Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Seberapa Siap Drainase di Makassar Hadapi Musim Hujan?

Kota Makassar
4 min read
Seberapa Siap Drainase di Makassar Hadapi Musim Hujan?
Pengerukan drainase di sejumlah titik rawan genangan di Kota Makassar sebagai upaya mengantisipasi banjir menjelang musim hujan. (Dok. Pemkot Makassar)
  • Hujan deras kembali memicu genangan di sejumlah ruas Makassar, termasuk A.P. Pettarani, setelah kemarau panjang hampir delapan bulan.
  • Satgas Drainase menemukan hambatan aliran berupa pelat manhole jatuh, sampah, serta memantau pintu air untuk mencegah luapan kanal.
  • Dinas PU mengeruk sedimentasi dan membersihkan saluran, sementara Pemkot menjajaki teknologi penyedot air Jepang yang masih dievaluasi kesesuaiannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Setelah melewati kemarau panjang, hujan menjadi sesuatu yang dinantikan warga Kota Makassar. Setelah hampir 8 bulan kemarau, hujan deras akhirnya mengguyur pada Selasa (27/10/2026). Hari ini, Selasa (3/11/2026), hujan kembali mengguyur kota ini. 

Namun, hal ini justru menyisakan persoalan. Dalam waktu singkat, sejumlah ruas jalan tergenang, termasuk Jalan A.P. Pettarani, yang beberapa tahun terakhir kerap menjadi titik langganan banjir di kota ini. 

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran tersendiri. Jika hujan yang turun hanya dalam beberapa jam sudah menyebabkan genangan, maka bagaimana ketika Makassar memasuki puncak musim hujan dengan intensitas dan frekuensi hujan yang lebih tinggi?

Persoalan ini bukan semata-mata soal banyaknya air yang turun dari langit. Kemampuan saluran drainase menampung dan mengalirkan air juga menjadi penentu. Saluran yang tersumbat sampah, sedimentasi, maupun kerusakan infrastruktur dapat membuat air tertahan dan meluap ke jalan.

Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) sebenarnya masih menggencarkan pengerukan dan pembersihan drainase sebagai langkah antisipasi banjir. Namun, genangan yang muncul setelah hujan deras menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah penanganan banjir belum sepenuhnya selesai.

  1. 1. Sejumlah ruas jalan tetap tergenang saat hujan

    Petugas mengeruk endapan pada drainase di titik rawan genangan Kota Makassar untuk mengantisipasi banjir musim hujan.
    Pengerukan drainase di sejumlah titik rawan genangan di Kota Makassar sebagai upaya mengantisipasi banjir menjelang musim hujan. (Dok. Pemkot Makassar)

    Kepala Bidang Drainase Dinas PU Kota Makassar, Luqmanul Hakim, mengatakan pihaknya langsung mengerahkan satuan tugas (satgas) drainase untuk memantau kondisi saluran air saat hujan mengguyur Makassar. Hal ini untuk mengidentifikasi titik-titik genangan sekaligus memastikan aliran air tetap lancar.

    Pemantauan tersebut menyasar sejumlah ruas jalan, di antaranya Jalan Urip Sumoharjo depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Jalan A.P. Pettarani, Jalan Andi Djemma, Jalan Nusantara, dan Jalan Sulawesi. Dari hasil pemantauan, petugas menemukan beberapa lokasi yang mengalami genangan dan membutuhkan penanganan.

    "Di Jalan Boulevard depan Hypermart, genangan disebabkan karena pelat manhole yang jatuh sehingga menghambat aliran air. Kejadian ini langsung ditindaklanjuti oleh satgas drainase dengan mengangkat pelat tersebut," kata Luqmanul kepada IDN Times, Selasa (3/11/2026).

    Selain kerusakan infrastruktur, petugas juga menemukan banyak sampah yang menghambat aliran air di dalam saluran. Petugas turut memantau kondisi pintu air untuk mengantisipasi kemungkinan luapan air dari kanal ke saluran tersier.

  2. 2. Sampah dan kerusakan saluran jadi kendala aliran air

    Ilustrasi sampah. (IDN Times/Yuko Utami)
    Ilustrasi sampah. (IDN Times/Yuko Utami)

    Setelah hujan reda, Dinas PU kembali membersihkan saluran drainase di sejumlah titik. Pembersihan tersebut menyasar Jalan Raya Pendidikan, Jalan Yusuf Dg. Ngawing, dan beberapa lokasi lainnya.

    Langkah tersebut untuk memastikan aliran air tidak kembali terhambat. Sebab, sampah yang menumpuk di dalam drainase dapat mengurangi kelancaran aliran, terutama ketika debit air meningkat saat hujan deras.

    Luqmanul mengatakan upaya menjaga drainase tetap berfungsi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Menurutnya, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya perlu terus dibangun agar sampah tidak masuk ke saluran air.

    "Tentunya peran aktif dari masyarakat juga dibutuhkan terutama dalam membudayakan membuang sampah pada tempatnya, sehingga sampah tidak lagi terbuang ke saluran," katanya. 

  3. 3. Pemkot gencarkan pengerukan dan jajaki teknologi dari Jepang

    Kendaraan penyedot air dan penyemprot bertekanan tinggi dari Jepang didemonstrasikan di kanal Makassar.
    Demonstrasi kendaraan penyedot air dan penyemprot bertekanan tinggi dari Jepang di kanal depan Dankeslap TNI AD, Jalan Gunung Bawakaraeng, Makassar, Selasa (27/10/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

    Sebelumnya, Dinas PU Makassar juga menggencarkan pengerukan drainase di sejumlah wilayah untuk mengantisipasi banjir pada musim hujan. Pembersihan sedimentasi bertujuan menjaga kapasitas saluran dan memperlancar aliran air.

    Di sisi lain, Pemkot Makassar mulai menjajaki pemanfaatan teknologi kendaraan penyedot air dan penyemprot bertekanan tinggi dari Jepang. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bahkan telah meninjau demonstrasi penggunaan kendaraan tersebut di kanal depan Dankeslap TNI AD, Jalan Gunung Bawakaraeng, Selasa (27/10/2026).

    Penjajakan itu berlangsung melalui kerja sama antarkota antara Makassar dan Yokohama, Jepang, yang difasilitasi Nippon Koei Co., Ltd. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat penanganan genangan, menyedot air, serta membersihkan sedimentasi dan sampah yang menyumbat saluran, termasuk drainase tertutup.

    "Ke depan, alat ini diharapkan bisa membantu mengantisipasi banjir dan genangan. Dengan begitu, penanganan air di kanal maupun selokan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif," kata Munafri.

    Meski demikian, demonstrasi tersebut masih menjadi tahap awal untuk mengevaluasi kesesuaian teknologi dengan kondisi drainase di Makassar. Pemkot perlu menilai efektivitas, kebutuhan operasional, dan manfaatnya sebelum menentukan pemanfaatan lebih lanjut.

    "Kota Makassar memiliki banyak saluran, termasuk yang tertutup. Karena itu, kita membutuhkan alat yang bisa membantu proses penyedotan dan pembersihan secara lebih maksimal, sehingga persoalan sampah dan sedimentasi di saluran dapat ditangani dengan lebih baik," ungkapnya.

Related Articles

See More