Stok Jagung Bulog Sulsel 63 Ribu Ton, Peternak Minta Pasokan Dijaga

- Bulog Sulselbar menyerap 63 ribu ton jagung dari 24 daerah di Sulsel sepanjang 2026, menuju target pengadaan 150 ribu ton saat musim panen diperkirakan berlangsung hingga Desember.
- Sebagian stok jagung Sulsel didistribusikan ke sejumlah provinsi untuk keseimbangan nasional; program SPHP berkuota 6.136 ton baru tersalurkan sekitar 1.900 ton berdasarkan data penerima pemerintah.
- Peternak meminta pasokan jagung disiapkan menghadapi El Nino karena biaya pakan tinggi; harga jagung petani Rp5.500-Rp6.400 per kilogram, bergantung kadar air.
Makassar, IDN Times - Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) mencatat telah menyerap 63 ribu ton jagung dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan sepanjang 2026. Stok tersebut menjadi salah satu penopang kebutuhan pakan di tengah keluhan peternak ayam petelur terkait tingginya biaya produksi.
Bulog menargetkan pengadaan jagung mencapai 150 ribu ton pada 2026. Penyerapan tersebut menjadi perhatian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait keberlangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/8/2026).
Wakil Pimpinan Bulog Sulselbar, Karmila Kasmin Marunta, mengatakan penyerapan jagung masih terus berlanjut. Musim panen jagung diperkirakan berlangsung hingga Desember 2026.
"Target pengadaannya adalah 150 ribu ton tahun 2026 dan kita sudah melakukan realisasi pembelian jagung di 24 kabupaten kota sebanyak 63 ribu ton," kata Karmila.
Persoalan pasokan jagung menjadi penting karena sebelumnya peternak mengeluhkan tingginya harga pakan ayam petelur. Dalam RDP tersebut, penyedia pakan sepakat menahan kenaikan harga hingga harga telur di tingkat peternak mencapai Rp24.000 per kilogram atau sekitar Rp44.000-Rp45.000 per rak.
1. Stok jagung Sulsel tak hanya untuk peternak lokal

Ilustrasi jagung siap panen. (Dok. Bapanas) Karmila menjelaskan stok jagung yang diserap Bulog Sulselbar tidak seluruhnya diperuntukkan bagi kebutuhan peternak di Sulsel. Sebagian stok juga didistribusikan ke daerah lain yang membutuhkan.
"Bulog tidak bicara parsial, kita bicara keseluruhan, seluruh Indonesia, seluruh Nusantara," katanya.
Saat ini, stok jagung dari Sulsel telah dikirim ke Jawa Timur, Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Maluku, dan Kalimantan Utara. Bulog juga menerima permintaan pengiriman sebanyak 1.500 ton dari Jawa Tengah.
Menurut Karmila, distribusi bertujuan menjaga keseimbangan stok nasional. Daerah yang memiliki stok lebih banyak akan membantu wilayah yang membutuhkan pasokan.
"Sehingga di mana ada stok jagung yang cukup banyak dan di mana peternaknya cukup banyak tetapi stoknya sedikit di tempat tersebut, kita akan membantu untuk mendorong stok-stok yang ada di sini," katanya.
2. SPHP jagung baru terserap 1.900 ton

Ilustrasi jagung siap panen. (Dok. Bapanas) Selain pengadaan reguler, Bulog juga menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung. Program ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan peternak.
Karmila menyebut kuota SPHP jagung telah dikeluarkan dalam dua tahap dengan total 6.136 ton. Namun, realisasinya baru mencapai sekitar 1.900 ton.
Penyaluran SPHP jagung mengacu pada data penerima yang telah ditetapkan pemerintah. Data tersebut menjadi dasar Bulog dalam menyalurkan jagung kepada penerima.
"Untuk SPHP sampai saat ini penugasan ke Bulog memang itu by name by address," katanya.
Karmila meminta dinas terkait, asosiasi, dan peternak memperkuat koordinasi agar data kebutuhan jagung dapat disampaikan secara akurat. Menurutnya, Bulog menerima data penerima dari Kementerian Pertanian melalui Badan Pangan Nasional.
3. Harga jagung petani capai Rp6.400 per kilogram

Wakil Pimpinan Bulog Sulselbar Karmila Kasmin Marunta, Kamis (13/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Di tingkat petani, harga jagung saat ini berada di kisaran Rp5.500 hingga Rp6.400 per kilogram. Perbedaan harga tersebut bergantung pada kadar air jagung.
Karmila mengatakan jagung dengan kadar air 18 hingga 20 persen dihargai Rp5.500 per kilogram. Sementara kadar air 14 persen mencapai Rp6.400 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut sudah cukup baik bagi petani. Namun, harga jagung juga perlu dijaga agar tidak terlalu tinggi sehingga membebani konsumen dan peternak.
"Ketika harga terlalu tinggi di petani takutnya nanti di konsumen yang malah harganya juga terlalu tinggi," katanya.
Kondisi jagung menjadi bagian dari persoalan biaya produksi ayam petelur. Sebelumnya, peternak mengeluhkan harga konsentrat yang kini mencapai Rp9.000-Rp9.500 per kilogram, dari harga normal sekitar Rp8.000 per kilogram.
Dalam RDP tersebut, pabrik pakan diminta menahan kenaikan harga. Hal itu diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak hingga harga telur kembali mencapai level yang dinilai lebih menguntungkan.
4. Peternak khawatir pasokan jagung saat El Nino

Basuki Suyuti, peternak ayam petelur asal Sulsel, diwawancarai usai Rapat Dengar Pendapat terkait keberlangsungan usaha peternak dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Sementara itu, Peternak Sulsel, Basuki Suyuti, juga meminta ketersediaan jagung dijaga karena komoditas tersebut menjadi salah satu bahan utama pakan. Basuki mengatakan ketersediaan jagung perlu diantisipasi karena peternak akan menghadapi potensi gangguan pasokan saat memasuki periode El Nino.
"Terus ada beberapa bahan baku lokal seperti dedak, tadi kita minta masukan dari Bulog agar kiranya ada intervensi dari maklon yang mereka lakukan untuk tidak menjual terlalu tinggi," kata Basuki.
Dia juga meminta persiapan stok jagung sejak dini. Persediaan tersebut diperlukan agar pasokan tidak terganggu ketika kondisi cuaca semakin kering.
"Sedapat mungkin ada persiapan untuk stok karena sebentar lagi kita akan ke fase El Nino, di mana suplai jagung ini akan jadi masalah," katanya.

















