Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Memori Gambar Bergerak, Upaya Mengarsipkan Film Sulselbar yang Tercecer

Kota Makassar
5 min read
Memori Gambar Bergerak, Upaya Mengarsipkan Film Sulselbar yang Tercecer
Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" yang digelar oleh kolektif Akaruku Arsipfilm pada 25-27 September 2026. (dok. Akaruku Arsipfilm)
  • Akaruku menggelar Memori Gambar Bergerak di Makassar pada 25–27 September 2026, memutar 10 film pendek termasuk “Memburu Harimau” untuk menyoroti pentingnya arsip film Sulselbar.
  • Pengarsipan film pendek di Sulselbar masih minim meski produksi independen berkembang. Pengumpulan Akaruku pada April–Agustus 2026 menghadapi kendala perizinan, kepemilikan karya, harddisk lama, dan metadata.
  • Akaruku memetakan ekosistem sinema Sulselbar melalui katalog 2006–2026, menemukan geliat komunitas serta karya yang terancam hilang, dan mengajak publik menyumbang data arsip.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times — Pencahayaan minim (low-key lighting), lorong-lorong kota yang kumuh, embusan asap rokok, serta aksi kejar-kejaran yang diselingi letupan senjata api menjadi estetika khas film noir, genre kriminal yang populer di Hollywood era 1940-an hingga 1950-an. Di kancah nasional, Joko Anwar pernah mempopulerkan genre ini lewat "Kala" (2007). Namun, tak tahukah Anda bahwa sineas Makassar juga pernah melahirkan karya bergenre serupa?

Pada 2012, sutradara Arman Dewarti merilis film pendek noir berjudul "Memburu Harimau." Cerita berpusat pada dinamika hubungan Sinar (Andriew Parinussa), seorang polisi pemburu kriminal, dan istrinya, Raya (Uchi Sagita), yang terlibat cinta segitiga dengan seorang bandit bernama Timoer (Sese Lawing). Film ini menyajikan konflik emosional yang kelam disertai pergulatan batin para karakternya.

Karya legendaris ini kembali diputar dalam gelaran Memori Gambar Bergerak yang diinisiasi oleh kolektif-arsiparis film lokal, Akaruku, di Rumata' Artspace pada 25–27 September 2026 lalu. Sekitar 30 penonton yang hadir dibuat terpukau oleh sajian visual "Memburu Harimau", reaksi decak kagum yang sama persis seperti saat film tersebut diluncurkan pertama kali 14 tahun lalu di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie.

Penayangan Memburu Harimau dan 9 pendek lain yang diputar selama 3 hari acara menjadi pemicu diskusi yang lebih luas mengenai kondisi ekosistem dan urgensi pengarsipan perfilman di kawasan Indonesia Timur, khususnya Sulselbar. Erika Rachma Aprilia, peneliti dari Akaruku, membeberkan catatan penting terkait kondisi pengarsipan film di wilayah ini.

  1. 1. Belum ada upaya pengarsipan film pendek yang dilakukan secara serius di Sulselbar

    Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" pada 25-27 September 2026.
    Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" yang digelar oleh kolektif Akaruku Arsipfilm pada 25-27 September 2026. (dok. Akaruku Arsipfilm)

    Ekosistem perfilman di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menghadapi paradoks yang memprihatinkan. Di satu sisi, produksi film independen berkembang masif sebagai medium ekspresi autentik. Di sisi lain, upaya pengarsipan yang sistematis dan berkelanjutan masih sangat minim.

    "Ekosistem perfilman di Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, menghadapi paradoks yang memprihatinkan. Di satu sisi, wilayah ini memiliki dinamika kreatif yang kaya melalui produksi film pendek independen. Di sisi lain, upaya pengarsipan yang sistematis dan berkelanjutan masih sangat minim, padahal amanat pelestarian film sebagai dokumen budaya telah diatur dalam UU Perfilman," ungkap Erika kepada IDN Times pada hari Minggu (27/9/2026) lalu.

    Erika menjelaskan bahwa Jawa telah memiliki Sinematek Indonesia sejak 1975, sedangkan Indonesia Timur belum memiliki satu pun lembaga pengarsipan film yang memadai. Menurutnya, pemfokusan pada film sangat strategis karena lepas dari tekanan komersial sehingga lebih jujur merefleksikan konteks lokal.

