Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tiyo Ardianto: Reformasi Jilid II Jangan Cuma Ganti Presiden
Eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, saat menghadiri Dialog Kebangsaan di Makassar, Senin (16/6/2026). IDN Times/Darsil Yahya
  • Tiyo Ardianto menegaskan Reformasi Jilid II bukan sekadar pergantian presiden, melainkan perjuangan mahasiswa untuk mendorong perubahan sistem dan agenda nyata bagi perbaikan bangsa.
  • Ia menilai pergantian pemimpin tanpa reformasi sistem hanya mengulang kesalahan masa lalu, bahkan kondisi saat ini dianggap lebih buruk dibanding era pemerintahan Soeharto.
  • Tiyo menyoroti praktik pembungkaman kini lebih halus namun kejam, sambil mengingatkan mahasiswa agar tetap kritis dan fokus pada perubahan sistem, bukan polarisasi politik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menilai istilah Reformasi Jilid II yang kini ramai digaungkan dalam berbagai aksi mahasiswa tidak boleh dimaknai sebatas upaya mengganti pemimpin atau menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa.

Menurut Tiyo, istilah tersebut hanyalah sebuah judul atau simbol gerakan. Yang paling penting adalah agenda perubahan yang ingin diperjuangkan mahasiswa untuk memperbaiki kondisi bangsa.

"Jangan dibayangkan Reformasi Jilid II itu sama seperti Reformasi 1998. Bukan sekadar melengserkan Prabowo lalu menggantinya dengan figur lain. Yang dibutuhkan adalah agenda-agenda perubahan. Judulnya bisa Reformasi Jilid II, bisa Reset Indonesia, bahkan Revolusi Indonesia," kata Tiyo dalam Dialog Kebangsaan di Makassar, Minggu (15/6/2026) malam.

1. Reformasi harus mengganti sistem

Eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, saat menghadiri Dialog Kebangsaan di Makassar, Senin (16/6/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Tiyo menilai pengalaman Reformasi 1998 menjadi pelajaran penting. Pergantian pemimpin, kata dia, tidak akan membawa perubahan berarti jika sistem yang mendasarinya tetap sama. Bahkan ia mengibaratkan seperti U-turn.

"Kalau yang diganti hanya pemainnya sementara sistemnya tetap, maka hasilnya akan kembali ke titik semula. Seolah-olah maju, tetapi sebenarnya mundur. Persis kayak huruf U. Persis kayak sepatu kuda. U-turn," ujarnya.

2. Sebut lebih parah dari pemerintahan Soeharto

Tiyo Ardianto saat masih menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Dia mengakui Reformasi 1998 melahirkan banyak capaian penting, mulai dari kebebasan pers, sistem multipartai, hingga lahirnya berbagai lembaga negara seperti Mahkamah Konstitusi (MK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, menurutnya, sebagian capaian reformasi kini mulai mengalami kemunduran.

"Rasanya banyak hal yang dilahirkan reformasi justru mundur lagi. Bahkan mungkin lebih parah dibanding sebelumnya. Kalau dulu mertuanya, sekarang menantunya yang berkuasa," katanya.

3. Praktik pembungkaman lebih kejam

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin (UINAM) Makassar menggelar unjuk rasa di JL AP Pettarani, Senin (15/6/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Tiyo juga menyoroti perubahan pola kekuasaan yang dinilainya semakin sulit dikenali. Jika pada masa lalu bentuk pembungkaman dilakukan secara terbuka, kini praktik-praktik tersebut dianggap hadir dengan cara yang lebih halus dan tidak terlihat.

"Dulu orang bisa merasakan langsung pembungkaman, ada yang diculik, ada yang diburu tentara. Sekarang itu, mainnya jauh lebih kejam. Jauh lebih tidak terlihat. Sehingga sampai kita, itu enggak bisa percaya sama siapapun hari ini ," ucapnya.

Meski demikian, Tiyo mengingatkan agar gerakan mahasiswa tetap kritis dan tidak mudah terjebak dalam polarisasi. Menurut dia, tidak semua pihak yang berada dalam pemerintahan selalu salah, begitu pula tidak semua pihak yang berada di luar kekuasaan otomatis benar. Karena itu yang perlu diperjuangkan adalah perubahan sistem dan agenda reformasi yang nyata, bukan sekadar pergantian tokoh,

"Yang di dalam tidak semuanya buruk, yang di luar juga tidak semuanya baik. Kita enggak tahu aktivis yang teriak-teriak ini, orangnya siapa, bekingannya siapa. Susah percaya kita," tegasnya.

Editorial Team

Related Article