Makassar Masih Jadi Magnet Utama Investasi di Sulsel

- Realisasi investasi Sulsel Januari-September 2026 mencapai Rp15,275 triliun, dengan Makassar menyerap Rp5,003 triliun atau 32,80 persen dari total.
- Makassar, Luwu, dan Luwu Timur menyumbang 72,57 persen investasi Sulsel, menunjukkan penanaman modal masih terkonsentrasi pada tiga daerah tersebut.
- Pemprov Sulsel mendorong industri pengolahan dan konektivitas infrastruktur antardaerah; capaian investasi saat ini setara 67,56 persen dari target tahunan Rp22,580 triliun.
Makassar, IDN Times - Pusat pertumbuhan investasi di Sulawesi Selatan (Sulsel) masih terkonsentrasi di sejumlah daerah. Kota Makassar menjadi magnet utama penanaman modal, sementara daerah lain masih berupaya mengoptimalkan potensi ekonominya untuk menarik investor.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulsel menunjukkan, realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp15,275 triliun. Namun, persebarannya belum sepenuhnya merata.
Makassar menempati posisi pertama dengan nilai investasi Rp5,003 triliun atau 32,80 persen dari total realisasi investasi Sulsel. Artinya, hampir sepertiga penanaman modal yang masuk ke provinsi ini terkonsentrasi di ibu kota.
Kabupaten Luwu menyusul dengan investasi Rp3,050 triliun atau 19,99 persen. Tidak jauh berbeda, Kabupaten Luwu Timur mencatatkan Rp3,018 triliun atau 19,78 persen.
Sementara itu, Kabupaten Maros berada di posisi keempat dengan Rp1,114 triliun atau 7,30 persen. Kota Palopo melengkapi lima besar dengan investasi Rp411,995 miliar atau 2,70 persen.
Jika digabungkan, Makassar, Luwu, dan Luwu Timur menyumbang sekitar 72,57 persen dari total investasi Sulsel selama sembilan bulan pertama 2026. Kondisi ini memperlihatkan bahwa aktivitas penanaman modal masih bertumpu pada tiga daerah tersebut.
1. Makassar masih menjadi tujuan utama investor

Ilustrasi investasi (Foto: IDN Times) Dominasi Makassar tidak terlepas dari karakteristiknya sebagai pusat perdagangan dan jasa. Aktivitas ekonomi, infrastruktur, serta fasilitas pendukung usaha membuat kota ini memiliki daya tarik tersendiri bagi investor.
Kepala DPMPTSP Sulsel, Asrul Sani, mengakui bahwa realisasi investasi di Makassar memang cenderung besar dari tahun ke tahun. Kontribusinya terutama berasal dari sektor jasa, termasuk perumahan dan transportasi.
"Jadi ada pemerataan, pengembangan. Nah, kan memang di Makassar ini kan kota jasa memang kalau kita mau melihat kan memang bertumpu di sini. Dari tahun ke tahun memang besar di Makassar," kata Asrul saat ditemui di Kantor DPMPTSP Sulsel, Senin (2/11/2026).
Namun, besarnya investasi di Makassar juga memperlihatkan tantangan pemerataan ekonomi antardaerah. Daerah yang memiliki potensi pertanian, perikanan, maupun sumber daya alam belum tentu mampu menarik investasi dalam skala yang sama.
Padahal, potensi ekonomi Sulsel tersebar di berbagai wilayah. Persoalannya bukan hanya bagaimana menghasilkan komoditas unggulan, tetapi juga bagaimana menghadirkan industri pengolahan agar nilai tambah ekonominya dapat dinikmati di daerah asal produksi.
"Kita sudah berdiskusi semuanya untuk teman-teman kabupaten kota bagaimana kita mendorong pemerataan tadi. Khususnya untuk pengolahan industri pengolahan sesuai dengan komoditas unggulannya," kata Asrul.
2. Potensi daerah belum cukup tanpa industri pengolahan
.jpg)
Ilustrasi industri pabrik (IDN Times/Arief Rahmat) Pemprov mendorong kabupaten dan kota mengembangkan industri pengolahan sesuai karakteristik komoditas unggulan masing-masing. Dengan begitu, daerah tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga memiliki aktivitas industri yang mampu menggerakkan ekonomi setempat.
Asrul mengatakan pembagian potensi wilayah sebenarnya telah tercantum dalam perencanaan pembangunan jangka panjang. Ada daerah yang diarahkan sebagai kawasan pertanian dan tanaman pangan, sementara daerah lainnya memiliki potensi perikanan.
"Kita berharap di daerah itu ada industri-industri pengolahannya supaya bertumbuh daerahnya," katanya.
Menurutnya, pembangunan industri pengolahan perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sektor primer. Selama ini, sejumlah daerah memiliki sumber daya alam yang besar, tetapi belum seluruhnya ditopang fasilitas pengolahan di wilayahnya sendiri.
Kondisi tersebut membuat peluang investasi tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Investor juga membutuhkan kepastian infrastruktur, akses distribusi, serta efisiensi biaya produksi.
Karena itu, Pemprov Sulsel mendorong pembangunan infrastruktur yang menghubungkan daerah penghasil dengan kawasan industri. Salah satunya melalui proyek pembangunan jalan multiyears.
"Ini untuk menginterkoneksikan antara daerah-daerah penghasil dengan daerah-daerah industri," jelas Asrul.
Dia berharap konektivitas tersebut dapat menekan biaya transportasi dan produksi. Dengan begitu, kawasan di luar Makassar diharapkan memiliki daya tarik lebih besar bagi investor.
3. Infrastruktur dan pengembangan kota kecil jadi tantangan

Ilustrasi Infrastruktur jalan. (IDN Times/Arief Rahmat) Selain akses transportasi, pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi baru juga membutuhkan infrastruktur pendukung. Asrul menilai pembangunan tidak seharusnya hanya terpusat di Makassar, tetapi perlu diarahkan ke daerah lain yang telah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan.
Dia mencontohkan Toraja dan Luwu Timur yang masuk dalam perencanaan pengembangan kota kecil. Wilayah tersebut diharapkan memiliki infrastruktur memadai agar aktivitas ekonomi dan investasi dapat tumbuh.
"Pemerintah pusat berharap itu ada infrastruktur pendukungnya di sana supaya bertumbuh-bertumbuh kotanya. Jangan hanya bertumbuh di Makassar, tapi ada juga bertumbuh di daerah-daerah lain," kata Asrul.
Data investasi Januari hingga September 2026 memperlihatkan tantangan tersebut masih perlu dijawab. Meski Luwu dan Luwu Timur mampu menempati posisi kedua dan ketiga, kontribusi investasi di daerah lainnya masih terpaut cukup jauh.
"Kita juga berharap bahwa daerah-daerah yang punya potensi yang besar itu juga mendorong industri-industri untuk pengolahan supaya daerahnya juga bisa berkembang," kata Asrul.
Adapun dari total investasi Sulsel sebesar Rp15,275 triliun. Capaian tersebut baru mencapai 67,56 persen dari target tahunan Rp22,580 triliun.




















