Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Esti Suryani)
Peta intensitas guncangan PSGS menunjukkan wilayah di sekitar episenter berpotensi mengalami intensitas MMI VII hingga VIII. Pada tingkat tersebut, bangunan non-rekayasa maupun konstruksi berkualitas rendah berisiko mengalami kerusakan ringan sampai sedang.
Laporan awal yang beredar melalui media sosial juga mengindikasikan adanya kerusakan bangunan, gangguan infrastruktur jalan, serta dugaan longsor di sejumlah lereng curam di wilayah Palolo dan sekitarnya. Namun, PSGS menekankan seluruh laporan tersebut masih memerlukan verifikasi lapangan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu warga meninggal dunia akibat gempa pada Selasa. Jumlah warga terdampak dan kerusakan bangunan masih terus bertambah seiring proses pendataan di lapangan. Hingga Selasa malam, tercatat 110 kepala keluarga (KK) atau 312 jiwa terdampak akibat bencana tersebut. Sebanyak 25 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat. Satu korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Kabupaten Sigi, wilayah dengan dampak paling besar.
Pendataan kerusakan bangunan juga mengalami peningkatan seiring bertambahnya laporan dari daerah terdampak. Hingga saat ini, sedikitnya 67 unit rumah dilaporkan terdampak akibat gempa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 unit rumah mengalami rusak ringan, enam unit rusak sedang, dan 12 unit rusak berat. Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi penghubung Palu–Sigi–Poso yang mengalami amblas.
Dari sudut pandang geoteknik dan kebencanaan, PSGS mengingatkan sejumlah potensi bahaya sekunder pascagempa yang perlu diwaspadai masyarakat. Ancaman tersebut meliputi longsor pada lereng curam, rockfall atau runtuhan batuan di tebing jalan, retakan permukaan pada zona sesar aktif, kerusakan infrastruktur transportasi dan utilitas, serta gempa susulan yang masih mungkin terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa pekan ke depan.
PSGS merekomendasikan investigasi lapangan segera untuk mengidentifikasi kemungkinan deformasi permukaan, retakan tanah, longsoran terpicu gempa, serta kerusakan struktural bangunan dan infrastruktur. Data tersebut dinilai penting untuk memahami mekanisme sumber gempa sekaligus memperkuat strategi mitigasi bencana di Sulawesi Tengah.
"Saat ini tim Pusat Studi Gempa Sulawesi terus melakukan pemantauan perkembangan gempa susulan dan akan menyampaikan pembaruan analisis setelah tersedia data yang lebih lengkap dari BMKG, USGS, PUSGEN, dan hasil observasi lapangan," kata Ardy.