Produksi Cabai Sulsel Surplus 13.560 Ton, Kenapa Harga Tetap Mahal?

- Produksi cabai rawit Sulawesi Selatan mencapai 30.860 ton, melampaui kebutuhan konsumsi 17.300 ton, tetapi harga lokal tetap tinggi akibat permintaan besar dari luar provinsi.
- Petani memilih mengirim cabai ke Kalimantan, Papua, dan Manado karena harga lebih tinggi, sehingga pasokan di Makassar berkurang; harga di Sinjai dan Pinrang sekitar Rp70 ribu per kilogram.
- Enrekang menjadi sentra produksi terbesar, sementara petani menyiapkan tanam cabai untuk kebutuhan akhir tahun hingga Idulfitri; panen baru diperkirakan mulai November.
Makassar, IDN Times - Produksi cabai rawit di Sulawesi Selatan mencapai 30.860 ton, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat hanya sekitar 17.300 ton. Meski surplus 13.560 ton, harga cabai di sejumlah daerah masih tinggi karena permintaan dari luar Sulsel meningkat.
Plt Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPH-Bun) Sulsel, Sarijuddin, mengatakan kenaikan harga cabai terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi tersebut turut dipengaruhi kekeringan akibat El Nino yang membuat hasil panen di sejumlah sentra produksi berkurang.
"Produksi cabai rawit sampai saat ini sebanyak 30.860 ton. Sementara kebutuhan konsumsi hanya 17.300 ton. Jadi ada selisih sebanyak 13.560 ton," kata Sarijuddin, Jumat (25/9/2026).Â
1. Permintaan dari luar Sulsel ikut mendorong harga

Ilustrasi cabai merah keriting. (Dok. Bapanas) Sarijuddin mengatakan stok cabai di Sulsel sebenarnya masih tersedia. Namun, permintaan dari provinsi lain yang tinggi membuat sebagian petani memilih mengirim hasil panennya ke luar daerah.
"Masih terdapat panen di beberapa wilayah sentra produksi cabai rawit Tetapi permintaan dari daerah luar juga tinggi sehingga mempengaruhi harga di sentra produksi dan pasar lokal," katanya.
Menurutnya, petani cenderung menjual cabai ke provinsi lain karena harga yang ditawarkan lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat pasokan cabai untuk pasar Sulsel, termasuk Kota Makassar, ikut berkurang.
"Makanya selalu terjadi kelangkaan atau kurang ketersediaan di Kota Makassar karena cabai lebih banyak dibawa di provinsi lain," katanya.
Sejumlah daerah menjadi tujuan pengiriman cabai dari Sulsel. Di antaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, hingga Manado di Sulawesi Utara.Â
2. Harga cabai di sejumlah daerah mencapai Rp70 ribu per kilogram

Ilustrasi cabai (IDN Times/Ruhaili) Sarijuddin menyebut harga cabai rawit di tingkat petani saat ini mulai meningkat. Di Kabupaten Enrekang, harga cabai rawit hampir mencapai Rp50 ribu per kilogram.
Sementara harga di Sinjai dan Pinrang telah mencapai sekitar Rp70 ribu per kilogram. Harga cabai di Kabupaten Wajo juga disebut masih tinggi.
Meski demikian, Sarijuddin memastikan stok cabai di Sulsel masih tersedia. Menurutnya, persoalan yang perlu diperhatikan adalah distribusi agar pasokan tetap tersedia di Kota Makassar.
"Stok di pasaran masih tetap tersedia. Itu harus kita pahami bersama bahwa sebenarnya stok masih banyak, cuma karena permintaan banyak sehingga petani menjual cabainya di provinsi lain karena harga tinggi," tuturnya.
3. Enrekang jadi sentra produksi cabai terbesar

Ilustrasi cabai (Ruhaili/IDN Times) Sarijuddin mengatakan produksi cabai Sulsel tersebar di sejumlah kabupaten. Enrekang menjadi salah satu sentra dengan produksi terbesar.
Berdasarkan data produksi Januari hingga Agustus, Enrekang menghasilkan sekitar 12.103 kuintal cabai. Kemudian Jeneponto sekitar 3.400 kuintal, Wajo lebih dari 3.000 kuintal, Takalar sekitar 2.000 kuintal, Bone lebih dari 1.300 kuintal, dan Gowa sekitar 1.000 kuintal.
Produksi cabai tersebut tersebar di berbagai sentra di Sulsel. Daerah penghasilnya antara lain Enrekang, Bone, Wajo, Jeneponto, Bantaeng, dan Takalar.
4. Petani siapkan panen untuk kebutuhan akhir tahun hingga Ramadan

Komoditas bahan pokok cabai di Pasar Terong, Makassar, Kamis (11/12/2025). IDN Times/Asrhawi Muin Selain mengandalkan stok yang tersedia, petani di berbagai kabupaten juga tengah menanam cabai untuk menjaga pasokan ke depan. Pertanaman tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pada periode hari besar keagamaan, termasuk Natal dan Tahun Baru, Ramadan, hingga Idulfitri.
Sarijuddin mengatakan sebagian besar pertanaman cabai saat ini masih berada dalam tahap pertumbuhan. Panen diperkirakan mulai berlangsung pada November.
"Produksi cabai sampai saat ini hampir semua kabupaten ada produksi ada panen cuma sedikit sedikit karena itu efeknya tadi El Nino," katanya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)









![[CEK FAKTA] Viral Pamflet Ajakan Pawai LGBT di Makassar](https://image.idntimes.com/post/20260814/ilustrasi_cek-fakta2_a8733877-4830-411c-af9a-3bd587259b36.png)









