Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Wilda Yanti Salam Merawat Ingatan Pangan Sulsel melalui Esai

Kota Makassar
6 min read
Cara Wilda Yanti Salam Merawat Ingatan Pangan Sulsel melalui Esai
Wilda Yanti Salam, peneliti dan penulis esai bertema pangan tradisional Sulawesi Selatan. (dok. Pribadi)
  • Peneliti dan penulis Wilda Yanti Salam mengangkat pangan Sulawesi Selatan sebagai arsip budaya melalui buku, dokumenter Pacukka, dan kolektif Memodapur.

  • Risetnya menyoroti krisis kedaulatan pangan: pertanian bergantung pada input pabrikan, sementara sagu dan pangan lokal tertekan oleh ekonomi cepat serta stigma sosial.

  • Memodapur mengajak anak muda mempelajari pangan lewat metode kreatif, sekaligus menegaskan makanan sebagai relasi dengan alam, pengetahuan leluhur, dan pilihan bernilai politik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Bagi kebanyakan orang, sepiring makanan kerap hanya dipandang sebagai pengisi perut yang dicerna tiga kali sehari. Namun, bagi Wilda Yanti Salam, tumpukan beras, perasan sagu, hingga olahan bumbu tradisional di dapur adalah arsip hidup yang merekam sejarah, ingatan kolektif, dan relasi manusia dengan tanah kelahirannya.

Perempuan asal Sulawesi Selatan ini mendedikasikan waktunya sebagai peneliti dan penulis yang konsisten mengulik kaitan erat antara pangan dan budaya. Lewat buku esainya Kisah Kasih dari Dapur (Penerbit Partikular, 2024), serial dokumenter Pacukka (2024), hingga kolektif Memodapur yang ia bidani, Wilda berupaya mengembalikan makanan ke dalam diskursus kebudayaan yang selama ini didominasi oleh tari-tarian atau seni pertunjukan konvensional.

  1. 1. Wilda Yanti Salam meneliti makanan dari sudut pandang budaya

    Penulis dan peneliti pangan Sulsel, Wilda Yanti Salam (depan, paling kiri), saat menjadi bagian dari tim produksi serial dokumenter Pacukka.
    Penulis dan peneliti pangan Sulsel, Wilda Yanti Salam (depan, paling kiri), saat menjadi bagian dari tim produksi serial dokumenter Pacukka. (dok. Pribadi)

    Keakraban Wilda dengan dunia pangan sejatinya tumbuh sejak kecil. Tumbuh besar di kampung halamannya, Luwu Timur, dengan ibunya yang mengelola warung makan, bahan-bahan segar melimpah adalah pemandangan sehari-hari baginya. Baru ketika merantau ke Makassar dan berinteraksi di ruang-ruang komunitas sosial-budaya, matanya terbuka lebar. Piring makan kita ternyata menyimpan banyak isu yang jarang dibicarakan.

    "Kalau bicara tentang kebudayaan, seringnya pasti yang konvensional seperti tarian atau musik. Makanan jarang sekali dilihat sebagai bagian dari kebudayaan dan susah sekali menemukan arsip atau bahan bacaannya. Itu menjadi titik awal saya memilih untuk meneliti isu ini," kenang Wilda kepada IDN Times pada Rabu (28/10/2026).

  2. 2. Wilda menemukan fakta bahwa terjadi krisis kedaulatan pangan di tingkat akar rumput

    Salah satu kegiatan kelompok belajar Memodapur yang membahas isu-isu pangan Sulawesi Selatan.
    Salah satu kegiatan kelompok belajar Memodapur yang membahas isu-isu pangan Sulawesi Selatan. (dok. Pribadi)

    Meneliti pangan lokal selama beberapa tahun terakhir juga membawa Wilda pada kenyataan pahit tentang krisis kedaulatan di tingkat akar rumput. Pangan lokal Sulawesi Selatan berkarakter slow food di mana bahan bakunya butuh waktu berbulan-bulan untuk dipanen secara alami. Sayangnya, sistem ekonomi hari ini menuntut segala hal diukur secara serba cepat dan bernilai tukar uang. Akibatnya, budaya bertani bergeser drastis. Petani kini bergantung pada bibit hibrida pabrikan, pupuk kimia, serta pestisida yang serba dibeli.

