Ini Alasan Pemprov Sulsel Bangun Jalan-Irigasi Pakai Skema Multiyears

- Pemprov Sulsel mengalokasikan Rp3,7 triliun melalui skema multiyears 2025-2027 untuk memperbaiki 1.000 kilometer jalan, irigasi 54 ribu hektare sawah, serta dua rumah sakit regional.
- Gubernur Andi Sudirman menyebut skema tahun jamak dipilih agar proyek besar selesai lebih tuntas, termasuk fasilitas pendukung, serta menjaga kesinambungan dan masa pakai ruas jalan.
- Pemprov menilai tender paket besar lebih hemat waktu dan anggaran, mendukung mutu lewat kontraktor nasional dengan local content 40 persen, serta menjaga proyeksi arus kas pembayaran daerah.
Makassar, IDN Times - Pembangunan infrastruktur di Provinsi Sulawesi Selatan terus digenjot. Pemerintah Provinsi Sulsel mengalokasikan total anggaran mencapai Rp3,7 triliun melalui skema tahun jamak atau multiyears untuk periode 2025-2027.
Proyek tersebut dikemas dalam Multi Years Project (MYP) yang mencakup perbaikan jalan sepanjang 1.000 kilometer, pembangunan jaringan irigasi untuk melayani 54 ribu hektare sawah, serta pembangunan dua rumah sakit regional di Kabupaten Gowa dan Luwu. Anggaran proyek tersebut bersumber dari hasil efisiensi APBD dan ditargetkan rampung pada 2027.
1. Agar pembangunan proyek lebih tuntas

Kondisi Jl Hertasning Makassar, Minggu (29/3/2026). Dok. Humas Pemprov Sulsel Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menjelaskan ada empat alasan Pemprov Sulsel memilih skema multiyears dibandingkan penganggaran tahun tunggal atau single year. Alasan pertama berkaitan dengan ketuntasan dan kesempurnaan pengerjaan fisik proyek.
Menurut Andi Sudirman, durasi satu tahun tidak cukup untuk menyelesaikan fasilitas penunjang proyek berskala besar, termasuk rumah sakit. Skema multiyears juga dinilai dapat menjaga kesinambungan pengerjaan jalan agar setiap ruas memiliki masa pakai yang lebih seragam.
"Kalau kita mengerjakan secara multi years, pembangunannya bisa tuntas. Waktu satu tahun itu tidak cukup untuk membangun. Misalnya rumah sakit. Pembangunan fisik tahun ini, tapi masih banyak saja supporting facility gedung-gedungnya masih belum ditambahkan. Begitu juga jalan. Kalau kita bangun satu tahun satu ruas, tidak nyambung dengan ruas kedua tahap berikutnya, dia beda umur sehingga kekuatan jalan tidak seumur dan ada jeda terputus. Ketika musim berubah pancaroba, ada celah di antaranya yang bisa menjadi sebab mulainya kerusakan-kerusakan baru," urai Andi Sudirman.
2. Pemprov Sulsel klaim lebih efisien biaya dan waktu lelang

Salah satu proyek pembangunan dan peningkatan infrastruktur jalan melalui program Multi Years Project (MYP) Pemprov Sulsel. (Dok. Humas Pemprov Sulsel) Alasan kedua adalah efisiensi anggaran dan waktu dalam proses lelang. Pemprov Sulsel menilai tender satu kali untuk paket pekerjaan bernilai besar lebih efisien dibandingkan harus mengulang proses lelang untuk sejumlah paket bernilai lebih kecil.
"Paling penting bahwa kita menghemat di tengah efisiensi. Satu kali lelang untuk nilai Rp500 miliar dibanding 10 kali lelang nilai Rp50 miliar itu jauh sangat berbeda. Karena akan ada losses di budgeting penganggarannya, dan ada yang kemudian penganggarannya akan double ketika kita menganggarkan," paparnya.
Selain efisiensi lelang, skema paket pekerjaan bernilai besar juga dinilai dapat membuka peluang keterlibatan kontraktor berskala nasional. Menurut Andi, hal tersebut berkaitan dengan upaya menjaga kualitas pengerjaan proyek infrastruktur.
"Ketika paketnya besar, maka perusahaan yang masuk adalah rata-rata perusahaan yang standar nasional sehingga pembangunannya memang akan jauh lebih bagus. Kami mensiasatinya dengan mewajibkan mereka local content 40 persen sehingga (kontraktor) lokal-lokal bisa bergabung," kata Andi Sudirman.
3. Jaga mutu proyek hingga alur kas daerah

Desain RS Regional Wilayah Selatan yang akan dibangun di Malino, Kabupaten Gowa, Kamis (30/7/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Menurut Andi Sudirman, paket pekerjaan bernilai besar memungkinkan perusahaan berskala nasional, termasuk BUMN, untuk terlibat dalam proyek. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat mendukung standar mutu pembangunan, sementara kewajiban local content 40 persen memberi ruang bagi kontraktor lokal untuk ikut dalam pengerjaan.
Alasan keempat penerapan skema multiyears adalah memberikan kepastian pembiayaan sekaligus menjaga kesehatan arus kas (cash flow) daerah. Pemprov Sulsel dapat menyusun proyeksi pembayaran secara berkala menyesuaikan realisasi pendapatan daerah.
"Salah satu juga keunggulan karena kita bisa mengatur fiskal kita dalam pembayaran, cash flow bagaimana kita kemudian mereka menagih dan kita membayar. Dengan adanya multi years, maka cash flow pembayaran per bulan bisa dibuat sampai 2-3 tahun ke depan, sehingga kita aman untuk pembayaran dan gagal bayar bisa dihindari," demikian Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman.













.png)



