian di laboratorium BBPOM Makassar. Lamanya proses pemeriksaan bergantung pada parameter yang digunakan.

  1. 1. Uji mikrobiologi membutuhkan waktu inkubasi 3-5 hari

    Petugas BPOM Kediri melakukan uji lab makanan bergizi gratis di Tulunagung. IDN Times/ Bramanta Pamungkas
    Ilustrasi. Petugas BPOM Kediri melakukan uji lab makanan bergizi gratis di Tulunagung. IDN Times/ Bramanta Pamungkas

    Yosef menjelaskan, pemeriksaan sampel keracunan makanan dapat dilakukan di laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) maupun BBPOM Makassar. Hasil pengujian nantinya akan diserahkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

    Menurutnya, jika sampel diperiksa menggunakan parameter mikrobiologi, prosesnya membutuhkan waktu inkubasi sekitar 3-5 hari.

    "Bergantung pada parameter ujinya, karena untuk parameter mikrobiologi membutuhkan waktu inkubasi sekitar 3-5 hari," tuturnya.

    Yosef menegaskan, keamanan pangan tidak cukup hanya diawasi pada satu tahapan. Pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bahan baku hingga makanan dikonsumsi penerima manfaat.

    "Mulai bahan baku, tempat produksi, peralatan, penanganan bahan baku (penyimpanannya), penjamah pangan, proses pengolahan, pemorsian, distribusi, hingga diterima oleh penerima manfaat," tegasnya.

  2. 2. BBPOM ingatkan makanan siap saji maksimal 4 jam

    Ilustrasi. Petugas BPOM Kediri melakukan uji lab makanan bergizi gratis di Tulunagung. IDN Times/ Bramanta Pamungkas
    Petugas BPOM Kediri melakukan uji lab makanan bergizi gratis di Tulunagung. IDN Times/ Bramanta Pamungkas

    Yosef mengatakan, penerapan keamanan pangan harus dilakukan secara berkelanjutan, baik di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun lingkungan penerima manfaat seperti sekolah.

    Menurutnya, sekolah juga perlu memastikan tersedianya fasilitas cuci tangan dengan air mengalir, sabun, serta lap kering.

    "Memastikan budaya keamanan pangan pada siswa, cuci tangan dengan sabun selama minimal 10 detik, menggunakan alat makan yang bersih. Pangan siap saji maksimal 4 jam, dan harus segera dikonsumsi, karena lebih dari 4 jam meningkatkan risiko, utamanya produk DUIT (daging, unggas, ikan dan telur)," bebernya.

    Ia menjelaskan daging, unggas, ikan, dan telur merupakan sumber protein yang baik bagi tubuh. Namun, bahan pangan tersebut juga dapat menjadi media pertumbuhan mikroba apabila proses penyimpanan maupun pengolahannya tidak dilakukan dengan benar.

    "Program baik tentunya harus dieksekusi dengan baik. Saat bicara masalah keamanan pangan, merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai suatu bangsa," ucapnya.

  3. 3. Polisi tunggu hasil uji BBPOM Makassar

    Keracunan MBG Toraja Makale.jpg
    Siswa SMPN Makale, Toraja, dirawat di Rumah Sakit Lakipadada, Kamis (3/92026) usai diduga keracunan MBG. Dok. Kareba Toraja

    Terpisah, Kapolres Tana Toraja AKBP Budi Hermawan meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan laboratorium BBPOM Makassar untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan yang dialami para siswa.

    Budi memastikan sampel makanan yang diduga dikonsumsi para siswa telah dikirim untuk menjalani pemeriksaan. "Sampel makanan sudah diambil. Sampel ini nanti untuk diuji di BPOM dan kita tunggu saja hasilnya," tegasnya.

    Polisi juga masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab ratusan siswa mengalami gejala keracunan. Budi mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah terdapat unsur kelalaian dalam proses penyediaan makanan oleh SPPG.

    "Kita semua pastinya mendoakan adik-adik bisa secepatnya kembali pulih dan bisa bersekolah kembali. Untuk penyelidikan, kita lakukan secara menyeluruh dan secepat mungkin," pungkasnya.

    Berdasarkan data terbaru yang dihimpun, sebanyak 161 siswa dari SMPN 1 dan SMPN 2 Makale masih menjalani perawatan di tiga rumah sakit, yakni RSUD Lakipadada, RS Sinar Kasih, dan RS Fatimah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More