PDAM Palopo Buka Suara soal Kericuhan Demo Krisis Air Bersih

PDAM Kota Palopo menyebut kericuhan saat aksi GAM Luwu Raya dipicu terganggunya distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.
Massa disebut datang lebih awal dan membakar ban di depan kantor, sehingga mobil tangki kesulitan keluar masuk.
PDAM mengakui distribusi belum maksimal akibat penurunan debit sumber air, tetapi mengklaim pelayanan tetap dilakukan hingga 24 jam.
Makassar, IDN Times - Perumda Tirta Mangkaluku (PDAM) Kota Palopo buka suara terkait kericuhan yang terjadi saat aksi unjuk rasa Gerakan Aksi Mahasiswa (GAM) Luwu Raya di depan kantornya, Senin (2/11/2026). Pihak PDAM menyebut bentrokan dipicu ketegangan antara pegawai, warga, dan demonstran akibat terganggunya distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.
Direktur Utama Perumda Tirta Mangkaluku, Steven Hamdani, menjelaskan aksi demonstrasi sebenarnya dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 Wita berdasarkan surat pemberitahuan yang diterima pihaknya. Namun, massa disebut sudah menggelar aksi sekitar pukul 11.00 Wita.
"Massa tidak hanya berorasi, tetapi juga membakar ban bekas tepat di depan gerbang kantor PDAM. Kondisi tersebut membuat mobil tangki kesulitan keluar masuk untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat," kata Steven dalam keterangan tertulisnya.
1. PDAM Sebut Mobil Tangki Terhalang Massa

Demonstrasi berujung ricuh di PDAM Palopo, Sulawesi Selatan, Senin (2/11/2026). Dok. Istimewa Steven mengatakan pembakaran ban juga menghasilkan asap yang mengganggu aktivitas pelayanan administrasi masyarakat di kantor PDAM. Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan tim satuan tugas (satgas) untuk menghentikan sementara pelayanan pada pukul 14.00 Wita agar aksi demonstrasi dapat berlangsung.
Namun, karena massa datang lebih awal, distribusi air bersih yang sebelumnya sudah dijadwalkan justru ikut terganggu. Sejumlah warga dan pegawai PDAM bersama anggota TNI kemudian meminta demonstran memadamkan api agar mobil tangki tetap bisa beroperasi. Namun, permintaan tersebut disebut tidak mendapat respons.
Ketegangan semakin meningkat ketika satu unit mobil tangki hendak keluar dari area kantor. Sejumlah demonstran disebut berusaha menghalangi kendaraan tersebut.
Seorang petugas keamanan (security) PDAM yang mencoba mencegah tindakan itu diklaim mendapat perlakuan tidak pantas dari pengunjuk rasa. Situasi kemudian memanas hingga terjadi perselisihan antara sejumlah pegawai, warga, dan massa aksi.
"Beberapa saat kemudian, sejumlah pegawai PDAM dan warga bersama pengunjuk rasa terlibat bersitegang yang tak dapat terhindarkan. Bentrokan dipemicu kekesalan warga karena aktivitas demonstrasi dianggap menghambat pengiriman air bersih yang sedang mereka butuhkan," jelasnya.
2. PDAM Akui Distribusi Air Bersih Belum Maksimal

ilustrasi air bersih (unsplash.com/Getty Images) Steven menyayangkan kericuhan yang terjadi. Dia berharap semua pihak dapat menahan diri, terlebih persoalan air bersih merupakan kebutuhan mendasar masyarakat. Dia mengakui pelayanan distribusi air melalui jaringan pipa belum maksimal. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau berkepanjangan yang menyebabkan debit sumber air menurun drastis.
"Kami menyadari bahwa mungkin distribusi air belum sempurna ke masyarakat akibat debit air yang memang menurun drastis. Tetapi upaya maksimal yang memang bisa kami lakukan, kami lakukan secara terus-menerus," kata Steven.
Berdasarkan data PDAM, penurunan produksi terjadi pada sejumlah instalasi pengolahan air minum (IPAM). Dari lima instalasi yang dimiliki, penurunan produksi rata-rata mencapai 65 hingga 80 persen. IPAM Latuppa mengalami penurunan produksi sekitar 70 persen. Sementara IPAM Mangkaluku turun hingga 80 persen dan harus dibantu sistem pompanisasi.
Adapun produksi IPAM Magandang berkurang sekitar 65 persen. Sementara IPAM Bambalu dan Batupapan masih memiliki produksi yang relatif lebih stabil, tetapi harus menopang kebutuhan wilayah pelayanan lainnya.
Kondisi tersebut membuat PDAM mengandalkan mobil tangki untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
3. PDAM Klaim Pelayanan Dibuka 24 Jam

ilustrasi air bersih (pexels.com/Pixabay) Steven menegaskan pihaknya tidak pernah berniat menahan distribusi air bersih apabila ketersediaan debit air mencukupi.
Dia juga menyebut usulan masyarakat mengenai pemanfaatan air laut dan air tanah telah dikaji. Namun, dengan mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kekurangannya, pemanfaatan air permukaan dinilai masih menjadi pilihan paling realistis.
"Kami dari PDAM bukan pihak yang anti kritik. Justru masukan yang positif dan membangun tanpa adanya kepentingan lainnya menjadi cambuk bagi kami untuk terus berbenah," ujarnya.
Dia berharap masyarakat tetap dapat menyampaikan kritik tanpa mengganggu pelayanan distribusi air bersih.
Steven bahkan mengklaim sejumlah pegawai PDAM harus bekerja hingga 24 jam, termasuk melayani distribusi air sampai dini hari demi memenuhi kebutuhan warga.
"Kami tidak butuh pujian, kami hanya berharap kita dapat sama-sama memahami di tengah keterbatasan yang ada," tutupnya.

















