BPOM Makassar: Keamanan Pangan MBG Tak Cukup Hanya Mengandalkan Dapur

- Dugaan keracunan siswa SMPN 1 Makale setelah mengonsumsi MBG masih diselidiki BPOM melalui pemeriksaan sampel makanan.
- BBPOM Makassar menekankan keamanan pangan MBG harus diawasi menyeluruh, dari bahan baku, pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga konsumsi di sekolah.
- Pangan siap saji sebaiknya dikonsumsi maksimal empat jam; daging, unggas, ikan, dan telur perlu penanganan ketat untuk mencegah pertumbuhan mikroba.
Makassar, IDN Times - Dugaan keracunan yang dialami siswa SMPN 1 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian terhadap aspek keamanan pangan dalam program tersebut. Penyebabnya masih dalam penyelidikan, termasuk melalui pemeriksaan sampel makanan.
Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar, Yosef Dwi Irwan, mengatakan keamanan pangan dalam program MBG) tidak cukup hanya mengandalkan proses pengolahan di dapur penyedia. Pengawasan harus diterapkan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari bahan baku hingga makanan dikonsumsi siswa.
"Keamanan pangan tidak bisa hanya dibangun pada satu titik atau tahapan, namun harus utuh dari hulu sampai hilir," kata Yosef melalui WhatsApp, Sabtu (5/9/2026).
1. Keamanan pangan harus dijaga dari hulu ke hilir

Ilustrasi: Pengolahan MBG di SPPG Gagaksipat, Boyolali. (IDN Times/Larasati Rey) Menurut Yosef, titik yang perlu diperhatikan meliputi bahan baku, tempat produksi, peralatan, penanganan dan penyimpanan bahan baku, hingga penjamah pangan. Pengawasan juga harus berlanjut pada proses pengolahan makanan, pemorsian, distribusi, hingga makanan diterima oleh penerima manfaat atau siswa.
Yosef mengatakan penerapan keamanan pangan juga perlu diterapkan secara berkelanjutan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun lingkungan sekolah penerima MBG. Di sekolah, misalnya, perlu dipastikan tersedia fasilitas cuci tangan yang dilengkapi air mengalir, sabun cuci tangan, dan lap kering.
"Kesadaran pentingnya keamanan pangan harus diimplementasikan secara berkelanjutan baik di SPPG ataupun di lingkungan penerima manfaat (sekolah)," katanya.
2. Risiko keamanan pangan tak berhenti di dapur

Ilustrasi pengolahan MBG di SPPG. (IDN Times/Larasati Rey) Menurut Yosef, makanan yang telah selesai diproduksi masih memiliki potensi risiko. Hal itu dapat terjadi apabila proses penyimpanan dan distribusinya tidak ditangani dengan benar.
Dia menekankan pangan siap saji maksimal dikonsumsi dalam waktu empat jam. Makanan juga harus segera dikonsumsi karena semakin lama dibiarkan, risiko pertumbuhan mikroba dapat meningkat.
"Namun, pangan siap saji maksimal empat jam, dan harus segera dikonsumsi, karena lebih dari empat jam meningkatkan risiko," katanya.
3. Daging hingga telur perlu penanganan ketat

Penyiapan makanan di SPPG (IDN Times/Wira Sanjiwani) Yosef juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap bahan makanan berupa daging, unggas, ikan, dan telur atau yang disebut DUIT. Keempat jenis pangan tersebut memiliki kandungan protein tinggi yang baik bagi tubuh.
Namun, apabila penanganan saat penyimpanan bahan baku maupun makanan yang telah matang tidak tepat, pangan tersebut berpotensi menjadi media pertumbuhan mikroba. Karena itu, menurut Yosef, keamanan pangan MBG merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pihak penyedia makanan.
"Program baik tentunya harus dieksekusi dengan baik. Saat bicara masalah keamanan pangan, merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai suatu bangsa. Bukan pangan jika tidak aman," katanya.
Yosef juga mengingatkan penerima manfaat agar tidak mengonsumsi makanan yang mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat terlihat dari kondisi fisik, aroma, maupun rasa makanan.
Sementara terkait dugaan keracunan siswa SMPN 1 Makale, Yosef menyebut penyebab dan faktor pemicu masih dalam pendalaman. Sampel makanan dari kasus tersebut juga diperiksa untuk mengetahui penyebab kejadian.


















