Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

NTP Sulsel Oktober 2026 Naik 0,57 Persen, Hortikultura Melonjak Tinggi

Kota Makassar
3 min read
NTP Sulsel Oktober 2026 Naik 0,57 Persen, Hortikultura Melonjak Tinggi
Ilustrasi petani tengah beraktivitas di sawah. IDN Times/Riyanto.
  • NTP gabungan Sulawesi Selatan naik 0,57 persen pada Oktober 2026, dari 125,94 menjadi 126,66, karena indeks harga yang diterima petani meningkat lebih tinggi daripada harga yang dibayar.
  • Hortikultura menjadi pendorong utama dengan NTP melonjak 16,62 persen menjadi 159,36, dipicu kenaikan harga sayuran 17,62 persen; tanaman pangan juga naik tipis 0,39 persen.
  • Tiga subsektor melemah: perkebunan rakyat turun 1,48 persen, peternakan 1,05 persen, dan perikanan 0,50 persen; sementara NTUP Sulsel menguat 0,52 persen menjadi 132,42.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

MAKASSAR, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat daya beli petani atau Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan di Sulawesi Selatan mengalami kenaikan sebesar 0,57 persen pada bulan Oktober 2026. Kenaikan ini didorong utamanya oleh melonjaknya angka NTP pada subsektor hortikultura.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Sulsel yang dirilis pada Senin (2/11/2026), angka NTP Sulsel naik dari 125,94 pada September 2026 menjadi 126,66 pada Oktober 2026. Peningkatan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami lonjakan yang lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar oleh petani.

Nilai Tukar Petani (NTP) sendiri merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, yang menjadi salah satu indikator penting untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi, di mana semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Berikut adalah rincian mendalam mengenai perkembangan indikator kesejahteraan petani di Sulsel selama Oktober 2026.

  1. 1. Sektor hortikultura melonjak signifikan mendongkrak kesejahteraan

    WhatsApp Image 2026-05-31 at 09.17.38.jpeg
    Ilustrasi petani tembakau. (Dok. Istimewa)

    Dari lima subsektor pertanian yang dipantau oleh BPS, subsektor hortikultura mencatatkan peningkatan NTP paling fantastis. Angka NTP Hortikultura (NTPH) melesat hingga 16,62 persen, yakni dari posisi 136,65 pada bulan sebelumnya menjadi 159,36 pada Oktober 2026.

    Lonjakan tajam ini dipicu oleh meroketnya indeks harga yang diterima petani pada kelompok sayur-sayuran sebesar 17,62 persen. Selain itu, komoditas pendukung seperti tanaman obat-obatan dan buah-buahan turut mencatatkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 1,81 persen dan 1,49 persen.

  2. 2. Pergerakan beragam pada sektor tanaman pangan hinga perikanan

    ilustrasi petani cabai
    ilustrasi petani cabai (pexels.com/Danang DKW)

    Selain hortikultura, subsektor tanaman pangan (NTPP) turut mencatatkan pertumbuhan positif tipis sebesar 0,39 persen dari 117,46 menjadi 117,91. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan indeks harga kelompok palawija sebesar 2,52 persen serta kelompok padi yang merangkak naik 0,01 persen.

    Kendati demikian, tiga subsektor lainnya justru mengalami koreksi atau penurunan daya beli secara bulanan. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) turun 1,48 persen menjadi 156,21, Subsektor Peternakan (NTPT) melemah 1,05 persen menjadi 104,53, dan Subsektor Perikanan (NTNP) terkoreksi 0,50 persen menjadi 127,41.

  3. 3. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) ikut menguat

    Riyanto
    Ilustrasi petani tengah beraktivitas di sawah. IDN Times/Riyanto.

    Sejalan dengan pergerakan NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Sulsel pada bulan Oktober 2026 juga mencatatkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 0,52 persen. Angka NTUP bergerak dari posisi 131,73 pada bulan September naik menjadi 132,42 pada bulan Oktober 2026.

    Sebagai catatan, NTUP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal. Penguatan ini menunjukkan bahwa pendapatan petani masih lebih unggul dibandingkan dengan kenaikan biaya operasional dan Biaya Produksi serta Penambahan Barang Modal (BPPBM) yang secara umum mengalami kenaikan tipis sebesar 0,22 persen.

Related Articles

See More