Pemilahan Sampah Diklaim Pangkas Volume Sampah Masuk TPA Tamangapa

- Penerapan pemilahan sampah dari sumber diklaim menurunkan kiriman ke TPA Tamangapa dari sekitar 700-800 ton menjadi sekitar 200 ton per hari.
- TPA memeriksa armada di pintu masuk dan menolak truk dengan sampah campur; jumlah armada harian turut turun dari sekitar 400 menjadi 300.
- Sampah organik di TPA disebut turun dari dominasi sekitar 54 persen menjadi sekitar 10 persen; fasilitas pengolahan di kecamatan dan kelurahan perlu diperbanyak.
Makassar, IDN Times - Volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Makassar, diklaim turun drastis setelah penerapan kebijakan pemilahan sampah dari sumber. Jika sebelumnya TPA menerima sekitar 700-800 ton sampah per hari, kini jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 200 ton per hari.
Kepala UPT TPA Tamangapa, Nasrun, mengatakan penurunan volume sampah terjadi setelah kebijakan pemilahan sampah dari sumber mulai diterapkan. Selain itu, armada pengangkut yang memasuki TPA kini diwajibkan membawa sampah yang telah dipilah sesuai ketentuan.
"Kalau saya lihat dan amati, kurang lebih hampir 200 ton yang selama ini dalam satu hari ini kurang lebih mendekati 700 sampai 800 ton," kata Nasrun kepada IDN Times, Senin (3/8/2026).
1. Armada yang membawa sampah campur diminta kembali

Nasrun menjelaskan setiap armada pengangkut kini diperiksa di pintu masuk TPA. Truk yang masih membawa sampah bercampur tidak diperbolehkan membuang muatan sebelum sampahnya dipilah.
"Nanti kami tahan. Kami suruh pulang dulu, belum melakukan pemilahan sampah. Nanti setelah dilakukan pemilahan sampah, baru dibolehkan masuk," katanya.
Hal itu menjadi bagian dari upaya pengawasan di pintu masuk TPA. Tujuannya untuk memastikan kebijakan pemilahan sampah berjalan secara maksimal.
2. Jumlah armada yang masuk TPA ikut berkurang

Tak hanya volume sampah yang menurun, jumlah armada yang keluar masuk TPA juga berkurang. Menurut Nasrun, penurunan itu menjadi salah satu dampak penerapan kebijakan pemilahan sampah dari sumber.
Sebelumnya, sekitar 400 armada melayani pengangkutan ke TPA setiap hari. Kini jumlahnya turun menjadi sekitar 300 armada karena sebagian sampah telah dipilah dan dikelola sebelum mencapai TPA.
"Yang masuk saja sangat mengalami penurunan drastis. Dulunya sekitar 400 armada keluar masuk ke TPA, sekarang paling 300 armada sekitar mendekat di sana. Di luar-luar armada tidak masuk lagi ke TPA," katanya.
3. Sampah organik disebut mulai berkurang

Nasrun menyebut dampak paling terasa adalah berkurangnya sampah organik atau sampah basah. Selama ini, jenis sampah basah sangat mendominasi timbunan di TPA dengan presentase sekitar 54 persen.
"Besar sekali pengaruhnya. Sekarang, paling cuma 10 persen saja yang sampah basah kalaupun masih ada betul-betul kita lakukan pemeriksaan dan kita lihat di lapangan," katanya.
4. TPA ditargetkan hanya menerima sampah residu

Meski demikian, Nasrun menilai tantangan berikutnya adalah memperbanyak fasilitas pengolahan sampah organik di tingkat kecamatan dan kelurahan. Menurut Nasrun, hal itu penting agar sampah organik dapat diolah di dekat sumbernya dan tidak lagi seluruhnya dibawa ke TPA.
"Baru beberapa kecamatan memiliki TPS3R. Ini hal yang harus dikencangkan ke depan untuk membangun TPS 3R. Biar sampah-sampah basah itu bisa kita kelola di kelurahan dan kecamatan," katanya.
Menurut Nasrun, jika sistem tersebut berjalan optimal, maka bukan tidak mungkin kebijakan pilah sampah dapat berjalan optimal. Dengan demikian, hanya sampah residu yang benar-benar akan berakhir di TPA Tamangapa.


















