Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Kampili, Syahruddin saat mengoperasikan mesin pompa air berbasis listrik PLN. (Dok. PLN UID Sulselrabar)
Ia mencatat sebelum menggunakan listrik, dalam satu kali siklus panen para petani menghabiskan total Rp360 juta untuk membeli gas LPG. Sedangkan saat menggunakan listrik PLN para petani hanya mengeluarkan biaya Rp51 juta per panen.
"Artinya terdapat penghematan biaya operasional untuk menjalankan mesin pompa air adalah sebesar Rp309 juta atau 85,8 persen dalam satu kali panen," tutur Syahruddin.
Hal senada juga disampaikan Muhammad Ali, salah satu petani di Desa Limpua, Kabupaten Bone yang turut merasakan manfaat positif dari program Electrifying Agriculture PLN. Sebelum menggunakan listrik, dalam satu bulan dia harus mengeluarkan biaya Rp1 juta untuk membeli solar yang nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar mesin pompa air diesel.
"Sekarang setelah menggunakan listrik dengan daya 23 kVA saya hanya mengeluarkan biaya Rp300 ribu per bulannya untuk mengairi sawah saya," ungkapnya. Dirinya turut merasakan manfaat positif setelah menggunakan listrik, penggunaan listrik terbukti dapat menghemat biaya operasional sampai 70 persen.