    "Sagu itu butuh waktu tiga hingga enam bulan lebih untuk dipanen, tidak seperti padi irigasi yang cuma butuh satu hingga tiga bulan. Sementara itu, petani dan komunitas dihadapkan kepada bahan pangan itu hanya dilihat dari nilainya yang bisa ditukar dengan uang atau nilai ekonomi," jelas penulis yang pernah diundang sebagai pembicara di Makassar International Writers Festival 2025 dan Ubud Writers Readers Festival 2025 tersebut.


  3. 3. Terjadi pergeseran makna bahwa makanan tertentu identik dengan status sosial

    ilustrasi beras, bahan baku makanan
    ilustrasi beras, bahan baku makanan (unsplash.com/Nathan Cima)

    Masih ada fakta lain yang didapatkan Wilda selama meneliti makanan dan pangan Sulsel. Stigma sosial soal beras lebih baik dari sagu itu terjadi dan dialami oleh banyak keluarga passambe (pengolah sagu) di Luwu. Ini lantaran beras dianggap sebagai simbol status sosial yang lebih tinggi. Kondisi tersebut makin diperparah oleh absennya kebijakan konkrit pemerintah dalam menjamin ketersediaan pangan lokal di pasar. Sementara buah-buah impor dipasok melimpah dengan harga terjangkau, pangan lokal yang kaya nutrisi justru sulit diakses dan dibiarkan mahal.

    "Sekarang kita bisa membeli beras Rp13 ribu hingga Rp18 ribu per liter, sedangkan kita bisa membeli sagu dengan harga tiga kali lipat lebih murah. Pangan lokal memiliki potensi untuk dilestarikan dan dilihat memiliki nilai ekonomi. Tapi, jika dilihat lagi dari konteks budayanya, pasambe sebagai orang yang bisa mengolah bahan baku sagu itu justru dianggap sebagai orang miskin dan beras justru dianggap lebih baik dari sagu. Jadi layer-layer ekonomi dan budayanya perlu dilihat," ungkap Wilda.

  4. 4. Wilda menyebut bahwa makanan cepat saji mengikis relasi manusia dengan sumber pangannya

    Penulis dan peneliti pangan Sulsel, Wilda Yanti Salam, saat menjadi pembicara di Ubud Writers Readers Festival 2025.
    Penulis dan peneliti pangan Sulsel, Wilda Yanti Salam (paling kanan), saat menjadi pembicara di Ubud Writers Readers Festival 2025. (dok. Ubud Writers & Readers Festival/Ega Putra)

    Di tengah gempuran makanan cepat saji dan produk instan yang seragam di perkotaan, Wilda menyimpan kecemasan mendalam. Menurutnya, penetrasi junk food tidak cuma mengubah apa yang dikonsumsi oleh tubuh, melainkan memutus keterikatan emosional manusia dengan sumber pangannya.

    Ketika seseorang mengonsumsi makanan instan, ia tidak lagi tahu siapa yang menanam bahannya, bagaimana ia diproduksi, dan dari tanah mana ia berasal. Ketidakpedulian inilah yang membuat masyarakat modern acuh terhadap kerusakan ekologis di hilir.

    "Kita tidak berbicara tentang pangannya saja, tapi juga berbicara tentang relasi kita dengan alam, dengan orang-orang yang menanamnya. Contohnya kenapa kita tidak merasa tanaman sawit itu berbahaya dan merusak karena kita sudah hidup di era di mana makanan itu serba digoreng sehingga minyak goreng dibutuhkan. Padahal banyak sumber tanaman dan pohon yang menghasilkan bahan pangan lain yang lebih sehat, ramah lingkungan dan sama ramahnya untuk tubuh kita," paparnya.


  5. 5. Mendirikan Memodapur sebagai kelompok belajar pangan untuk anak muda

    Salah satu kegiatan kelompok belajar Memodapur yang membahas isu-isu pangan Sulawesi Selatan.
    Salah satu kegiatan kelompok belajar Memodapur yang membahas isu-isu pangan Sulawesi Selatan. (dok. Pribadi)

    Berangkat dari minimnya ruang belajar mengenai kebudayaan pangan, Wilda bersama rekan-rekannya mendirikan kolektif Memodapur pada tahun 2019. Lewat wadah ini, mereka mengajak anak muda memandang pangan bukan sekadar komoditas pariwisata atau wisata kuliner (food tourism), melainkan sebagai sumber pengetahuan dan ruang kritis.

    "Waktu itu belum banyak komunitas di Sulawesi Selatan yang membahas tentang makanan. Tapi memang yang mendasari kami membentuknya karena belum ada ruang untuk belajar isu makanan dan pangan, serta melihatnya dari aspek kebudayaan. Banyak komunitas makanan, tapi pendekatannya lebih dari aspek tourism. Kita mau agar anak muda bisa belajar tentang isu pangan dan menganggapnya juga sebagai pengetahuan," katanya.

