Demo Krisis Air Bersih di PDAM Palopo Ricuh, 10 Mahasiswa Dipukul

Aksi mahasiswa menuntut penyelesaian krisis air bersih di Kota Palopo berakhir ricuh dan menyebabkan 10 peserta mengalami dugaan pemukulan.
GAM Luwu Raya mendesak evaluasi manajemen PDAM serta kompensasi bagi masyarakat yang terdampak krisis air bersih.
GAM mempertanyakan minimnya pengawalan polisi dan berkomitmen mengawal dugaan kekerasan tersebut hingga tuntas.
Makassar, IDN Times - Aksi unjuk rasa menuntut penyelesaian krisis air bersih di Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel), berakhir ricuh. Sebanyak 10 mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) menjadi korban pemukulan oleh sejumlah pegawai PDAM.
Insiden tersebut terjadi di depan Kantor Perumda Tirta Mangkaluku (PDAM) Kota Palopo, Kelurahan Murante, Kecamatan Mungkajang, Senin (2/11/2026) sekitar pukul 11.27 Wita. Sebagai bentuk protes, mahasiswa membakar ban bekas dan membentangkan spanduk bertuliskan "Air Tidak Mengalir dan Pembayaran Terus Mengalir".
1. Massa Demo Krisis Air Bersih, Tagih Tanggung Jawab PDAM

Demonstrasi berujung ricuh di PDAM Palopo, Sulawesi Selatan, Senin (2/11/2026). Dok. Istimewa Panglima Besar GAM Luwu Raya, Fajar Wasis, mengatakan, kericuhan bermula saat massa aksi menggelar demonstrasi disertai teatrikal di depan gerbang kantor PDAM. Situasi yang awalnya berlangsung tertib kemudian memanas hingga berujung aksi kekerasan terhadap peserta demonstrasi.
"Massa aksi 16 orang, yang dipukul 10 orang. Dipukul bagian perut, leher sama kepala, ada yang sampai benjol kepalanya. Tujuh di antaranya sudah divisum," kata Fajar kepada IDN Times.
Fajar menyebut, aksi unjuk rasa tersebut merupakan bentuk protes mahasiswa terhadap persoalan distribusi air bersih yang tak kunjung tuntas di Kota Palopo. Massa menilai masyarakat dirugikan karena pasokan air bersih tidak mengalir sebagaimana mestinya. Namun, kewajiban pelanggan untuk membayar tagihan air tetap berjalan.
Dalam demonstrasi itu, GAM menyampaikan dua tuntutan utama. Pertama, mendesak evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan kinerja Perumda Tirta Mangkaluku Kota Palopo.
Kedua, meminta pihak PDAM memberikan kompensasi kepada masyarakat yang terdampak krisis air bersih.
2. Situasi Memanas, 10 Mahasiswa Alami Luka-luka

(Ilustrasi pengeroyokan) IDN Times/Sukma Shakti Fajar mengungkapkan, awalnya peserta aksi menyampaikan aspirasi secara bergantian melalui orasi di depan kantor PDAM. Namun, kondisi berubah setelah diduga terjadi tindakan represif terhadap massa demonstrasi.
Menurutnya, tindakan tersebut kemudian diikuti sejumlah orang lainnya yang mengenakan seragam dinas PDAM hingga terjadi pemukulan terhadap peserta aksi.
Ia pun mengecam keras dugaan kekerasan tersebut. Ia menilai tindakan terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi merupakan bentuk pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat di muka umum.
"Tindakan represif yang terjadi saat aksi unjuk rasa di PDAM Kota Palopo merupakan bentuk pembungkaman terhadap kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum sekaligus mencederai nilai-nilai demokrasi," tegasnya.
3. GAM Soroti Pengawalan Polisi, Siap Kawal Kasus hingga Tuntas

Ilustrasi Polisi. (IDN Times/Anjani Asra) Selain mengecam dugaan pemukulan, Fajar juga mempertanyakan minimnya pengawalan aparat kepolisian selama demonstrasi berlangsung.
Menurutnya, kehadiran polisi sangat dibutuhkan untuk memastikan penyampaian aspirasi berjalan aman dan tidak berujung pada bentrokan.
"Pihak kepolisian memiliki tanggung jawab untuk mengawal jalannya aksi unjuk rasa. Namun, fakta di lapangan menunjukkan minimnya pengawalan dari aparat kepolisian. Kondisi ini patut dipertanyakan, mengingat pengawalan tersebut sangat penting untuk memastikan aksi berjalan aman dan tertib," ujarnya.
Fajar menegaskan, GAM tidak akan membiarkan dugaan kekerasan terhadap anggotanya berlalu begitu saja. Pihaknya berkomitmen mengawal persoalan tersebut hingga pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban.
"Kami sesama kader GAM memiliki ikatan persaudaraan dan janji perjuangan yang sama. Ketika salah satu dari kami mengalami tindakan represif saat memperjuangkan hak-hak masyarakat, maka itu menjadi tanggung jawab kita bersama," jelasnya.
Dikonfirmasi, Direktur Utama Perumda Tirta Mangkaluku, Steven Hamdani, menjelaskan aksi demonstrasi sebenarnya dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 Wita berdasarkan surat pemberitahuan yang diterima pihaknya. Namun, massa disebut sudah menggelar aksi sekitar pukul 11.00 Wita.
"Massa tidak hanya berorasi, tetapi juga membakar ban bekas tepat di depan gerbang kantor PDAM. Kondisi tersebut membuat mobil tangki kesulitan keluar masuk untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat," kata Steven dalam keterangan tertulisnya.
Karena massa datang lebih awal, distribusi air bersih yang sebelumnya sudah dijadwalkan, kata Steven, ikut terganggu. Sejumlah warga dan pegawai PDAM bersama anggota TNI kemudian meminta demonstran memadamkan api agar mobil tangki tetap bisa beroperasi. Namun, permintaan tersebut disebut tidak mendapat respons.
Ketegangan semakin meningkat ketika satu unit mobil tangki hendak keluar dari area kantor. Sejumlah demonstran disebut berusaha menghalangi kendaraan tersebut.
Seorang petugas keamanan (security) PDAM yang mencoba mencegah tindakan itu diklaim mendapat perlakuan tidak pantas dari pengunjuk rasa. Situasi kemudian memanas hingga terjadi perselisihan antara sejumlah pegawai, warga, dan massa aksi.
"Beberapa saat kemudian, sejumlah pegawai PDAM dan warga bersama pengunjuk rasa terlibat bersitegang yang tak dapat terhindarkan. Bentrokan dipemicu kekesalan warga karena aktivitas demonstrasi dianggap menghambat pengiriman air bersih yang sedang mereka butuhkan," jelasnya.





















