Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wasiat Anak Jadi Penguat Nenek 83 Tahun asal Soppeng Berangkat Haji
Halika Palecceng (83), jemaah asal Soppeng, saat acara pelepasan kloter pertama di Asrama Haji Sudiang Makassar, Selasa (21/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Halika Palecceng, 83 tahun asal Soppeng, menjadi jemaah tertua di kloter pertama Embarkasi Makassar dan akhirnya berangkat haji setelah menabung sejak usia muda.
  • Perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci dijalani tanpa pendamping keluarga, menunjukkan tekad kuat meski usia sudah lanjut.
  • Wasiat anak yang telah meninggal dunia menjadi penguat bagi Halika untuk tetap melangkah menunaikan ibadah haji dengan dukungan penuh keluarganya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Suasana haru menyelimuti Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Makassar, saat prosesi pelepasan kloter pertama Embarkasi Makassar, Selasa (21/4/2026). Di antara ratusan jemaah, seorang perempuan lanjut usia tampak duduk tenang sambil menahan air mata.

Halika Palecceng (83), jemaah asal Kabupaten Soppeng, tercatat sebagai jemaah tertua dalam kloter pertama tahun ini. Penantian panjangnya untuk menunaikan ibadah haji akhirnya terwujud setelah puluhan tahun menyimpan harapan.

"Dari umur 35 tahun (menabung), 12 tahun mendaftar sekitar tahun 2014," kata Halika dengan suara bergetar.

1. Menabung sejak muda dan berangkat di usia senja

Jemaah calon haji kloter 1 Embarkasi Makassar asal Kabupaten Soppeng dilepas dari Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Perjalanan Halika menuju Tanah Suci bukan proses singkat. Sejak usia muda, Halika bersama suaminya mengumpulkan biaya haji sedikit demi sedikit dari hasil bertani cengkih.

"Dulunya bertani cengkeh," katanya. 

Penghasilan dari kebun menjadi tumpuan utama untuk mewujudkan impian tersebut. Tabungan itu terus dijaga hingga akhirnya cukup untuk mendaftar haji lebih dari satu dekade lalu.

2. Berangkat sendiri tanpa pendamping

ilustrasi haji (IDN Times/Aditya Pratama)

Kini, di usia senjanya, Halika akhirnya mendapat kesempatan berangkat ke Tanah Suci. Dia tergabung dalam kloter pertama Embarkasi Makassar bersama jemaah asal Soppeng lainnya. 

Keberangkatan Halika kali ini dijalani tanpa didampingi anggota keluarga. Dia berangkat seorang diri, meski usia sudah lanjut.

"Berangkat sendiri," katanya. 

3. Wasiat anak jadi penguat langkah ke Tanah Suci

ilustrasi haji (pexels.com/Haydan As-soendawy)

Saat ini, Halika menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga. Perempuan paruh baya itu memiliki empat orang anak.

Salah satu anaknya sempat membantu melengkapi biaya haji. Namun, sebelum momen keberangkatan itu tiba, anaknya lebih dulu meninggal dunia.

Wasiat dari sang anak menjadi penguat bagi Halika untuk tetap melangkah menuju Tanah Suci. Dukungan keluarga, termasuk dari menantu, memastikan keinginannya tetap terwujud.

"Anak saya menabungkan, anak saya meninggal tapi memberikan wasiat untuk memberangkatkan haji ibunya," tutur Halika.

Kisah Halika menjadi potret panjangnya perjuangan calon jemaah haji di Indonesia. Penantian bertahun-tahun, keterbatasan ekonomi, hingga kehilangan anggota keluarga, menyatu dalam perjalanan menuju ibadah haji.

Editorial Team