Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pabrik Pakan Diminta Tahan Harga hingga Telur Tembus Rp24 Ribu

Kota Makassar
Pabrik Pakan Diminta Tahan Harga hingga Telur Tembus Rp24 Ribu
Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait keberlangsungan usaha peternak dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Makassar, Kamis (13/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Pabrik pakan dan integrator sepakat menahan kenaikan harga pakan hingga harga telur peternak mencapai Rp24.000 per kilogram, sambil menunggu penetapan harga oleh pemerintah.
  • Peternak Sulsel merugi Rp3.000-Rp4.000 per rak karena harga telur di bawah biaya produksi, sementara konsentrat naik menjadi Rp9.000-Rp9.500 per kilogram.
  • DPRD Sulsel meminta Bulog dan Pemprov menggelar operasi pasar, memperketat pengawasan harga, serta mendorong konsumsi telur; peternak memberi pemerintah tenggat 14 hari untuk kebijakan konkret.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Pabrik pakan ternak diminta menahan kenaikan harga pakan ayam petelur hingga harga telur di tingkat peternak mencapai Rp24.000 per kilogram. Kesepakatan tersebut muncul dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait keberlangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulawesi Selatan, Kamis (13/8/2026). 

Komisi B DPRD Sulsel, Zulfikar Limolang, mengatakan pihak integrator dan penyedia pakan ternak sepakat tidak menaikkan harga. Kesepakatan itu berlaku sebelum pemerintah menetapkan harga pakan.

"Pertama, pihak integrator beberapa penyedia pakan ternak sepakat mengikuti instruksi untuk tidak menaikkan harga pakan selama belum ada harga yang ditetapkan oleh pemerintah," kata Zulfikar.

Kesepakatan tersebut menjadi salah satu respons terhadap keluhan peternak ayam petelur yang sebelumnya menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Sulsel pada Senin (10/8/2026). Mereka bahkan membagikan telur dan ayam kepada pengendara sebagai bentuk protes atas kondisi usaha peternakan yang dinilai semakin terpuruk.

Peternak mengeluhkan harga pakan yang terus meningkat, sementara harga telur berada di bawah biaya produksi. Kondisi itu membuat peternak mengaku mengalami kerugian sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per rak telur.

  1. 1. DPRD minta Bulog operasi pasar

    IMG-20260813-WA0202.jpg
    Sekretaris Komisi B DPRD Sulsel, Zulfikar Limolang, menyampaikan hasil Rapat Dengar Pendapat terkait keberlangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Selain menahan harga pakan, Komisi B DPRD Sulsel juga meminta Bulog bersama Pemprov Sulsel menggelar operasi pasar untuk membantu menjaga harga telur. Zulfikar mengatakan peternak juga diminta berkoordinasi dengan Satgas Pangan di tingkat kabupaten/kota serta kepolisian untuk mengontrol harga telur di pasaran.

    "Kita minta Bulog dengan pemerintah provinsi untuk operasi pasar," katanya.

    Komisi B DPRD Sulsel juga meminta pengawasan terhadap harga telur diperketat di tingkat daerah. Peternak diminta berkoordinasi dengan Satgas Pangan dan kepolisian untuk memantau harga telur yang beredar di pasaran.

    "Nanti kita minta teman-teman peternak di Sulsel berkoordinasi dengan Satgas Pangan di tingkat daerah Kabupaten koordinasi dengan Polres untuk mengontrol terkait dengan harga telur yang ada di pasaran," katanya. 

    Usulan lainnya yakni menggelar kampanye konsumsi telur. Kampanye ini diharapkan dapat mendorong penyerapan produksi peternak lokal.

  2. 2. Peternak minta harga pakan tidak lagi naik

    IMG_20260813_131844.jpg
    Basuki Suyuti, peternak ayam petelur asal Sulsel, diwawancarai usai Rapat Dengar Pendapat terkait keberlangsungan usaha peternak dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Peternak Sulsel, Basuki Suyuti, mengatakan kesepakatan dalam RDP tersebut diharapkan menjadi langkah awal. Setidaknya kesepakatan itu  dapat menekan biaya produksi peternak.

    Menurutnya, harga pakan saat ini masih berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp9.500 per kilogram untuk konsentrat. Padahal, harga normal yang diterima peternak sebelumnya sekitar Rp8.000 per kilogram.

    "Harusnya dalam waktu dekat ini sudah ada komitmen dari pabrik pakan untuk tidak menaikkan lagi harga pakan sampai telur menyentuh level Rp24.000 per kilogram atau setara dengan Rp44.000-Rp45.000 per rak," kata Basuki.

  3. 3. Pabrik pakan diminta koreksi kenaikan harga

    IMG_20260810_121907.jpg
    Peternak menggelar Aksi Damai Peternak Rakyat Sulawesi di depan Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Senin (10/8/2026). IDN Times/Istimewa

    Basuki mengatakan ada usulan agar sejumlah pabrik pakan mengevaluasi kenaikan harga. Terutama untuk harga yang sudah terlanjur tinggi.

    "Untuk beberapa pabrik pakan untuk mengevaluasi yang sudah terlanjur naik tinggi, untuk mengoreksi kembali di mana level kenaikannya yang diharapkan sebagai bentuk simpatinya kepada rekanannya kita sebagai peternak dalam kondisi harga telur yang belum ini," katanya. 

    Basuki menjelaskan pakan konsentrat menyumbang sekitar 35 persen dari komposisi pakan peternak. Sementara komposisi lainnya terdiri dari jagung sekitar 50 persen dan dedak 15 persen.

    "Jadi yang kita minta diturunkan ini sebenarnya dari pabrik pakan adalah minta diturunkan kembali atau ditahan tidak naik karena ini menyumbang 35 persen biaya pakan. Harapannya juga moga-moga hal ini segera bisa teratasi," katanya. 

    Penurunan atau penahanan harga konsentrat dinilai dapat membantu menekan biaya produksi peternak. Upaya tersebut diharapkan meringankan beban peternak di tengah harga telur yang masih rendah.

    Sebelumnya, peternak memberikan waktu 14 hari kepada pemerintah untuk mengambil kebijakan konkret terkait persoalan industri ayam petelur. Jika tidak ada langkah yang dinilai mampu menjawab persoalan mereka, maka mereka mengancam menggelar aksi yang lebih besar dan tetap konstitusional.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More