  6. 6. Yakin bahwa isu pangan bisa dikemas dengan cara relevan untuk Gen Z

    Dua buku kumpulan esai yang ditulis oleh Wilda Yanti Salam, Kisah Kasih dari Dapur dan Keliling Dapur Tujuh Kali.
    Dua buku kumpulan esai yang ditulis oleh Wilda Yanti Salam, Kisah Kasih dari Dapur (kiri) dan Keliling Dapur Tujuh Kali (kanan). (dok. Penerbit Partikular)

    Memodapur juga menjadi salah satu cara Wilda memutus stigma bahwa isu pangan lokal itu "kuno" dan berat. Ia secara sadar mengeksplorasi pelbagai medium yang relevan bagi Gen Z. Buku esainya dirancang tipis dengan sampul yang meriah dan visual yang memikat agar tidak mengintimidasi pembaca muda.

    Pendekatan serupa ia terapkan saat memproduksi serial dokumenter Pacukka yang merekam tradisi pengasaman kuliner di Sulsel serta lokakarya memasak dan pembuatan zine. Menurutnya, generasi muda tidak bisa terpaku dengan pola pembelajaran satu arah atau sikap senioritas.

    "Model belajar kita sekarang lebih playful. Kita harus berani mengeksplorasi metode yang cocok dengan cara anak muda agar mereka merasa terlibat dan tidak takut untuk belajar," ujar penulis yang baru saja merilis buku kumpulan esai keduanya, Keliling Dapur Tujuh Kali (Penerbit Partikular).


  7. 7. Belajar 'labor of love' pengolahan makanan sebagai tim penyelenggara Festival Budaya Kaluppini

    Penulis dan peneliti pangan Sulsel, Wilda Yanti Salam, saat menjadi bagian dari tim penyelenggara Festival Budaya Kaluppini.
    Penulis dan peneliti pangan Sulsel, Wilda Yanti Salam (paling kanan), saat menjadi bagian dari tim penyelenggara Festival Budaya Kaluppini di Kabupaten Enrekang. (dok. Pribadi)

    Sejak 2024, perempuan 27 tahun tersebut menjadi bagian dari tim penyelenggara Festival Budaya Kaluppini yang berlangsung di Desa Adat Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang. Salah satu kegiatan dalam acara dua tahunan tersebut adalah melihat dari dekat cara penduduk setempat mengolah makanan dengan kearifan lokal.

    Keterlibatan Wilda dalam Festival Budaya Kaluppini memberikannya pengalaman batin yang mendalam tentang bagaimana warga setempat memperlakukan alam dan menjaga keaslian bumbu tanpa zat aditif buatan. Dari sana, ia belajar memahami makna makanan melampaui rasa, melainkan sebagai bentuk kerja penuh cinta dan penghormatan kepada leluhur.

    "Di situ saja belajar bahwa jika belajar pangan dan budaya, kita tidak lagi meromantisasi kebudayaan atau cara-cara memasak itu. Saya belajar di sana bahwa makna makanan lebih dari itu. Kita berbicara tentang labor of love dari orang-orang yang memasak, tentang bagaimana kita memperlakukan alam di sekitar kita, tentang bagaimana kita memperlakukan orang-orang tua yang memasak untuk kita,” ungkap sosok yang pernah menjadi asisten kurator Makassar Biennale 2021 tersebut.


  8. 8. Yakin bahwa makanan memiliki nilai filosofis sebagai sikap politik

    Salah satu kegiatan kelompok belajar Memodapur yang membahas isu-isu pangan Sulawesi Selatan.
    Salah satu kegiatan kelompok belajar Memodapur yang membahas isu-isu pangan Sulawesi Selatan. (dok. Pribadi)

    Bagi Wilda pribadi, setiap suapan yang masuk ke mulut kita adalah sebuah sikap politik. Ketika seseorang memilih untuk menyantap sagu atau olahan lokal lainnya, ia tidak sekadar memenuhi kebutuhan fisik. Hal tersebut juga menjadi upaya merawat ingatan tentang kampung halaman dan melestarikan pengetahuan leluhur agar tidak lenyap ditelan zaman.

    "Berbicara tentang makanan, kita berbicara tentang alam dan manusianya. Alam yang menyediakan dan menumbuhkan itu semua, dan tentang manusia yang berusaha mengolah apa yang disediakan," pungkasnya.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More