PPIH Makassar Perketat Tes Kehamilan Jemaah Haji, Pemeriksaan Urin Berlapis

- PPIH Embarkasi Makassar memperketat pemeriksaan kesehatan jemaah wanita usia subur dengan tes urin dua kali untuk memastikan tidak ada yang berangkat dalam kondisi hamil.
- Selain tes urin, jemaah wajib mengisi data siklus menstruasi guna mendeteksi kehamilan lebih akurat dan mencegah risiko kesehatan di suhu ekstrem Arab Saudi.
- Jemaah yang terdeteksi hamil akan diminta menunda keberangkatan demi keselamatan ibu dan janin, seperti kasus seorang jemaah asal Soppeng yang diketahui hamil 10 minggu.
Makassar, IDN Times - Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar memperketat prosedur pemeriksaan kesehatan bagi jemaah, khususnya wanita usia subur (WUS). Langkah ini diambil untuk menekan risiko komplikasi serius akibat kehamilan yang tidak terdeteksi sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
Kebijakan tersebut diterapkan dengan melakukan pemeriksaan urin secara berlapis, yakni dua kali, guna memastikan tidak ada jemaah yang berangkat dalam kondisi hamil tanpa terdeteksi.
1. Pemeriksaan berlapis untuk cegah risiko saat ibadah haji

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Sulawesi Selatan yang juga Ketua PPIH Embarkasi Makassar, Ikbal Ismail, mengatakan pemeriksaan tunggal dinilai belum cukup efektif. Hal ini karena ada kemungkinan kondisi kehamilan belum terdeteksi pada tahap awal.
Ia menjelaskan, hormon kehamilan atau human chorionic gonadotropin (hCG) terkadang belum terbaca pada fase sangat dini, termasuk pada kasus kehamilan samar (cryptic pregnancy). Karena itu, PPIH menerapkan pemeriksaan ulang jika hasil pertama meragukan.
“Kami tidak ingin ada jemaah perempuan yang mengalami risiko kesehatan serius di Arafah atau Mina akibat kehamilan yang tidak terdeteksi. Jika hasil tes pertama meragukan, akan langsung diulang dengan alat berbeda dan diverifikasi petugas medis perempuan,” ujar Ikbal.
2. Wajib isi data siklus menstruasi

Selain pemeriksaan urin, PPIH juga mewajibkan WUS mengisi surat pernyataan terkait siklus menstruasi terakhir. Data ini digunakan sebagai pembanding untuk mendeteksi kemungkinan kehamilan secara lebih akurat.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya preventif berdasarkan evaluasi penyelenggaraan haji sebelumnya. Kasus keguguran dan pendarahan pada jemaah hamil muda tercatat menjadi salah satu penyebab evakuasi darurat non-infeksi di Mina dan Arafah.
Dalam kondisi suhu ekstrem di Arab Saudi yang bisa mencapai 48 derajat Celsius, perempuan hamil berisiko mengalami dehidrasi hingga kelelahan berat. Kondisi tersebut bahkan bisa berujung pada syok akibat pendarahan.
3. Jemaah hamil direkomendasikan tunda keberangkatan

PPIH menegaskan, jemaah yang terdeteksi hamil akan direkomendasikan untuk menunda keberangkatan demi keselamatan ibu dan janin. Kebijakan ini dilakukan sebagai langkah perlindungan kesehatan selama pelaksanaan ibadah haji.
Dalam proses pemeriksaan di Asrama Haji Sudiang, seorang jemaah asal Kabupaten Soppeng bernama Sabriati (32) terdeteksi hamil dengan usia kandungan sekitar 10 minggu.
Dengan kebijakan ini, PPIH berharap seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan aman dan terhindar dari risiko kesehatan yang dapat membahayakan selama berada di Tanah Suci.


















