Komoditas yang paling besar menyumbang deflasi bulanan ialah tomat, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, cabai merah, jagung manis, cumi-cumi, dan kacang panjang. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi bulanan dengan andil 0,37 persen.
BPS: Inflasi Sulsel Melandai Jadi 2,75 Persen pada Juli 2026

- Inflasi tahunan Sulawesi Selatan pada Juli 2026 melandai menjadi 2,75 persen, dengan IHK 111,86; secara bulanan terjadi deflasi 0,18 persen dan inflasi tahun kalender 2,36 persen.
- Luwu Timur mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,50 persen, sedangkan Palopo terendah 1,48 persen. Makassar mengalami inflasi tahunan 2,81 persen dan deflasi bulanan 0,14 persen.
- Inflasi didorong terutama oleh makanan-minuman-tembakau, perawatan pribadi, dan transportasi; emas perhiasan menjadi komoditas dominan. Deflasi bulanan dipicu penurunan harga tomat, cabai rawit, dan pangan lain.
Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) Sulawesi Selatan pada Juli 2026 sebesar 2,75 persen. Menurut berita resmi statistik BPS Sulsel, Senin (3/8/2026), angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 3,05 persen.
Inflasi tahunan itu tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulsel menjadi 111,86 pada Juli 2026. Sementara secara bulanan (month to month/m-to-m), Sulsel justru mengalami deflasi sebesar 0,18 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 2,36 persen.
1. Luwu Timur tertinggi, Palopo terendah

Dari delapan kabupaten/kota yang menjadi cakupan IHK di Sulawesi Selatan, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Luwu Timur sebesar 3,50 persen dengan IHK 113,54. Sementara inflasi terendah tercatat di Kota Palopo sebesar 1,48 persen dengan IHK 110,40.
Adapun Kota Makassar mencatat inflasi tahunan sebesar 2,81 persen dengan deflasi bulanan 0,14 persen. Selain Makassar, Kabupaten Wajo mencatat inflasi 3,05 persen, Sidrap 3,07 persen, Bulukumba 2,24 persen, Watampone 2,50 persen, dan Parepare 1,85 persen.
2. Emas perhiasan hingga bensin jadi penyumbang inflasi

BPS mencatat inflasi tahunan dipengaruhi kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Andil terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,81 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,79 persen. Kelompok transportasi juga menyumbang inflasi sebesar 0,39 persen.
Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan dengan andil 0,67 persen, bensin 0,15 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,15 persen, sigaret kretek mesin 0,12 persen, nasi dengan lauk 0,11 persen, minyak goreng 0,11 persen, daging ayam ras 0,08 persen, telepon seluler 0,07 persen, cabai merah 0,07 persen, angkutan udara 0,07 persen, serta pelumas atau oli mesin 0,06 persen.
3. Sulsel alami deflasi bulanan 0,18 persen

Meski inflasi tahunan masih terjadi, Sulawesi Selatan mengalami deflasi sebesar 0,18 persen pada Juli 2026 dibandingkan Juni 2026. Penurunan harga terutama dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan.


