  2. 2. Proses pengumpulan film dilakukan kolektif Akaruku pada April-Agustus 2026

    Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" pada 25-27 September 2026.
    Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" yang digelar oleh kolektif Akaruku Arsipfilm pada 25-27 September 2026. (dok. Akaruku Arsipfilm)

    Proses pengumpulan arsip film oleh Akaruku berlangsung sejak April hingga Agustus 2026 di berbagai daerah, seperti Makassar, Parepare, Barru, Ajatappareng, Takalar, Polewali Mandar, hingga Majene. Selain Erika, turut pula 4 peneliti utama yang tersebar di 3 daerah. Ada Khaeril Umam di Polman, Shany Kasysaf di Parepare, kemudian Arif Maulana dan Mizan Asyuni di Makassar. Namun, perjalanan mereka dipenuhi berbagai tantangan teknis maupun administrasi.

    "Hambatan lain yang dihadapi adalah kerumitan perizinan dan kejelasan status kepemilikan karya. Di samping itu, kendala teknis seperti arsip pembuat film yang sulit mengakses data dari harddisk lama membuat proses pengumpulan seringkali terhambat atau berujung pada janji yang tidak terealisasi," ujar Erika.

    Selain masalah data rusak, Akaruku juga harus merumuskan tata kelola legal yang kredibel untuk membangun kepercayaan sineas. Alhasil, mereka membutuhkan waktu ekstra dalam menyelaraskan metadata film yang tersebar di berbagai daerah.

  3. 3. Akaruku mendapat beberapa temuan menarik, salah satunya geliat komunitas film di Polman

    Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" pada 25-27 September 2026.
    Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" yang digelar oleh kolektif Akaruku Arsipfilm pada 25-27 September 2026. (dok. Akaruku Arsipfilm)

    Dari proses pendataan di lapangan, tim peneliti Akaruku menemukan berbagai dinamika menarik. Mulai dari bergeliatnya komunitas film di Polewali-Mandar (Polman) pascapandemi, potret isu sensitif "uang panaik" karya sutradara perempuan Ulfiani di Makassar, hingga fungsi film pendek bagi mahasiswa.

    "Film di UKM Esa UIN Alauddin menjadi jalan mahasiswa untuk bersuara terkait isu kampus, sebab bersuara langsung berarti harus siap dengan potensi mendapat sanksi drop out," tutur Erika membeberkan salah satu temuan uniknya.

    Peneliti juga melacak jejak sinema di wilayah Ajatappareng seperti Pinrang, Sidrap, dan Parepare. Namun, tidak semua karya berhasil diselamatkan. Di Kareem Production Parepare misalnya, dari 10 portofolio karya, hanya 7 yang berhasil diindeks karena sisanya terikat kontrak komersial atau berkasnya sudah rusak.


  4. 4. Akaruku memetakan ekosistem sinema Sulselbar secara utuh melalui buku "Memori Gambar Bergerak"

    Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" pada 25-27 September 2026.
    Suasana acara "Memori Gambar Bergerak" yang digelar oleh kolektif Akaruku Arsipfilm pada 25-27 September 2026. (dok. Akaruku Arsipfilm)

    Inisiasi yang dilakukan Akaruku bukan sekadar pengumpulan berkas lama. Mereka sedang berusaha memetakan ekosistem sinema Sulselbar secara utuh sekaligus memicu pertanyaan reflektif perihal identitas film daerah.

    Acara Memori Gambar Bergerak sendiri tak hanya berisi pameran foto-foto di balik layar dan pemutaran 10 film. Turut pula diskusi bersama para sineas serta peluncuran buku "Memori Gambar Bergerak", produk utama dari upaya Akaruku merupakan katalog film Sulselbar pada 2006-2026. Buku tersebut juga akan disebar ke sejumlah komunitas perfilman dan lembaga film di Sulselbar, serta mendapat dukungan penuh dari sutradara kondang Riri Riza, anggota Kelompok Kerja (Pokja) Pelestarian Film dari Badan Perfilman Indonesia (BPI). Riri Riza turut hadir pada hari kedua helatan ini untuk mengulas buku tersebut.

    "Pameran ini pada akhirnya adalah potongan gambar yang belum selesai. Untuk itu, Akaruku juga mengajak pengunjung pameran untuk ikut terlibat menyumbangkan data agar arsip ini berkelanjutan, meski yang teringat hanyalah sepotong judul, nama sutradara, atau secarik sinopsis. Karena Akaruku sedang merawat memori kolektif agar tidak terlupakan," pungkas Erika.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More