Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inflasi Makassar Tertinggi di Sulsel, Harga Cabai Rawit Jadi Pemicu

Kota Makassar
3 min read
Inflasi Makassar Tertinggi di Sulsel, Harga Cabai Rawit Jadi Pemicu
Pedagang cabai melayani pembeli di pasar tradisional. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi/)
  • Makassar mencatat inflasi tahunan tertinggi di Sulawesi Selatan pada Oktober 2026, sebesar 4,55 persen, melampaui inflasi provinsi 4,24 persen.
  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Sulsel; cabai rawit memberi andil tertinggi 0,49 persen, diikuti emas perhiasan dan daging ayam ras.
  • Inflasi bulanan Sulsel pada Oktober 2026 mencapai 0,57 persen, dipicu terutama cabai rawit, tomat, dan cabai merah; inflasi kumulatif Januari-Oktober tercatat 3,81 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Kota Makassar mencatat inflasi tahunan tertinggi di Sulawesi Selatan pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat inflasi year on year (y-on-y) Makassar mencapai 4,55 persen, lebih tinggi dibandingkan angka inflasi provinsi yang sebesar 4,24 persen.

Kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat, terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau, menjadi salah satu penyumbang inflasi. Komoditas cabai rawit tercatat memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Sulsel, disusul emas perhiasan dan daging ayam ras.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Sulsel yang dirilis Senin (2/11/2026), inflasi tahunan di Sulsel mengalami kenaikan dibandingkan September 2026 yang sebesar 3,75 persen. Sementara itu, inflasi bulanan pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,57 persen.

  1. 1. Inflasi Makassar tertinggi di Sulsel

    ilustrasi inflasi
    ilustrasi inflasi (IDN Times/Aditya Pratama)

    BPS Sulsel mencatat inflasi year on year di Makassar mencapai 4,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,89. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara delapan kabupaten/kota yang menjadi cakupan penghitungan IHK di Sulsel.

    Setelah Makassar, inflasi tahunan tertinggi berikutnya tercatat di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 4,29 persen, Kabupaten Luwu Timur 4,01 persen, dan Kabupaten Wajo 3,93 persen.

    Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Kabupaten Bulukumba sebesar 2,86 persen. Adapun Watampone mencatat inflasi 3,63 persen, Kota Parepare 3,66 persen, dan Kota Palopo 2,99 persen.

    Secara keseluruhan, Sulsel mengalami inflasi tahunan sebesar 4,24 persen dengan IHK 113,44. Angka tersebut meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 2,98 persen.

  2. 2. Cabai rawit paling besar menyumbang inflasi

    pasar badung 3.jpeg
    Ilustrasi pedagang cabai, bawang, dan sembako lainnya di pasar tradisional. (IDN Times/Yuko Utami)

    BPS Sulsel mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 7,71 persen. Kelompok ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum Sulsel, yakni 2,39 persen.

    Sejumlah komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan di antaranya cabai rawit sebesar 0,49 persen, emas perhiasan 0,25 persen, daging ayam ras 0,17 persen, dan bensin 0,15 persen.

    Selain itu, ikan layang atau ikan benggol memberikan andil 0,14 persen. Cabai merah dan minyak goreng masing-masing menyumbang 0,13 persen, disusul nasi dengan lauk sebesar 0,13 persen.

    Komoditas lainnya yang turut memberikan andil inflasi adalah ikan bandeng atau ikan bolu sebesar 0,11 persen, tomat 0,09 persen, serta sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,09 persen.

  3. 3. Inflasi bulanan Sulsel mencapai 0,57 persen

    Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana
    Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana

    Selain inflasi tahunan, Sulsel juga mengalami inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,57 persen pada Oktober 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi bulanan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,10 persen.

    BPS mencatat cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,13 persen. Berikutnya tomat sebesar 0,12 persen dan cabai merah sebesar 0,07 persen.

    Ikan bandeng atau ikan bolu turut memberikan andil sebesar 0,05 persen, disusul daging ayam ras sebesar 0,04 persen. Sementara itu, labu siam, wortel, angkutan udara, jeruk nipis, dan jagung manis juga masuk dalam daftar komoditas penyumbang inflasi bulanan.

    Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Oktober 2026, inflasi Sulsel tercatat sebesar 3,81 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang sebesar 2,42 persen.

Related Articles

See More