Makassar, IDN Times - Eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menilai istilah Reformasi Jilid II yang kini ramai digaungkan dalam berbagai aksi mahasiswa tidak boleh dimaknai sebatas upaya mengganti pemimpin atau menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa.
Menurut Tiyo, istilah tersebut hanyalah sebuah judul atau simbol gerakan. Yang paling penting adalah agenda perubahan yang ingin diperjuangkan mahasiswa untuk memperbaiki kondisi bangsa.
"Jangan dibayangkan Reformasi Jilid II itu sama seperti Reformasi 1998. Bukan sekadar melengserkan Prabowo lalu menggantinya dengan figur lain. Yang dibutuhkan adalah agenda-agenda perubahan. Judulnya bisa Reformasi Jilid II, bisa Reset Indonesia, bahkan Revolusi Indonesia," kata Tiyo dalam Dialog Kebangsaan di Makassar, Minggu (15/6/2026) malam.
