Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kesibukan Warga Buloa Antre Sumur Bor di Tengah Ancaman Kemarau
Warga mengantre mengambil air dari sumur bor di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, Sabtu (25/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

  • Warga Kelurahan Buloa, Makassar, masih kesulitan mendapatkan air bersih karena jaringan PDAM belum menjangkau seluruh wilayah, termasuk RT 8.
  • Sumur bor swadaya menjadi sumber utama air bersih dengan tarif Rp3.000 per gerobak, dan antrean warga berlangsung sejak subuh setiap hari.
  • BMKG memprediksi potensi El Nino pada pertengahan 2026 yang dapat memperparah kekeringan dan mengancam pasokan air di wilayah Buloa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Orang-orang di Buloa susah dapat air bersih. Mereka antre sejak subuh bawa jerigen dan gerobak ke sumur bor. Airnya bayar tiga ribu per gerobak buat dipakai masak, mandi, dan cuci. PDAM belum sampai ke sana, jadi mereka harus beli air. Sekarang orang takut kemarau datang karena bisa makin susah airnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan sehari-hari bagi warga di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar. Kondisi ini bahkan telah berlangsung lama, tidak hanya saat musim kemarau, tetapi juga ketika musim hujan.

Di lingkungan RT 6/RW 2, aktivitas warga mengambil air dari sumur bor sudah menjadi rutinitas. Sejak subuh, warga datang membawa jeriken dan gerobak untuk mengisi kebutuhan air harian.

Pengelola sumur bor setempat, Muhammad Nur, menyebut akses air bersih di wilayahnya masih terbatas. Jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum menjangkau seluruh kawasan, termasuk beberapa wilayah lain seperti RT 8.

"Kebutuhan pokok kan air untuk kehidupan. Nah, kebetulan di wilayah ini kan memang jangankan kemarau, musim hujan saja untuk mendapatkan air bersih agak kurang ya, agak sulit juga," kata Nur saat ditemui di rumahnya, Sabtu (25/4/2026).

1. Warga beli air bersih Rp3.000 per gerobak

Warga mengantre mengambil air dari sumur bor di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, Sabtu (25/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Nur mengungkapkan, sebagian warga mengandalkan sumur bor yang dibangun secara swadaya sejak tahun 2016. Air tersebut diambil langsung oleh warga dengan dikenai tarif yang terjangkau, untuk operasional dan perawatan.

"Kalau tarifnya itu Rp3ribu per gerobak. Artinya itu dengan isi jeriken 14 buah dengan besaran (masing-masing 10 liter)," ucapnya.

Selama ini, keberadaan sumur bor cukup membantu warga memenuhi kebutuhan air bersih harian. Meski, bantuan air bersih dari truk tangki juga masih dibutuhkan saat pasokan terbatas.

"Terus terang, untuk PDAM saja di sini, untuk mendapatkan aliran itu tidak ada. Terkhusus untuk RT 8, di sana belum ada jaringan dari PDAM," katanya.

Kondisi ini membuat warga harus beradaptasi setiap musim kemarau. Pembelian air menjadi pilihan alternatif, meskipun menambah beban pengeluaran rumah tangga.

2. Aktivitas antre air bersih jadi rutinitas harian

Warga mengantre mengambil air dari sumur bor di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, Sabtu (25/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Setiap hari, antrean warga terlihat di lokasi sumur bor. Mereka membawa jeriken untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, hingga mencuci. Aktivitas ini berlangsung hampir tanpa jeda, terutama saat pasokan air dari sumber lain terbatas.

Nur mengatakan pengambilan air tidak dibatasi secara ketat. Namun, dalam satu kali pengambilan, warga biasanya mengambil maksimal dua gerobak agar antrean tetap berjalan.

"Kalau dari saya itu biasanya sudah mulai subuh sudah ada sampai habis memang orang untuk mengambil air, baru kami hentikan. Jadi kami tidak batasi jam sekian sampai jam sekian," katanya.

3. Ancaman El Nino berpotensi memperparah kondisi

Pengelola sumur bor setempat, Muhammad Nur. IDN Times/Asrhawi Muin

Di tengah kondisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi El Nino muncul pada pertengahan 2026. Fenomena ini berpotensi menurunkan curah hujan dan membuat musim kemarau lebih kering dari biasanya.

Jika kondisi tersebut terjadi, maka wilayah dengan keterbatasan akses air bersih seperti Buloa berisiko mengalami tekanan yang lebih besar. Pasokan air dari sumur bor maupun distribusi bantuan bisa terdampak jika sumber air menurun.

Meski demikian, Nur mengaku belum merasakan dampak signifikan dari perubahan cuaca sejauh ini. Warga berharap pasokan air tetap tersedia meskipun musim kemarau diprediksi lebih panjang.

"Mudah-mudahan di sini tidak ada terjadi hal-hal yang kita tidak inginkan, khususnya untuk pengadaan air ini," katanya.

Editorial Team