Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Sukma Shakti)
Ardy mengatakan Indonesia juga berada di lingkungan tektonik aktif dengan sumber gempa dari zona subduksi, sesar geser aktif, dan patahan bersegmen. Karena itu, skenario earthquake doublet bukan hal yang mustahil terjadi di Tanah Air.
Beberapa sistem sesar aktif seperti Sesar Palu–Koro, Sesar Sumatra, dan zona subduksi Sunda dinilai memiliki karakteristik rupture bersegmen yang memungkinkan pelepasan energi secara berurutan.
Menurut Ardy, kondisi ini membuka ruang penelitian baru terkait perilaku bangunan terhadap multiple strong ground motions, terutama di wilayah dekat sumber gempa.
Ia menilai standar ketahanan gempa Indonesia melalui SNI 1726:2019 saat ini masih berbasis pada satu kejadian gempa rencana (single design earthquake). Padahal, fenomena gempa kembar menunjukkan adanya skenario pembebanan ekstrem yang belum banyak dikaji.
“Fenomena seperti earthquake doublet, multi-segment rupture, dan near-fault ground motion perlu menjadi bagian dari agenda penelitian nasional agar standar perencanaan, teknologi konstruksi, dan sistem mitigasi kita semakin tangguh dalam menghadapi gempa-gempa besar di masa mendatang,” kata Ardy.